Kenyataan bahwa dialah pemilik resmi dari rumah besar yang dia tempati saat ini tidak serta merta membuat Jeje bahagia. Rumah itu besar, hampir terasa seperti istana, tapi sayangnya sepi. Hanya ada Nyonya Hong yang menemaninya sepanjang hari serta para pelayan yang menjalankan tugasnya dengan profesional. Walaupun nyaman, Jeje merasa kesepian. Ia tidak diizinkan keluar rumah untuk sementara waktu, membuat harinya terasa panjang dan kosong.
Usai menyantap makan siang, Jeje memilih untuk menyendiri di lantai dua. Ruang baca itu sepi, hanya ada suara detak jam dinding yang terdengar pelan, seakan menandakan waktu yang terus berjalan, meskipun bagi Jeje, semuanya terasa begitu lambat. Dia duduk di salah satu kursi dekat jendela, membiarkan sinar matahari sore menerobos masuk dan menyentuh kulitnya dengan lembut. Namun, kehangatan itu tak mampu menenangkan gejolak di dalam dirinya.
Dia bersandar, menatap rak-rak penuh buku yang berjajar rapi di sekelilingnya. Ada berbagai macam bacaan di sana-novel klasik, buku-buku filsafat, bahkan beberapa buku yang membahas politik dan bisnis. Namun tak satu pun yang menarik perhatiannya. Tangannya terangkat, menyentuh pelipisnya yang berdenyut pelan, efek dari cedera yang belum sepenuhnya pulih.
Pikirannya berkeliaran, melayang jauh ke berbagai tempat yang tak mampu dia gapai.
Swiss.
Apakah dia benar-benar harus pergi ke sana? Mengikuti Edward, menemui keluarga yang bahkan tidak dia kenal?
Pikiran itu menyesakkan dadanya.
Dia teringat Suster Ryu yang selalu merawatnya sejak kecil, dengan belaian lembut dan kata-kata penuh kasih sayang. Hong Eomma yang selalu memberikan semua yang terbaik, yang selalu memastikan dia baik-baik saja meski status Jeje hanyalah anak adopsi.
Anak-anak Dream-mereka seperti adik-adik baginya, tumbuh bersama, berbagi tawa dan tangis di bawah atap yang sama.
Dan kemudian, ada Seventeen.
Seorang Jeonghan yang meski awalnya sering menyusahkan dia, namun kini berubah menjadi selalu memperhatikannya dengan penuh kasih sayang. Jeje tidak mungkin melupakan jasa seorang Yoon Jeonghan untuk dirinya.
Seorang Woozi yang bersama Jeonghan selalu berada di garis terdepan untuk membela kepentingannya. Memastikan Jeje mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya. Pria jenius itu juga seringkali memberikan lagu-lagu ciptaannya yang terasa seperti pelukan hangat di saat-saat tersulit.
Ada Hoshi yang selalu tahu cara membuatnya tersenyum meski sedang sedih, dengan tingkahnya yang lucu dan semangatnya yang menular. Dia selalu tahu kapan waktunya menghibur dan kapan waktunya mendengarkan.
Ada Joshua yang lembut dan penuh perhatian, selalu siap memberikan nasihat bijak atau sekadar mendengarkan curhatannya tanpa menghakimi. Joshua yang sering mengingatkannya bahwa dia tidak sendiri dalam menghadapi semua masalah ini.
Ada Jun dan Minghao yang dengan tenang dan penuh pengertian menawarkan bahu untuk bersandar, dengan cara mereka yang unik, kadang-kadang dengan lelucon bahasa Mandarin yang membuatnya tertawa, atau diskusi mendalam tentang filosofi hidup yang membuat pikirannya terbuka.
Ada DK yang penuh dengan tawa dan energi positif, selalu memastikan bahwa hari-harinya tidak pernah benar-benar suram. Suaranya yang hangat dan tawanya yang renyah selalu berhasil mengangkat suasana hatinya.
Ada Seungkwan yang penuh semangat, selalu membelanya di hadapan siapa pun yang berani menyakitinya, seperti seorang adik yang melindungi kakaknya dengan segenap hati. Seungkwan yang tanpa ragu menunjukkan rasa sayangnya lewat tindakan-tindakan kecil sehari-hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
What Kind of Future
FanfictionTiga tahun setelah proyek All Good selesai.... Apakah kisah S.Coups dan Jeje akan menemukan akhir bahagianya Atau justru mereka akan berpisah selamanya..... Inspired by : Woozi - What Kind Of Future Highest Rank : #1 in carat (13032024) #8 in yoon...
