105 (S.Coups Version)

310 39 4
                                        


S.Coups menginjak pedal gas lebih dalam, mobilnya melesat di jalanan gelap yang sepi. Lampu jalan berpendar redup, bayangannya sendiri tercermin di kaca depan, tapi pikirannya terlalu kalut untuk peduli. Justin melaju di depan dengan motor besarnya, knalpotnya menggeram memecah keheningan malam.


Hatinya berdebar, bukan karena kecepatan yang dia pacu, melainkan karena pergolakan di dalam dirinya sendiri.


Bagaimana kalau ini jebakan?


Pikiran itu menghantuinya. Justin dan Jia Li bukan orang yang bisa dia percaya begitu saja. Sudah terlalu banyak pengkhianatan dan permainan kotor yang mereka lakukan. Tapi di sisi lain...


Bagaimana kalau Justin berkata jujur?


Bagaimana kalau untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia benar-benar diberi kesempatan kedua?


Dia mengepalkan tangan di atas kemudi. Rasa frustasi membuncah di dadanya. Sial! Kenapa semua harus serumit ini?!


Matanya terus mengawasi motor Justin di kejauhan. Dia bisa saja berhenti sekarang. Putar balik. Menjauh dari semua ini.


Tapi wajah Jeje terus muncul dalam pikirannya.


Matanya. Senyumnya.


Dan kesedihan di wajahnya ketika dia pergi meninggalkannya waktu itu karena rasa tidak percaya.


S.Coups menggeram marah, lebih kepada dirinya sendiri. Dia sudah kehilangan terlalu banyak. Mengabaikan terlalu banyak hal yang seharusnya dia jaga. Jika yang dikatakan Justin benar—jika perempuan itu benar-benar dalam bahaya—dan dia tetap memilih untuk tidak percaya...


Maka dia akan menjadi orang yang paling dia benci.


Dia menginjak gas lebih dalam. Kecepatan mobilnya bertambah. Dia tidak bisa mengambil risiko lagi.


Tidak kali ini.


🍒🍒🍒


Jeje mencoba menarik napas di tengah kegelapan yang menyesakkan. Jantungnya berdegup begitu cepat hingga terasa sakit di dadanya. Rantai dingin yang membelit pergelangannya membuatnya sadar bahwa dia benar-benar telah dijebak.


Lalu, suara langkah kaki itu semakin mendekat.


Dari remang-remang, sesosok siluet muncul di hadapannya. Cahaya redup dari lampu luar ruangan menyinari wajah seseorang dia kenali—Jia Li.


Mata Jia Li penuh emosi, wajahnya tegang seolah menahan ledakan yang sudah lama ingin ia lepaskan.


"Jia-ssi...," panggil Jeje, mencoba tetap tenang meski tubuhnya mulai gemetar.


Namun, panggilan itu justru membuat Jia Li semakin murka.


"Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu itu!!!" Jia Li menjerit marah sebelum mencengkeram rambut Jeje dan menariknya dengan kasar.


Jeje berteriak kesakitan, kepalanya tertarik ke belakang hingga lehernya menegang. Kulit kepalanya terasa seperti akan tercabut, rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya.


Jia Li mendekat, wajahnya kini hanya beberapa inci dari wajah Jeje yang meringis kesakitan.


"Kau pikir kau siapa?" bisiknya dengan nada penuh kebencian. "Kau datang begitu saja, mencuri semua yang selama ini menjadi milikku, lalu bertingkah seolah-olah kau tidak bersalah?"


What Kind of FutureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang