Pintu gudang berderit terbuka, dan udara dingin bercampur aroma tanah basah menyelinap masuk, mempertebal bau kayu lapuk dan kelembapan yang menyesakkan di udara. Sosok di ambang pintu melangkah perlahan, bayangannya memanjang di lantai tanah yang becek, diterangi kilatan petir yang sesekali menyambar. Jantung Jeje berdetak kencang, seperti palu yang menghantam tulang dadanya. Suara itu—suaranya—menggema di kepalanya, membangunkan sesuatu yang selama ini ia coba kunci di sudut pikirannya.
"Lama tidak bertemu, cantik..."
Jeje menahan napas, tenggorokannya terasa tersumbat, seperti ada pasir yang mengganjal setiap tarikan udara. Ia mengenali suara itu—bukan sekadar kenangan, melainkan luka yang hidup kembali. Pria itu melangkah lebih dekat, dan kilatan petir menerangi wajahnya sejenak: mata kecil yang licik, senyum miring yang penuh ejekan, dan bekas luka tipis di pelipis kirinya.
Kehadiran sosok itu menghantam Jeje seperti petir, menyeretnya kembali ke satu siang yang kelam di hotel Gangnam—bau rokok yang menyengat, tangan kasar yang mencengkeram lengannya, dan suara pintu yang terkunci, mengurungnya bersama ketakutan yang nyaris menghapus akal sehatnya.
Tiba-tiba, dunia di sekitar Jeje bergoyang. Napasnya tersengal, tubuhnya gemetar hebat, dan ia nyaris tak bisa membedakan apakah ia masih di Tiongkok atau terjebak kembali di hotel tanpa jalan keluar.
"Nona Hong Jennifer.... Atau harus saya panggil dengan Jennifer Tang sekarang ?" Suara Justin menyeruak, menariknya kembali ke gudang yang reyot.
Ia berkedip cepat, mencoba menjernihkan pandangan, namun matanya buram, dan kepalanya terasa penuh kabut. Tangannya, yang terikat di belakang punggung, menegang hingga tali menggigit kulitnya lebih dalam. Ia ingin berteriak, tapi tenggorokannya seperti tercekik, hanya mengeluarkan isakan kecil yang tenggelam dalam deru hujan.
Kilas balik trauma yang begitu nyata, membuatnya sulit membedakan masa kini dan masa lalu. Jantungnya berdetak tak terkendali, dan ia merasa seperti tenggelam dalam air yang tak terlihat, tak mampu mengambil napas penuh.
"Apa yang kau inginkan?" tanyanya akhirnya, suaranya serak dan patah-patah, seolah setiap kata harus dipaksa keluar. Ia menekan punggungnya ke dinding kayu yang lapuk, berusaha meng grounding dirinya dengan rasa sakit dari tali dan dinginnya lantai tanah di bawahnya.
Sosok itu tertawa pelan, suaranya seperti gesekan logam yang tumpul. Ia jongkok di depan Jeje, cukup dekat hingga Jeje bisa mencium bau rokok dan keringat pada pakaiannya yang basah.
"Tenanglah, Jennifer. Aku hanya menjalankan tugas."
"Tugas?" Jeje memicingkan mata, berusaha fokus meski kepalanya masih dipenuhi bayangan lorong hotel Gangnam. Napasnya tersengal, dan ia merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"Dari siapa?"
Sebelum Justin menjawab, suara langkah lain terdengar dari ambang pintu—langkah yang lebih ringan, namun penuh otoritas. Jeje menoleh, dan jantungnya seperti terhenti sejenak.
Di bawah cahaya redup yang menyelinap dari celah atap, ia melihat sosok yang tak asing: Jia Li. Sepupunya, yang juga masih berstatus sebagai tunangan S.Coups, berdiri dengan postur tegap, gaun hitamnya yang elegan basah oleh hujan, namun wajahnya dingin seperti marmer. Matanya yang tajam menatap Jeje, penuh kebencian yang tak tersembunyi.
"Jia-ssi..." Nama itu keluar dari bibir Jeje seperti bisikan, penuh ketidakpercayaan.
Jia Li melangkah masuk, sepatu hak tingginya berderit di lantai tanah yang becek. Ia berhenti di samping sosok pria itu, memandang Jeje dari atas, seolah Jeje hanyalah sesuatu yang tak berarti.
KAMU SEDANG MEMBACA
What Kind of Future
FanfictionTiga tahun setelah proyek All Good selesai.... Apakah kisah S.Coups dan Jeje akan menemukan akhir bahagianya Atau justru mereka akan berpisah selamanya..... Inspired by : Woozi - What Kind Of Future Highest Rank : #1 in carat (13032024) #8 in yoon...
