Hujan masih meninggalkan jejaknya di jalanan kota kecil di Tiongkok itu, genangan air memantulkan cahaya lampu jalan yang redup saat ambulans melaju kencang menuju rumah sakit terdekat. Di dalam kabin yang sempit, aroma antiseptik bercampur dengan bau basah dari pakaian Wonwoo yang menempel di tubuhnya.
Jeje terbaring di atas brankar, wajahnya pucat seperti kertas, dengan luka memar di pipi dan pergelangan tangan yang memerah akibat tali kasar yang mengikatnya. Selang oksigen terpasang di hidungnya, dan monitor jantung berdetak pelan, setiap bunyi adalah pengingat bahwa ia masih bertahan—tapi rapuh, seperti nyala lilin di tengah angin kencang.
Wonwoo duduk di sampingnya, tangannya mencengkeram tangan Jeje yang dingin dan lemah, jari-jarinya gemetar seolah takut melepaskan akan membuat Jeje lenyap dari hidupnya. Matanya merah, penuh air mata yang tak sempat jatuh, dan kacamatanya—yang kembali ia pakai meski lensa buram oleh sisa hujan—tak bisa menyembunyikan kepedihan yang menghancurkan hatinya.
Setiap detik, ia memandang wajah Jeje, mencari tanda-tanda kesadaran, tapi hanya ada keheningan yang menyiksa.
"Noona... tolong, bertahan," bisiknya, suaranya serak, patah, seperti doa yang nyaris tak berani diucapkan.
"Aku di sini. Aku tidak akan pergi lagi."
Di dalam dadanya, rasa bersalah bercampur dengan ketakutan, seperti racun yang merambat perlahan, mencekik setiap napasnya. Ia melihat memar di wajah Jeje, luka di pergelangannya, dan setiap tanda itu terasa seperti pisau yang menusuk hatinya berulang-ulang.
Dia seharusnya ada di sana.
Dia seharusnya bisa melindungi perempuan kesayangannya.
Pikiran itu berputar mantra kejam, menyalahkannya atas setiap detik Jeje menderita di gudang itu. Gambar Jeje—terikat, pucat, nyaris tak sadar di lantai tanah—terpahat di benaknya, sebuah lukisan mengerikan yang tak bisa ia hapus.
Paramedis yang duduk di sudut kabin sesekali melirik Wonwoo, tapi tak ada yang berani menyela. Aura kepedihan dan kemarahan yang memancar dari pria itu seperti dinding tak terlihat, membuat mereka memilih fokus pada pekerjaan mereka.
Ketika ambulans akhirnya berhenti di pintu masuk IGD rumah sakit, tim medis bergerak cepat, mendorong brankar Jeje ke ruang perawatan intensif. Wonwoo berlari mengikuti, nyaris tersandung, langkahnya penuh kepanikan, sampai seorang perawat menghentikannya dengan tangan terangkat.
"Tuan, Anda harus menunggu di luar," kata perawat itu, suaranya tegas namun penuh empati.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien."
Tanpa perlu mengerti bahasanya, Wonwoo mengerti. Namun, dia benar-benar tidak mau lagi meninggalkan Jeje barang sedetik pun. Dia ingin menerobos masuk, tapi tubuhnya terasa seperti terbuat dari timah, berat dan lemah. Matanya terpaku pada brankar Jeje yang menghilang di balik pintu kaca, dan sesuatu di dalam dirinya pecah. Ia merasakan dadanya sesak, seperti ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya hingga nyaris berhenti.
Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju ruang tunggu, ambruk di bangku besi panjang yang dingin, dan menundukkan kepala. Tangannya menutupi wajah, mencoba menahan isakan yang mengguncang tubuhnya.
"Maafkan aku, Noona... maafkan aku," gumamnya, suaranya tenggelam dalam keheningan ruang tunggu, hanya disaksikan oleh dinding putih yang tak peduli.
Beberapa jam berlalu, malam semakin larut, dan ruang tunggu rumah sakit terasa seperti ruang limbo—sepi, dingin, hanya ada suara langkah perawat yang sesekali lewat dan derum mesin pendingin udara.
KAMU SEDANG MEMBACA
What Kind of Future
FanfictionTiga tahun setelah proyek All Good selesai.... Apakah kisah S.Coups dan Jeje akan menemukan akhir bahagianya Atau justru mereka akan berpisah selamanya..... Inspired by : Woozi - What Kind Of Future Highest Rank : #1 in carat (13032024) #8 in yoon...
