97 (Revisi)

535 76 7
                                        

Noona sudah membuat keputusan. Noona akan mundur dari agensi dan meninggalkan Korea Selatan. Noona ingin menemui kakek Noona dan menemani beliau di sana sampai beliau sembuh. Terima kasih untuk pengertian kalian. Noona usahakan kita semua bisa bertemu sebelum waktu keberangkatan Noona ditentukan.


Ruangan yang awalnya dipenuhi suara candaan ringan sebelum syuting kini berubah menjadi penuh ketegangan. Sejak pesan dari Jeje masuk, tidak ada satu pun yang berbicara selama beberapa detik, seolah semuanya masih berusaha memastikan bahwa mereka tidak salah membaca. Namun, keheningan itu langsung pecah saat Wonwoo meledak.


BRAK !!!!!


Ponselnya menghantam meja dengan keras, nyaris terpental ke lantai. Kursi yang didudukinya juga ikut terseret ke belakang dengan kasar, membuat beberapa anggota yang duduk di dekatnya sedikit tersentak. Tanpa memberi siapa pun kesempatan untuk mencegahnya, Wonwoo langsung melangkah dengan langkah besar, tubuhnya dipenuhi amarah yang mendidih.


Dalam sekejap, ia sudah berada di hadapan S.Coups.


Tanpa peringatan, tangan Wonwoo mencengkeram kerah S.Coups dengan erat, menarik pemimpin mereka dengan paksa hingga berdiri. Seluruh ruangan langsung terasa semakin menyempit oleh aura panas yang terpancar dari Wonwoo.


"Apa yang sudah Hyung lakukan pada Jeje Noona sampai dia memutuskan untuk pergi?!" suaranya menggelegar, membuat beberapa anggota langsung menahan napas.


Mereka semua terkejut. Ini bukan Wonwoo yang biasanya tenang dan rasional. Ini adalah Wonwoo yang benar-benar meledak, sesuatu yang hampir tidak pernah mereka lihat.


S.Coups terhuyung sedikit ke depan akibat tarikan itu, namun tatapannya tetap teguh. Matanya menatap langsung ke dalam mata Wonwoo, yang penuh dengan kemarahan dan luka.


"Lepaskan aku, Jeon Wonwoo," desis S.Coups dengan suara rendah, berusaha menjaga ketenangannya meskipun hatinya berdebar keras.


Namun, Wonwoo tidak bergeming. "Aku tidak akan melepaskan Hyung sampai Hyung mengatakan yang sebenarnya!"


Kali ini, suaranya lebih tajam, lebih dingin. Tangannya semakin kuat mencengkeram kerah baju S.Coups, membuat lipatan kain itu sedikit menegang di antara jari-jarinya. Beberapa anggota mulai gelisah, sadar bahwa situasi ini bisa berubah menjadi fisik kapan saja.


Joshua langsung melirik Jun dan Mingyu, memberi isyarat untuk membantu memisahkan mereka. Tapi sebelum mereka bisa bergerak, Jeonghan tiba-tiba mengangkat tangannya, menahan mereka.


"Biarkan saja dulu," ucap Jeonghan dengan nada datar, tapi matanya mengawasi dengan tajam. "Aku ingin melihat sejauh mana mereka bisa melampiaskan emosi mereka."


Joshua mengernyit, tidak setuju, tapi akhirnya mengalah.


Kembali ke tengah ruangan, Wonwoo masih menatap S.Coups dengan tatapan tajam yang seakan bisa menusuk.


"Apa yang Hyung katakan pada Jeje Noona kemarin?! Hyung pasti menyakiti dia lagi, kan?!"


S.Coups tidak langsung menjawab. Ia menatap Wonwoo beberapa detik, seolah menimbang-nimbang apakah kata-katanya akan memperburuk situasi atau tidak.


Akhirnya, ia menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara. "Aku hanya datang ke sana dan menjelaskan semuanya."


Wonwoo menyipitkan mata. "Menjelaskan apa?"


"Tentang video itu, tentang rekam media itu, tentang pertunanganku dengan Jia Li..."


Dan seketika itu juga, napas Wonwoo terhenti sesaat. Namun, bukan karena keterkejutan, melainkan karena kemarahannya semakin meluap.


What Kind of FutureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang