104 (Joshua Version)

116 12 6
                                        

Ketika Joshua mendorong pintu apartemennya, matanya tertumbuk pada sosok punggung sempit yang begitu familiar. Langkahnya terhenti sejenak, jantungnya berdegup lebih cepat. Ia melangkah mendekat, hati-hati, seolah takut bayangan itu akan lenyap jika ia terlalu gegabah.


"Eomma?" panggilnya setelah meletakkan tas dan jaketnya di atas sofa di tengah ruang tamu, suaranya lembut namun penuh keheranan.


Seorang wanita paruh baya berbalik. Wajahnya, yang begitu mirip dengan Joshua, langsung memancarkan senyum hangat. Namun, di balik senyum itu, ada sesuatu yang membuat hati Joshua terasa terjepit—seperti kilasan luka yang disembunyikan.


"Eoh, wasseo?" sahut Nyonya Hong, suaranya lembut namun terdengar lelah.


"Eomma sedang apa di sini? Kenapa tidak menemani Jeje Noona di Incheon?" tanya Joshua, alisnya mengerut saat ia memperhatikan apron yang menutupi pakaian ibunya, noda-noda kecil di kain itu seolah bercerita tentang kesibukan yang tak biasa.


Nyonya Hong menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada counter table di depannya. "Pembatalan adopsi Jeje sudah sah di pengadilan keluarga. Eomma mengirimkan hasilnya padamu lewat chat. Apa kamu tidak membacanya?" jelasnya, nada suaranya datar, namun ada getar halus yang tak luput dari perhatian Joshua.


Joshua tertawa kikuk, tangannya otomatis menggaruk keningnya yang tak gatal.


"Mian..." gumamnya.


Sepanjang hari ini, ponselnya berada di tangan Dokyeom, dan ia memang jarang memeriksa pesan di aplikasi percakapan. Kebiasaan ini sering menjadi bahan keluhan para anggota Seventeen, dan kini ia merasa sedikit bersalah karena telah melewatkan kabar penting itu.


"Dasar... kebiasaanmu itu benar-benar tak pernah berubah," tegur Nyonya Hong dengan senyum maklum, namun matanya tak sepenuhnya menyembunyikan kepedihan. Ia kembali memunggungi Joshua, tangannya sibuk mengaduk sesuatu di atas meja.


Ucapan ibunya tadi menyisakan gema di hati Joshua, membangkitkan gelombang emosi yang sulit ia pahami.


Sedih?


Kecewa?


Atau...


lega?


Pikiran terakhir itu membuatnya memejamkan mata dan menggeleng pelan, seolah ingin mengusir bayangan itu. Ia tahu betapa ibunya mencintai Jeje, kakak angkatnya. Pembatalan adopsi ini pasti menghancurkan hati ibunya, dan ia bukan orang yang bisa tersenyum di atas penderitaan orang lain—terutama ibunya.


Dengan langkah pelan, Joshua mendekati ibunya, yang kini tampak tenggelam dalam kesibukannya.


"Eomma..." panggilnya, suaranya lebih hati-hati kali ini, nyaris berbisik. "Gwaenchana?"


Sebuah helaan napas panjang menjadi jawaban. Nyonya Hong berhenti sejenak, tangannya terdiam di atas wadah makanan.


"Menurutmu? Apa Eomma bisa baik-baik saja setelah kehilangan satu putri?" Ucapannya terdengar rapuh, seperti kaca yang nyaris retak.


Tanpa berpikir panjang, Joshua melangkah maju dan memeluk ibunya dari belakang, lengannya melingkari bahu wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu.


"Maafkan aku, Eomma... maafkan aku..." gumamnya, suaranya tercekat, seolah ia sedang meminta maaf atas sesuatu yang tak sepenuhnya ia pahami.


Nyonya Hong tersenyum tipis, tangannya menepuk lengan Joshua dengan lembut.


"Kenapa kamu harus minta maaf? Kamu sama sekali tidak bersalah..." balasnya, namun nada suaranya tetap menyimpan kepedihan yang dalam.


What Kind of FutureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang