Langkah Yuta yang sedang melintasi ruang serbaguna menuju ke lemari sepatu yang ada di foyer Guest House terhenti saat dia melihat Jeje tertidur di sofa panjang yang ada di sana. Yuta tidak jadi meneruskan niatnya untuk mengambil sepatu olahraga miliknya dan malah berbelok ke arah sofa yang ditiduri oleh Jeje.
"Noona.... Jeje Noona.... Bangun...." panggil Yuta sambil menepuk pelan lengan Jeje yang tertidur di sofa panjang di ruang serba guna. Belum ada pergerakan yang ditunjukkan oleh Jeje sebagai respon dari tindakan Yuta. Pemuda kelahiran Jepang itu lalu melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah jam setengah empat. Setengah jam lagi mereka akan berangkat ke stasiun TV untuk melaksanakan pre recording. Tidak mungkin Yuta membiarkan Jeje tetap tertidur meskipun dia tahu, dari cerita Doyoung dan Jungwoo, bahwa Jeje meninggalkan Guest House setelah live perdana mereka selesai untuk menjenguk Jisung yang dirawat di rumah sakit.
Setelah menimbang beberapa saat, Yuta lantas beranjak dari ruang serbaguna. Memberikan waktu beberapa menit lagi bagi Jeje untuk beristirahat. Yuta berjalan menuju dapur, menyeduhkan segelas teh herbal yang baru dikirimkan oleh ibunya dari Osaka kemudian membawa secangkir teh herbal tersebut kembali ke ruang serbaguna.
"Jeje Noona.... Sudah hampir jam empat.... Kita harus bersiap untuk berangkat...." Yuta kembali mencoba untuk membangunkan Jeje yang masih tidur. Kali ini dia membangunkan Jeje dengan berbisik dekat di telinga sang manajer.
Ide yang bagus, karena Jeje langsung membuka kedua matanya.
Yuta segera menjauhkan wajahnya.
"Jangan langsung bangun, Noona.... Nanti kepalamu pusing...." ucap Yuta.
Jeje pun menggeliat perlahan. Satu menit setelah mengumpulkan kesadarannya baru Jeje bangun dan merubah posisi tubuhnya menjadi duduk di samping Yuta.
"Astaga.... Padahal Noona hanya berniat untuk memejamkan mata sejenak...." ucap Jeje sambil memijit pelipisnya.
Yuta terkekeh pelan. Dia mendekatkan cangkir teh yang dia bawa kepada Jeje.
"Wajar kalau Noona kelelahan. Itu manusiawi. Aku justru akan merasa sangat aneh kalau Noona masih terlihat segar setelah semalam mengemudi bolak-balik dari sini ke Seoul untuk melihat Jisung..."
Jeje tersenyum kikuk. Selain Taeyong yang melihat dia kembali dengan S.Coups dini hari tadi, apakah yang lain masih berpikir kalau dia berangkat sendirian ke Seoul ? Haruskah dia menjelaskan bahwa dia tidak sendirian semalam saat menjenguk Jisung ?
Kenapa dia harus merasa gugup seperti ini ?
"Noona tidak berangkat sendirian...."
Yuta spontan menolehkan pandangannya ke arah Jeje.
"Heh ??? Noona pergi dengan siapa ? Dengan Jio ?"
"Denganku.... Kenapa ?"
Baik Jeje maupun Yuta refleks mengangkat kepala mereka. Tampak sosok S.Coups berdiri di ujung koridor kamar dengan ruang serbaguna. Satu tangannya memegang gelas yang masih mengepulkan asap.
Yuta mengangkat ujung bibirnya ke atas. Dia berdiri dari sofa kemudian berjalan mendekati leader Seventeen tersebut.
"Tidak apa-apa.... Hanya bertanya saja.... Terima kasih untuk pertolongan sunbaenim pada Jeje Noona semalam.... Tapi untuk seterusnya, biar kami saja yang akan menemani Jeje Noona. Terutama jika itu ada kaitannya dengan anggota NCT...." Yuta mengucapkan kalimat terakhir dengan nada yang pelan, hanya bisa didengar oleh keduanya. Setelah dia selesai bicara, dia berjalan melewati S.Coups dan dengan sengaja mendorong pelan bahu S.Coups.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALL GOOD (SEVENTEEN X NCT 127)
FanfictionAll Good, proyek yang dibesut oleh dua agensi besar Korea Selatan untuk meredakan perseteruan antara dua idol group yang berada di bawah asuhan mereka. 22 pria akan tinggal di bawah satu atap yang sama dalam waktu satu tahun. Apakah proyek ini mampu...
