109 (Jeonghan Version)

182 22 0
                                        


Langit Swiss tampak kelabu saat Jeje berdiri di koridor rumah sakit terkenal di Zurich, menatap pintu kamar pribadi tempat Joseph Tang, kakeknya, dirawat. Bau antiseptik dan suara samar monitor jantung memenuhi udara, menciptakan suasana steril yang terasa asing bagi Jeje. Joseph Tang, pengusaha besar yang pernah menguasai pasar Asia dengan tangan besi, kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit, tubuhnya dikelilingi kabel dan tabung.


Jeje menatapnya dari ambang pintu, tangannya mencengkeram tas kecil di pundaknya. Tidak ada getar di hatinya, tidak ada kehangatan yang muncul. Yang ada hanyalah dinding tak kasat mata—dinding yang dibangun oleh tahun-tahun ketidakhadiran dan sejarah keluarga yang kelam, yang hanya ia dengar sekilas dari cerita-cerita Edward. Joseph adalah kakeknya hanya dalam darah, bukan dalam jiwa.


Nyonya Hong berdiri di sisinya. Matanya yang biasanya tenang kini berkaca-kaca, penuh dengan rasa bersalah yang tak pernah ia ungkapkan sepenuhnya. Membawa Jeje ke Swiss adalah keputusan yang ia buat dengan berat hati—ia tahu Joseph bukan ayah yang baik bagi mendiang putrinya, ibu Jeje, dan kehadiran Jeje di sini terasa seperti pengakuan atas kegagalannya melindungi anak angkatnya dari bayang-bayang masa lalu.


Akan tetapi, membiarkan Jeje tetap berada di Seoul dengan semua luka batin yang dia terima dari S.Coups juga bukan pilihan yang ingin dia ambil. Dia hanya ingin putrinya sembuh. Dia hanya ingin putrinya bahagia.


"Kakekmu ingin bertemu denganmu," katanya pelan, suaranya hampir hilang di antara bunyi mesin di ruangan. Namun, di dalam hatinya, ia meragukan apakah pertemuan ini akan membawa apa pun selain kehampaan bagi Jeje. Nyonya Hong ingin memeluknya, ingin mengusir dinginnya ruangan ini, tapi ia tahu Jeje telah menutup diri, dan itu membuat dadanya terasa sesak.


Edward Wang, pengacara keluarga Tang dan sahabat lama ibu kandung Jeje, berdiri agak jauh, tangannya sibuk memainkan pena di saku jasnya—kebiasaan lama saat ia gelisah. Ia mengenal Joseph lebih dari sekadar klien; ia tahu sisi gelapnya, sisi yang membuat ibu Jeje pergi dari keluarga ini bertahun-tahun lalu. Melihat Jeje berdiri di depan ranjang Joseph, Edward merasakan campuran emosi yang sulit diurai—rindu pada sahabatnya yang telah tiada, dan kemarahan pada Joseph yang tak pernah berubah hingga akhir hayatnya.


"Kondisinya semakin buruk," katanya pada Nyonya Hong, suaranya datar, tapi matanya penuh dengan beban. Edward ingin melindungi Jeje dari kebenaran yang mungkin terungkap, tapi ia tahu Jeje cukup kuat untuk menghadapinya, meski dengan caranya sendiri.


🍒🍒🍒


Dua minggu kemudian, Joseph Tang meninggal dunia pada pagi yang dingin, ketika kabut tebal menyelimuti jendela rumah sakit. Jeje hadir di pemakaman, berdiri di antara karangan bunga mewah yang dikirim oleh para kolega Joseph. Ia menatap peti mati mahoni yang mengilap, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Jasad di dalamnya hanyalah simbol—pengusaha besar yang pernah ditakuti, tapi bagi Jeje, ia tak lebih dari orang asing dengan nama yang sama di pohon keluarga.


Di dalam hatinya, ada kekosongan yang aneh, bercampur dengan sedikit kelegaan. Ia tidak merasa kehilangan, karena ia tak pernah memiliki apa pun untuk dilepaskan. Namun, ada juga rasa penasaran yang samar—mengapa Joseph ingin bertemu dengannya? Pertanyaan itu menggantung, tapi Jeje terlalu lelah untuk mencari jawaban.


Nyonya Hong menangis pelan di sampingnya, saputangan putihnya basah oleh air mata. Bagi Nyonya Hong, kematian Joseph adalah penutup dari luka lama—luka yang ia saksikan saat ibu Jeje menderita di bawah bayang-bayang ayahnya. Ia merasa bersalah karena membawa Jeje ke sini, tapi juga lega karena semua telah usai.


Edward menghela napas panjang, matanya tertuju pada peti mati yang mulai diturunkan ke liang lahat. Baginya, kematian Joseph adalah akhir dari tanggung jawab yang selama ini ia pikul sebagai pengacara keluarga Tang. Tapi lebih dari itu, ia merasa kehilangan—bukan untuk Joseph, melainkan untuk Jacelyn, yang pernah menjadi sahabatnya.


What Kind of FutureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang