Tiga tahun setelah proyek All Good selesai....
Apakah kisah S.Coups dan Jeje akan menemukan akhir bahagianya
Atau justru mereka akan berpisah selamanya.....
Inspired by :
Woozi - What Kind Of Future
Highest Rank :
#1 in carat (13032024)
#8 in yoon...
Asap tipis mengepul dari panggangan, membawa aroma daging yang terbakar sempurna. Suara gemericik sungai Han berpadu dengan riuh rendah obrolan para pengunjung restoran barbeque yang berjejer di tepiannya. Di antara mereka, Jeonghan dan Jeje duduk berhadapan, dikelilingi piring-piring kecil berisi berbagai banchan dan kaleng kola yang baru saja dibuka.
Jeje masih diam, kedua tangannya bersedekap di atas meja. Matanya menatap kosong pada potongan daging yang baru saja diletakkan di atas panggangan oleh Jeonghan. Pria itu, seolah tidak ingin membiarkan keheningan mendominasi, menyenggol kaki Jeje pelan di bawah meja.
"Hei, kesayanganku ini tidak sedang diet, kan?" tanyanya santai, sambil membalik potongan daging dengan cekatan.
Jeje mendengus kecil, tapi bibirnya tetap datar. "Noona tidak pernah diet, Han."
"Bagus," Jeonghan tersenyum jahil. "Karena kalau kau tiba-tiba bilang ingin diet, aku akan langsung menyeretmu ke dokter."
Jeje mendelik, tapi tak membalas. Ia hanya menghela napas pelan, kembali menatap sungai yang terbentang tak jauh dari tempat mereka duduk.
Jeonghan mengamati wajahnya sejenak sebelum mengangkat alis. "Jadi, bagaimana? Apa Noona pikir kita akan masuk Dispatch kalau makan malam di sini?"
Jeje akhirnya menoleh, sedikit mengernyit. "Apa?"
"Dispatch," ulang Jeonghan santai, menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya. "Tempat ini kan cukup terkenal di kalangan idol. Kau tahu sendiri, Sungai Han adalah tempat favorit pasangan idol yang mau pacaran diam-diam."
Jeje mendengus kecil. "Kalau begitu, kenapa kau malah mengajak Noona ke sini?"
Jeonghan menyeringai. "Biar dunia tahu kalau aku punya kesayangan yang paling manis di dunia."
Jeje meliriknya malas, lalu meneguk kola di gelasnya. "Noona dan Coups dulu nggak pernah pacaran di tempat umum."
Jeonghan yang sedang membalik daging langsung menoleh, alisnya terangkat tipis. Jeje sendiri baru menyadari ucapannya setelah kalimat itu keluar. Udara terasa membeku sesaat.
Jeonghan mengerjap pelan, lalu menarik napas. "Maaf."
Jeje menatapnya, lalu tersenyum kecil. "Tidak apa-apa."
Untunglah, saat itu juga, pelayan datang membawa tambahan daging pesanan mereka. Jeonghan segera memanfaatkannya untuk mengalihkan topik.
"Oke, sekarang kau harus makan," ujarnya, mengambil sepotong daging, membungkusnya dengan daun perilla, lalu menyodorkannya ke mulut Jeje. "Ayo, buka mulutmu."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jeje mengerutkan kening. "Noona bisa makan sendiri."
"Tidak bisa. Kesayanganku ini sedang sedih, jadi aku harus memastikan kau makan dengan benar."