Jeje menoleh dengan cepat ke arah suara dingin yang baru saja terdengar, hatinya mencelos saat matanya bertemu dengan tatapan tajam seorang pria tua yang berdiri hanya beberapa langkah darinya. Pria itu mengenakan setelan hitam yang rapi, rambutnya telah sepenuhnya memutih, namun sorot matanya masih menyiratkan ketegasan dan kekejaman yang sama sekali tak tergerus usia.
Sejak tiba di negara ini, Jeje telah berhadapan dengan banyak tatapan penuh penilaian, tetapi tidak ada yang seintimidasi milik pria ini. Sorot matanya seolah menelanjangi dirinya, menakar, menimbang, dan kemudian, menolak keberadaannya dengan kebencian yang begitu nyata.
Pria itu menghela napas pelan, seakan berat harus berbicara padanya. "Kembalilah ke tempatmu yang sebenarnya dan membusuklah di sana," katanya dengan suara rendah dan dalam.
Jeje membeku di tempatnya. Udara yang dingin terasa semakin menggigit kulitnya, bukan karena suhu, tetapi karena ketegangan yang tiba-tiba menyelimuti suasana.
Sebelum ia sempat bertanya apa maksud dari ucapan pria itu, orang tua itu sudah berbalik, melangkah pergi dengan sikap angkuh. Namun, di langkah terakhirnya, ia berhenti sejenak, menoleh sekilas ke arah Jeje dan Edward.
"Sampai bertemu di pengadilan."
Lalu, tanpa sepatah kata lagi, ia pergi, meninggalkan Jeje dalam kebingungan yang semakin menyesakkan dada.
Edward, yang sejak tadi berdiri di samping Jeje dengan ekspresi dingin dan kaku, segera bereaksi. Wajahnya yang biasanya tak terbaca kini berubah gelap, kedua matanya menyipit tajam seolah sedang menghitung langkah selanjutnya.
"Nyonya Hong," katanya dengan nada mendesak, menoleh ke arah wanita yang berdiri tak jauh dari mereka. "Bawa Jeje pulang sekarang."
"Tapi—" Jeje membuka mulut, protesnya terhenti saat Edward menatapnya dengan tegas.
"Sekarang, Jennifer."
Nada suaranya tak memberikan ruang untuk perdebatan.
Nyonya Hong segera menggenggam tangan Jeje, menuntunnya menjauh dari pemakaman. Jeje masih ingin bertanya, masih ingin memahami apa yang baru saja terjadi, tetapi otaknya terasa penuh, terlalu berantakan untuk merangkai pertanyaan yang masuk akal.
Satu hal yang ia tahu, firasat buruk mulai merayapi pikirannya.
🍒🍒🍒
Sementara Jeje dibawa menjauh, Edward tetap berdiri di tempatnya. Rahangnya mengatup keras, jemarinya mengepal di sisi tubuhnya. Tak butuh waktu lama sebelum ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Cari tahu apa yang sedang dilakukan pria tua itu," suaranya terdengar dingin dan tajam. "Aku ingin laporan dalam waktu satu jam."
Edward menutup panggilan tanpa menunggu jawaban, lalu mengusap wajahnya dengan frustrasi. Ia tahu pria tua itu. Kakek dari Jia Li.
Dan jika orang tua itu muncul di sini dengan kebencian yang begitu terang-terangan, maka ini bukan sekadar kebetulan.
Tak sampai satu jam, seorang pria berbadan kekar dengan setelan hitam yang serasi dengan warna mobil yang dikendarainya, tiba di vila tempat Jeje dan Nyonya Hong menginap. Ia berjalan cepat ke arah Edward yang berdiri di beranda, menunggunya dengan ekspresi yang semakin kelam.
"Tuan," pria itu menundukkan kepala sedikit sebelum berbicara. "Kami baru saja menerima konfirmasi. Kakek Jia Li telah mengajukan gugatan perdata mengenai keabsahan identitas Nona Jennifer sebagai cucu dari mendiang Joseph Tang."
KAMU SEDANG MEMBACA
What Kind of Future
Fiksi PenggemarTiga tahun setelah proyek All Good selesai.... Apakah kisah S.Coups dan Jeje akan menemukan akhir bahagianya Atau justru mereka akan berpisah selamanya..... Inspired by : Woozi - What Kind Of Future Highest Rank : #1 in carat (13032024) #8 in yoon...
