Kegelapan menyelimuti
Kiri, kanan, depan, belakang.....
Jeje mencoba untuk bicara. Tetapi, suaranya nyaris tidak dapat terdengar. Hanya erangan putus asa yang keluar sebab ada yang menutup mulutnya saat ini. Di tengah-tengah kegelapan yang tidak ada habisnya, Jeje kesulitan untuk memastikan dimana dia berada.
"Akhirnya kau sadar juga...." kata sebuah suara dari dalam kegelapan.
Jeje bisa mengetahui bahwa suara yang baru saja dia dengar itu berasal dari depan. Hanya saja, meski dia berusaha untuk memicingkan kedua matanya, hanya kegelapan yang terlihat. Sosok pemilik suara tersebut sama sekali tidak tertangkap oleh penglihatannya.
"Dudukkan dia...." suara itu kembali terdengar. Sejurus kemudian, Jeje merasa ada yang meremas kedua lengannya yang terikat ke belakang dengan cukup kuat kemudian menggerakkan badannya dengan paksa. Dunia Jeje terasa ikut berputar. Tubuhnya dihempaskan di atas permukaan kayu yang cukup keras.
"Lepaskan penutup mulutnya...." perintah yang lain diberikan.
Seseorang lantas berdiri di hadapan Jeje. Menarik dengan paksa penutup mulut yang melekat erat. Sampai-sampai bulu-bulu halus di permukaan wajah Jeje ikut tercabut karenanya. Suara kekehan terdengar sebagai respon dari Jeje yang mengernyit menahan rasa panas yang menjalari wajahnya. Orang yang menarik penutup mulut Jeje kemudian beranjak pergi.
"Ini.... dimana?" tanya Jeje dengan suara lemah.
"Kau tidak perlu tahu dimana kau berada sekarang.... Toh, ini akan menjadi tempat terakhir yang kau lihat sebelum aku mengakhiri hidupmu...."
Seseorang berbicara di hadapan Jeje sambil berjalan lebih dekat. Karena tidak ada satupun sumber cahaya yang masuk ke dalam ruangan tempat Jeje berada sekarang ini, Jeje tidak mengenali siapa yang sedang berbicara dengannya. Yang Jeje yakini, yang saat ini berada di hadapannya adalah seorang perempuan dari suara yang dia keluarkan.
"Kau, siapa ?" Meski Jeje ketakutan saat ini, tetapi dia berusaha untuk menjaga ketenangan dalam nada suaranya.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku...."
"Kenapa kau membawa aku ke sini? Apa yang kau inginkan dariku?"
"Kau tidak tahu dimana letak kesalahanmu?"
"Kesalahan ? Kesalahan apa yang sudah aku lakukan kepadamu?"
Perempuan dalam kegelapan itu maju lebih dekat, menangkup wajah Jeje dengan telapak tangannya. Dia bisa merasakan tajamnya kuku-kuku perempuan itu menancap di permukaan wajahnya.
"Kau !!!!" perempuan itu menggeram marah. "Kau sudah mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!!"
Dahi Jeje mengernyit dalam. Apa yang sudah dia ambil dari perempuan yang ada di hadapannya ini?
"KAU SUDAH MENGAMBIL WONWOO DARIKU, DASAR PEREMPUAN SIAL !!!!"
Begitu selesai mengatakan hal itu, pipi kanan Jeje ditampar dengan keras.
PLAK !!!!
Rasa besi menyebar di dalam mulut Jeje. Sepertinya bagian dalam mulutnya berdarah.
Mengabaikan rasa sakit yang menyerang, Jeje menegakkan kembali wajahnya.
"Aku tidak pernah merebut Wonwoo darimu...." ucap Jeje membela dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALL GOOD (SEVENTEEN X NCT 127)
أدب الهواةAll Good, proyek yang dibesut oleh dua agensi besar Korea Selatan untuk meredakan perseteruan antara dua idol group yang berada di bawah asuhan mereka. 22 pria akan tinggal di bawah satu atap yang sama dalam waktu satu tahun. Apakah proyek ini mampu...
