Setelah mengakhiri dengan buru-buru panggilan Jio yang masuk ke nomor ponselnya, Jeje bergegas keluar dari ruang ganti tersebut. S.Coups menyusul di belakang Jeje. Tapi karena langkah S.Coups yang lebih lebar dari langkah kaki Jeje, pria bermarga Choi itu tiba lebih dulu di depan pintu ruang ganti yang digunakan oleh anggota Seventeen dan Ilichil lalu menghempaskannya dengan sedikit kasar. Keduanya tidak menghiraukan pandangan heran sekaligus terkejut yang dilemparkan oleh para anggota yang melihat keduanya datang dalam waktu yang cukup berdekatan, bahkan bisa dibilang bersamaan.
Pemandangan yang didapati oleh Jeje setelah dia bisa mencapai daun pintu yang sudah dibuka secara paksa oleh S.Coups adalah Yuta dan Jun yang berdiri di tengah-tengah ruangan. Dua kubu terbagi. Yang satu berdiri di belakang Yuta, dan yang lain berdiri di belakang Jun. Di antara Yuta dan Jun berdiri Joshua yang sedang merentangkan kedua tangannya. Sepertinya, sebelum S.Coups dan Jeje datang, Joshua lah yang berusaha untuk melerai keduanya.
"Ada apa ini?" tanya Jeje. Dia berjalan cepat, menggantikan posisi Joshua untuk berdiri di antara Jun dan Yuta yang masih melemparkan tatapan nyalang satu sama lain. Dia masih menyempatkan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, memeriksa apakah ada orang lain selain para anggota di dalam ruangan itu. Untung saja, selain mereka yang ada di dalam ruangan itu, sepertinya Jio sudah mengungsikan para staf dan kru ke tempat lain.
"Kalian berdua tidak punya mulut ya?" S.Coups menukas tajam karena baik Yuta maupun Jun tidak ada yang mau buka mulut.
"Kita bicara di tempat lain saja...." putus Jeje akhirnya. Masalah apapun yang terjadi di antara Jun dan Yuta, Jeje berpendapat kalau masalah itu harus diselesaikan sesegera mungkin. Jika tidak, takutnya masalah itu akan berpengaruh pada performa mereka saat tampil nanti.
"Tidak perlu, Noona.... Aku tidak mau bicara dengannya" sahut Yuta. Dia hendak pergi meninggalkan ruang ganti itu tapi Jeje dengan cepat menahan tangan Yuta.
Mungkin, karena Yuta masih tersulut dengan emosi, dia malah menyentakkan tangan Jeje sampai gadis itu terhuyung-huyung ke belakang. Untung masih ada Joshua yang menahan tubuh Jeje sehingga gadis itu tidak sampai tersungkur di lantai.
"YUTAAAA !!!!!" seru Taeyong. Setelah berteriak memperingatkan Yuta seperti itu, Taeyong lantas berjalan menghampiri Jeje.
"Noona.... Gwaenchanha?" tanya Taeyong.
Jeje menganggukkan kepalanya.
"Noona tidak apa-apa.... Jangan berteriak seperti itu pada Yuta...."
S.Coups yang melihat perlakuan Yuta pada Jeje langsung menghampiri Yuta lalu mendorong bahu pemuda itu.
"Kau ada masalah apa sih? Kenapa bertingkah seperti itu?"
"Dude.... Dia tidak sengaja. Chill in, okay?" Johnny berdiri di antara S.Coups dan Yuta. Membuat S.Coups mengetatkan rahangnya menahan amarah.
"Jeje Noona benar. Kalian berempat bicaralah di tempat lain." Taeil sebagai yang paling tua di antara mereka membuka suara. Dia mengirimkan kode pada Taeyong supaya membawa Yuta pergi dari ruangan yang sangat pekat dengan aura permusuhannya ini.
"Coups-ah.... Bawa Jun juga bersamamu. Biar aku yang mengatasi situasi di sini" tambah Joshua.
Taeyong lantas mendekat ke arah Yuta, memegangi pergelangan tangannya.
"Kau masih menghargaiku sebagai pemimpinmu kan? Kalau iya, ayo ikut aku...."
Dengan ancaman seperti itu, Yuta pun menurut. Dia mungkin sedang dikuasai oleh emosi, tapi dia masih menghargai Taeyong sebagai pemimpin grup.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALL GOOD (SEVENTEEN X NCT 127)
FanfictionAll Good, proyek yang dibesut oleh dua agensi besar Korea Selatan untuk meredakan perseteruan antara dua idol group yang berada di bawah asuhan mereka. 22 pria akan tinggal di bawah satu atap yang sama dalam waktu satu tahun. Apakah proyek ini mampu...
