Pemandangan yang mereka lihat di lokasi syuting membuat semua orang terkejut dan panik. Di tengah-tengah set yang berantakan, Jeje tergeletak tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari luka di kepalanya. Lampu sorot besar yang jatuh tampaknya menjadi penyebab utama, pecahan kaca berserakan di sekitar tubuhnya.
S.Coups berlari tanpa berpikir panjang, berlutut di sisi Jeje. "JENNIFER!" teriaknya dengan nada penuh kepanikan. Dia mengguncang pelan tubuh perempuan itu, tetapi tidak ada respons. Jeje terlihat pucat, dan darah yang terus mengalir membuat tangannya gemetar.
Mingyu tiba di belakangnya, menarik napas dalam-dalam sambil mencoba menguasai situasi. "Ambulans, kita butuh ambulans sekarang!" serunya ke arah staf yang berdiri terpaku.
"Apa yang terjadi di sini?!" suara Joshua pecah saat dia melihat tubuh Jeje yang tergeletak. Dia segera berjongkok di sisi S.Coups, memeriksa denyut nadi Jeje. "Dia masih hidup. Tapi kita harus menghentikan pendarahan ini!"
Jeonghan dan Wonwoo mendekat dengan cepat. Jeonghan segera melepaskan syalnya, menggunakannya sebagai perban darurat untuk menekan luka di kepala Jeje. "Panggil tim medis! Cepat!" perintahnya dengan nada tegas, matanya tidak pernah lepas dari kondisi Jeje.
Jun mencegah anggota yang lain untuk ikut mengerumuni Jeje. Sementara Seungkwan, terlihat syok, lebih dari anggota grup yang lain. Kedua kaki pria Boo itu tiba-tiba saja kehilangan kekuatannya. Dia hampir terjatuh ke lantai kalau saja Vernon tidak bergerak cepat untuk menahan tubuhnya.
"Seungkwan-ah....." Vernon memanggil dengan nada cemas. Pasalnya, tubuh Seungkwan kini bergetar di dalam pegangannya.
"Jeje Noona.... Jeje Noona....." racau Seungkwan.
"Biarkan dia duduk dulu....." saran Dokyeom. Dia kemudian membantu Vernon untuk menuntun Seungkwan ke kursi kosong terdekat. Dino dengan sigap mencarikan sebotol air minum untuk Seungkwan.
Mingyu yang baru kembali dari menghubungi ambulans mengatur napasnya dan mencoba mengambil alih situasi. "Paramedis akan tiba sebentar lagi! Semua mundur! Jangan ada yang menyentuh pecahan kaca atau lampu !!!" perintahnya.
Di tengah kekacauan tersebut, S.Coups tetap memeluk tubuh Jeje. Matanya yang mulai basah menatap luka yang ada di kepala Jeje. Kejadian tiga tahun yang lalu di Los Angeles kembali membayang di ingatan S.Coups.
"Jangan lagi....." bisik S.Coups dengan suara serak. "....kamu tidak boleh terluka lagi....."
Wonwoo mengepalkan kedua tangannya erat ketika mendengar S.Coups berbisik di telinga Jeje.
"Jennifer, bangun..... tolong bangun...." air mata S.Coups menetes. Tangannya dengan gemetar menyeka sedikit darah yang mulai mengalir ke pelipis Jeje.
Bermenit-menit kemudian, suara sirine ambulans terdengar. Petugas paramedis dengan sangat terlatih, mengambil alih tubuh Jeje dan langsung melakukan penanganan darurat.
"Luka robek di kepala, kehilangan cukup banyak darah. Dia tidak sadarkan diri, tetapi nadinya tetap stabil...."
Tubuh Jeje pun hendak dipindahkan ke tandu. S.Coups enggan melepaskan genggamannya dari tangan Jeje.
"Salah satu keluarga pasien harus ikut ke rumah sakit !" ucap petugas.
"Saya adiknya...." sahut Joshua cepat. Petugas yang bertanya tadi lantas memberikan kode kepada Joshua untuk mengikuti dirinya. Setelah Jeje dinaikkan ke atas ambulans, Joshua dipersilahkan untuk ikut naik dan menemani Jeje di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
What Kind of Future
FanfictionTiga tahun setelah proyek All Good selesai.... Apakah kisah S.Coups dan Jeje akan menemukan akhir bahagianya Atau justru mereka akan berpisah selamanya..... Inspired by : Woozi - What Kind Of Future Highest Rank : #1 in carat (13032024) #8 in yoon...
