103 (Wonwoo Version)

143 11 1
                                        


Di Swiss, Jeje tiba di rumah sakit dengan napas tersengal, jantungnya berdegup kencang setelah perjalanan panjang yang dipenuhi kecemasan. Udara dingin musim gugur menyelinap melalui mantel tipisnya, tetapi ia tak mempedulikannya. Pikirannya hanya tertuju pada kakeknya. Ketika ia melangkah masuk ke kamar rawat intensif, pemandangan di depannya membuatnya terpaku sejenak.


Kakeknya masih hidup, tetapi kondisinya sangat lemah. Ia terbaring di ranjang dengan alat bantu pernapasan yang terpasang, tabung-tabung plastik transparan membentuk jaringan rumit di sekitar tubuhnya yang rapuh. Kulitnya pucat bagaikan kertas tua yang mulai menguning, dan matanya tertutup rapat, seolah menolak dunia luar.


Jeje mendekat perlahan, lututnya terasa lelet seolah menahan beban tak kasat mata. Ia menarik kursi ke sisi ranjang, duduk, dan dengan hati-hati menggenggam tangan kakeknya yang dingin. Air mata mengalir tanpa suara dari matanya, membasahi pipinya yang pucat. "Kek, aku di sini sekarang," bisiknya pelan.


Selama seminggu berikutnya, Jeje hampir tak pernah meninggalkan sisi kakeknya. Hari-harinya berlalu dalam ritme monoton namun penuh ketegangan—suara bip monitor jantung yang teratur menjadi pengiring setia, bercampur dengan desis lembut alat bantu pernapasan. Ia duduk di kursi yang sama setiap hari, kadang membaca buku kecil yang ia bawa dari Seoul, kadang hanya menatap wajah kakeknya yang penuh keriput.



Di malam hari, ketika lampu rumah sakit meredup dan lorong-lorong menjadi sepi, Jeje sering tertidur di kursi dengan kepala bersandar di sisi ranjang, tangannya tetap menggenggam tangan kakeknya. Edward kadang duduk di dekatnya, membaca dokumen atau sekadar menjaga dalam diam, siap membantu kapan pun Jeje membutuhkannya. Demikian halnya dengan Nyonya Hong yang tidak beranjak sedikit pun.



Matanya yang sembab dan lingkaran hitam di bawahnya mengkhianati kelelahannya, tetapi ia tak mau menyerah. Ia merasa terisolasi di tengah keluarga yang seharusnya menjadi miliknya, terpisah oleh bahasa, budaya, dan tahun-tahun yang hilang. Kondisi ini memicu mimpi buruk yang datang tanpa permisi—bayangan tangan asing yang mencengkeramnya, suara ancaman yang bergema, dan rasa tak berdaya yang membekap.


Ia sering terbangun dengan detak jantung tak terkendali, keringat dingin membasahi dahinya, dan napas tersengal. Edward, yang kadang masih ada di kamar saat itu terjadi, segera mendekat, menawarkan segelas air atau hanya duduk diam di sisinya hingga Jeje tenang.


"Aku baik-baik saja," katanya setiap kali, meski suaranya bergetar. Ia menekan rasa takut itu demi fokus pada kakeknya, berulang kali mengingatkan diri sendiri, meski ada satu sosok yang dia inginkan untuk dia lihat sekarang. Sosok yang selalu ada, setiap kali trauma Jeje kembali.


🍒🍒🍒


Wonwoo, yang selalu dikenal pendiam, kini menjadi semakin tertutup sejak kepergian Jeje. Ia menjalani hari-harinya bagaikan robot—bangun pagi, datang ke latihan atau jadwal sesuai waktu, bekerja dengan gerakan mekanis, lalu kembali ke apartemen dalam keheningan yang kini terasa lebih pekat dari sebelumnya.


Matanya, yang biasanya menyimpan kilau tenang di balik kacamata, kini kosong, seolah cahaya di dalamnya telah padam. Buku-buku yang biasa ia baca di sela waktu luang kini teronggok tak tersentuh di rak, berdebu di sudut kamarnya. Di apartemen yang ia bagi dengan Mingyu, Wonwoo sering terlihat duduk di sudut ruang tamu, menatap dinding kosong tanpa kata.


Mingyu memperhatikan perubahan itu dengan cemas, jantungnya terasa berat setiap kali ia melihat Wonwoo tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia tahu Jeje dan Wonwoo memiliki ikatan khusus—kedekatan yang tak perlu kata-kata, sebuah hubungan yang terjalin dari pemahaman diam-diam yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Jeje selalu mampu menembus dinding tinggi yang Wonwoo bangun di sekitar dirinya, dengan cara yang sederhana namun penuh makna—sebuah senyum kecil, sebuah sentuhan di pundak, atau hanya duduk bersamanya dalam keheningan yang nyaman.


What Kind of FutureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang