109 (Wonwoo Version)

134 16 0
                                        

Langit Glasgow, Skotlandia, tampak kelabu, tertutup awan tebal yang seolah menahan rahasia dunia di bawahnya. Udara dingin menusuk, membawa aroma tanah basah dan dedaunan musim gugur yang berguguran di trotoar. Ambulans yang membawa Jeje, Nyonya Hong, dan Edward akhirnya tiba di kota ini setelah perjalanan panjang yang melelahkan, meninggalkan intrik dan bahaya di Tiongkok jauh di belakang. Glasgow, dengan jalanan berbatu dan bangunan-bangunan tua yang kokoh, menjadi tempat perlindungan sementara bagi Jeje, di mana Edward berjanji untuk menjaganya dari ancaman perebutan warisan yang melibatkan James Tang, adik kandung kakek Jeje, dan intrik keluarga yang semakin memanas.



Jeje kini tinggal di sebuah kawasan perumahan tenang di West End, sebuah daerah yang dikenal dengan pesona arsitektur klasiknya. Rumah yang ditempatinya adalah sebuah townhouse berlantai dua dengan fasad batu bata merah khas Britania Raya, berdiri rapi di antara deretan rumah serupa yang membentuk barisan harmonis di sepanjang jalan.


Jendela-jendela rumah itu berbingkai kayu putih, beberapa dihiasi kotak bunga yang kini kosong, menanti musim semi untuk kembali berwarna. Pagar besi rendah mengelilingi halaman depan yang kecil, dengan beberapa semak rosemary dan lavender yang masih bertahan di udara dingin. Di malam hari, lampu jalan antik yang berdiri di trotoar memancarkan cahaya kuning lembut, menciptakan suasana hangat namun melankolis, seolah waktu berjalan lebih lambat di sini.


Di dalam rumah, interiornya sederhana namun nyaman, dengan lantai kayu tua yang sedikit berderit setiap kali dilangkahi. Ruang tamu dihiasi perapian batu yang jarang dinyalakan, diapit oleh dua sofa kulit cokelat dan meja kayu kecil yang dipenuhi buku-buku psikologi dan novel klasik. Jendela besar di sisi ruangan menghadap ke taman belakang yang kecil, tempat kursi kayu sederhana dan meja besi diletakkan di bawah pohon ek tua. Kamar Jeje berada di lantai dua, dengan dinding berwarna krem dan tempat tidur sederhana yang ditutupi selimut wol tebal.


Namun, ketenangan fisik rumah itu tak mampu menenangkan badai di jiwa Jeje. Kejadian di gudang, di mana ia disekap dan nyaris kehilangan nyawa, telah meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada memar di tubuhnya. PTSD yang telah lama ia derita akibat pelecehan seksual di masa lalu kini memburuk, seperti api yang kembali menyala setelah dikipasi angin kencang.


Jeje sering terbangun di tengah malam, tubuhnya gemetar, napasnya tersengal seperti seseorang yang tenggelam. Hiperventilasi menjadi musuh yang tak terduga, membuatnya merasa seperti kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Bahkan di siang hari, kilas balik dari gudang itu—bau tanah basah, suara tali yang mengikat, dan bayangan wajah-wajah yang mengintimidasi—bisa muncul tanpa peringatan, membuatnya terduduk dengan tangan memegang dada, berjuang untuk bernapas.


Terapi dengan psikiater menjadi bagian dari rutinitasnya di Glasgow. Setiap minggu, ia mengunjungi sebuah rumah sakit di pusat kota, di mana Dr. Campbell, seorang psikiater berusia lima puluhan dengan rambut perak dan mata penuh empati, membantunya menavigasi labirin trauma yang mengurungnya.


Terapi itu melelahkan, baik secara emosional maupun fisik. Setelah setiap sesi, Jeje sering merasa seperti telah berlari maraton, tubuhnya lemas dan pikirannya kosong. Efek samping dari pengobatan—termasuk obat antiansietas yang diresepkan—membuatnya kadang merasa terputus dari dunia, seperti mengambang di antara kenyataan dan mimpi. Namun, di tengah kepedihan itu, ada satu konstanta yang membuatnya bertahan:


Wonwoo.


Wonwoo, pria yang telah bersumpah untuk tidak pernah meninggalkannya lagi, menepati janjinya dengan penuh dedikasi. Kabar tentang kondisi Jeje yang memburuk sampai ke telinganya tak lama setelah mereka tiba di Glasgow.



Tanpa ragu, ia mengambil keputusan besar: mengurangi aktivitasnya bersama SEVENTEEN, grup yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama bertahun-tahun. Ia hanya muncul untuk kegiatan grup yang benar-benar penting—rekaman, konser besar, atau acara promosi yang tak bisa diwakilkan—dan menolak semua kontrak pribadi, baik iklan, pemotretan, maupun tawaran akting. Waktu luangnya kini sepenuhnya ia dedikasikan untuk Jeje, sering kali terbang dari Seoul ke Glasgow hanya untuk menghabiskan beberapa hari bersamanya.



What Kind of FutureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang