106 (Joshua Version)

100 11 2
                                        

Di tengah lautan pelayat yang datang memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang kakeknya, Jeje merasa seperti seorang penjelajah yang terdampar di samudra asing. Dari bandara hingga rumah duka tempat jenazah Joseph Tang disemayamkan, wajah-wajah yang hadir terasa begitu asing baginya. Hanya bisikan Edward, yang setia berdiri di sisinya, yang menjadi petunjuk tentang identitas para pelayat—pejabat tinggi, pengusaha ternama, dan tokoh masyarakat terpandang. Kehadiran mereka mencerminkan betapa kuatnya posisi keluarga Tang di tengah masyarakat, sebuah status yang, entah mengapa, terasa begitu jauh dari dunia Jeje.



Berbalut gaun hitam sederhana yang menyelubungi tubuhnya, Jeje duduk di kursi yang telah disediakan, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Kesedihan atas kepergian kakeknya membayang di hatinya, namun hanya itu yang ia rasakan—tidak lebih. Rasa kehilangan itu terasa hampa, seolah ia tidak benar-benar terhubung dengan lelaki yang kini terbujur di peti di hadapannya.


Tiga hari berlalu bagai kabut, dengan ratusan orang datang dan pergi, meninggalkan ucapan belasungkawa yang terdengar seragam di telinga Jeje. Hari ini, hari terakhir jenazah disemayamkan, akan menjadi puncak sebelum pemakaman di desa tepi pantai, tempat kakeknya akan bersemayam abadi di sisi mendiang neneknya.


Saat persiapan pemindahan jenazah berlangsung, tiba-tiba suara gaduh memecah kesunyian. Beberapa orang memasuki ruangan, dan Jeje mendongak, ingin tahu siapa yang datang. Seorang pria paruh baya dengan wajah yang begitu mirip dengan mendiang kakeknya melangkah masuk, matanya menyala penuh kemarahan.


"DASAR PEMBUNUH !!!" teriaknya dalam bahasa Korea dengan sangat fasih.


Jeje tersentak. Pria itu menudingkan tongkatnya ke arahnya dengan penuh kebencian.


"KAU DAN AYAHMU ITU SAMA-SAMA PEMBAWA SIAL !!! KAU TIDAK PANTAS MENGANTARKAN MENDIANG KAKAKKU KE TEMPAT PERISTIRAHATAN TERAKHIRNYA !!!"


Teriakannya menggema, membuat para pelayat lain menoleh, dan suasana menjadi tegang. Kasak-kusuk terdengar diantara para tamu yang datang. Apalagi ketika dengan gerakan cepat, Jack mendorong bahu Jeje dengan ujung tongkatnya. Jeje nyaris terjatuh, namun Edward segera menahannya, tangannya yang kokoh menjaga Jeje tetap berdiri.


Edward menarik napas dalam, berusaha menahan emosi.


"Kendalikan diri Anda, Paman Jack. Jennifer sama pantasnya dengan Anda untuk mengantarkan mendiang Paman Joseph ke peristirahatan abadinya bersama mendiang Bibi." ujar Edward dengan tegas namun tetap berusaha menghormati orang tua yang berdiri di hadapannya itu.


Jack mendengus, wajahnya memerah. "Kau menyuruhku mengendalikan diri? Perempuan tak jelas ini pastilah merupakan penyebab kematian kakakku!" tuduhnya, suaranya semakin meninggi. Tidak ingin semakin menarik perhatian, Edward segera memerintahkan anak buahnya untuk mengosongkan ruangan, menyisakan hanya dirinya, Jeje, dan Jack di tengah ketegangan yang kian memuncak.


"Asal usul Jennifer sudah dibuktikan dengan tes DNA, Paman," ucap Edward. "Dia adalah putri Jacelyn."


Jack mendecak, matanya melotot penuh penghinaan.


"Asal usul ayahnya yang tidak jelas! Seandainya Jacelyn dulu tidak jatuh cinta dengan orang Korea itu, kakak dan kakak iparku tidak akan menderita hingga jatuh sakit!"


Tudingannya bagai pisau yang menusuk hati Jeje. Wajahnya berubah pucat, dan kedua matanya menyiratkan luka yang dalam.


Edward, yang menyadari perubahan itu, segera mengalihkan pembicaraan.


"Paman Jack, kita bicarakan ini setelah upacara pemakaman. Pemindahan jenazah Paman Joseph hampir selesai."


"Aku tidak akan datang kalau perempuan ini ikut serta!" bentak Jack, suaranya penuh penolakan.


"Paman Jack!" Edward menaikkan nada suaranya, namun Jeje tiba-tiba melangkah maju, tangannya memegang lengan Edward dengan lembut.


"Tidak apa-apa, Edward-ssi," ucapnya dengan suara pelan namun tegas, meski ada getar kesedihan di dalamnya. "Aku bisa menunggu di tempat lain."
Edward menatap Jeje, matanya penuh kekhawatiran.


"Jennifer, kamu tidak perlu—"


"Tolong, Edward-ssi," potong Jeje, suaranya hampir memohon. "Aku tidak ingin memperkeruh suasana."


Dengan langkah berat, ia berbalik dan meninggalkan ruangan setelah sebelumnya membungkuk ke arah Jack Tang, meninggalkan Edward dan Jack dalam keheningan yang tegang.


Di luar ruangan, Jeje menyandarkan punggungnya ke dinding, menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya yang bergolak. Dia menatap langit yang meredup sembari memeluk dirinya sendiri. Betapa dia merindukan Seoul dan semua orang yang dia kenal di sana.



🍒🍒🍒



Langit di desa tepi pantai itu kelabu, seolah ikut berduka atas kepergian Joseph Tang. Angin laut membawa aroma garam yang bercampur dengan kesedihan yang terasa di udara. Jeje berdiri cukup jauh dari kerumunan yang berkumpul di area pemakaman namun bisa melihat jalannya prosesi pemakaman. Dia bisa melihat peti jenazah kakeknya diturunkan perlahan ke liang lahat, di sisi makam mendiang neneknya.


Ia memilih untuk tidak mendekat, menghormati permintaan Jack Tang yang masih bergema di benaknya. Tuduhan pria itu kemarin, penuh amarah dan luka lama, membuat Jeje merasa seperti orang asing di tengah keluarganya sendiri. Meski Edward berulang kali meyakinkannya bahwa ia berhak berada di sana, Jeje tidak ingin memperkeruh suasana di hari terakhir kakeknya. Ia ingin prosesi pemakaman berjalan damai, meski itu berarti ia harus menahan diri di pinggiran, hanya sebagai pengamat.


Saat peti jenazah mulai ditutup dengan tanah, Jeje merasakan setetes air mata mengalir di pipinya. Ia tidak yakin apakah ia menangis karena kehilangan kakeknya atau karena rasa asing yang kian kuat di hatinya. Ia merasa seperti terdampar di antara dua dunia—satu sisi adalah darah Tang yang mengalir di nadinya, dan sisi lain adalah warisan ayahnya yang seolah menjadi kutukan bagi keluarga ini.


Mungkinkah benar adanya bahwa kehadiran dirinya hanyalah sebuah aib untuk keluarga Tang.....


🍒🍒🍒


Ruangan besar di villa keluarga Tang yang berada di desa tempat mendiang Joseph Tang dimakamkan terasa tegang saat pengacara senior keluarga Tang membacakan surat wasiat Joseph Tang. Jeje duduk di kursi kulit yang dingin, tangannya memainkan ujung lengan bajunya, matanya tertuju pada meja kayu mahoni di depannya.


"Seluruh aset, saham mayoritas Tang Corp, properti di Swiss, Singapura, Seoul dan Hong Kong, serta rekening pribadi, saya wariskan kepada cucu saya, anak tunggal dari putri saya Jacelyn Tang, Jennifer, sebagai satu-satunya keturunan langsung," ucap pengacara itu, suaranya datar dan mekanis, sebelum menutup map kulit dengan bunyi pelan.


Tiba-tiba, suara keras memecah keheningan—cangkir porselen mahal berhias motif bunga biru menghantam lantai dan pecah berkeping-keping. Jack Tang berdiri dengan wajah memerah, tangannya mengepal erat.


"Apa maksudnya ini?!" bentaknya, suaranya menggelegar hingga membuat Jeje tersentak di kursinya.


"Saya yang selama ini bersusah payah menjaga perusahaan ini agar tetap berjalan, dan sekarang Joseph memberikan semuanya pada anak ini?!" Ia menunjuk Jeje dengan jari gemetar, matanya penuh kebencian.


"Kamu pikir kau pantas berada di keluarga ini ? Kau itu hanya anak haram yang tidak pernah diinginkan kehadirannya !!!" lanjut Jack Tang.


Dia berdiri dari kursi yang dia duduki sebelumnya, berjalan dengan langkah lebar mendekat ke arah Jeje dan tanpa aba-aba, menarik Jeje dengan satu sentakan lalu menghempaskannya dengan kasar ke lantai.


"Jangan pernah berpikir bahwa kau akan mendapatkan semuanya !!!! Aku tidak akan pernah membiarkan hama sepertimu menggerogoti semua yang sudah aku bangun dengan susah payah !!!"


Satu tangan Jack terangkat ke atas, sudah jelas dia akan menampar Jeje yang tersungkur di lantai. Namun tindakannya itu tidak terlaksana karena pintu ruangan dibuka dari luar disusul dengan raungan marah yang menggema.


"JAGA TANGAN ANDA TUAN !!!! JIKA WANITAKU TERLUKA, AKU AKAN MEMBUAT PERHITUNGAN DENGANMU !!!!!"


(TBC)

What Kind of FutureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang