105 (Joshua Version)

93 8 3
                                        

Album baru mereka disambut hangat oleh penggemar. Sorak sorai di media sosial membuktikan cinta yang tak pernah pudar untuk Seventeen. Jadwal promosi pun berjalan mulus, dari panggung ke panggung, wawancara ke wawancara, semua terlaksana dengan sempurna.


Namun, di balik sorot lampu dan kilatan kamera, ada sesuatu yang tak terucap. Senyum para anggota hanya muncul saat lensa tertuju pada mereka, seolah-olah terprogram untuk menyala sesaat. Begitu syuting selesai, wajah mereka kembali pada rona aslinya.


Muram. Hampa. Diam.


Dino, yang baru saja melangkah masuk ke ruang tunggu di salah satu studio, berjalan berdampingan dengan Suji. Ia memecah keheningan dengan suara pelan, seolah takut mengganggu suasana.


"Ada kabar baru dari Jeje Noona?"


Suji, yang kini menjabat sebagai manajer utama Seventeen setelah menggantikan Jeje, hanya menggelengkan kepala. Matanya menatap lurus ke depan, menyembunyikan rona sedih yang samar.


"Jeje Eonni sepertinya sibuk dengan kehidupan barunya sekarang," ujarnya lirih, suaranya penuh kerinduan.


Jeje bukan sekadar senior bagi Suji. Ia adalah mentor, sosok yang membawanya dari nol, dari perusahaan lama hingga ke agensi yang didirikan Seventeen. Kepergian Jeje meninggalkan luka, tak hanya pada para anggota, tetapi juga pada seluruh tim, termasuk dirinya sendiri.


Dino menunduk, langkahnya sedikit melambat.


"Masih belum ada yang mau ambil hadiah perpisahan dari Jeje Noona, ya?" tanyanya, nada suaranya bercampur rasa ingin tahu dan kegetiran.



Suji menarik napas panjang, seolah mencoba menahan beban yang tak terlihat. Sebelum pergi, Jeje menitipkan setumpuk hadiah perpisahan untuk para anggota dan staf agensi. Kotak-kotak itu masih tersimpan rapi di ruangannya, tak tersentuh. Staf lain sudah mengambil bagian mereka, tetapi para anggota? Belum ada satu pun yang berani mendekati hadiah-hadiah itu.


"Belum," jawab Suji pelan. "Hadiah-hadiah itu masih ada di ruanganku."


Dino menghela napas, diikuti decakan kecil. "Padahal aku suka sekali dengan hadiah," katanya, suaranya bercampur tawa kecil yang tak tulus. "Aku penasaran, apa yang diberikan Jeje Noona untukku. Katanya, anak-anak Dream dapat cincin persahabatan baru. Aku juga pengen... tapi..." Kalimatnya terputus. Suji menyentuh lengan Dino dengan lembut, sebuah isyarat halus agar ia berhenti bicara.


Mereka sudah sampai di depan pintu ruang tunggu, tempat dua belas pria dengan hati rapuh menunggu. Topik tentang Jeje adalah luka yang masih menganga bagi mereka.


Suji menatap Dino dengan penuh pengertian. "Masuk dulu," katanya lembut. "Kalau kamu memang ingin mengambil hadiahmu, aku bisa bawakan diam-diam. Bagaimana?"


Wajah Dino yang tadinya murung tiba-tiba berseri, secercah cahaya muncul di matanya. "Jinjja? Kamu tidak takut dimarahi Coups Hyung?"


Suji tersenyum tipis, meski ada ketegangan di sudut bibirnya. "Sedikit sih," akunya jujur. "Tapi hadiah-hadiah itu amanah dari Jeje Eonni. Aku harus pastikan semuanya sampai ke tangan yang tepat."


Senyum Dino melebar, penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Suji-ya."


Mereka melangkah masuk ke ruang tunggu, tak menyadari bahwa beberapa meter di belakang, ada Joshua yang berjalan pelan, mengikuti mereka sejak keluar dari studio. Telinganya menangkap setiap kata dari percakapan itu, dan setiap kalimat tentang Jeje seperti menusuk dadanya. Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang, seolah mencoba menahan gelombang emosi yang tiba-tiba menerpa.



What Kind of FutureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang