103 (Jeonghan Version)

245 29 4
                                        


Jeonghan duduk dengan tenang di kursi ruang tamu, menatap pria di hadapannya dengan ekspresi netral. Di seberangnya, Edward Wang duduk tegak, jasnya tetap rapi meski sudah menempuh perjalanan jauh. Keduanya tampak sangat kontras. Jeonghan hanya mengenakan kaus kebesaran dan celana olahraga, sementara Edward tetap dengan kesan profesional yang sempurna.


Ibu Jeonghan baru saja menghidangkan teh untuk mereka sebelum beranjak ke dapur, meninggalkan dua pria itu dalam percakapan yang, meskipun masih bersifat basa-basi, jelas mengarah pada sesuatu yang lebih serius.


Edward mengangkat cangkirnya, meniup uap teh dengan perlahan sebelum menyesapnya. "Saya baru saja bertemu dengan anak-anak Dream," katanya akhirnya, membuka percakapan dengan nada santai namun tetap terukur.


Jeonghan menoleh, sedikit mengangkat alis. "Begitu?"


Edward tersenyum kecil. "Lima pemuda yang sangat penuh semangat. Saya hampir merasa terintimidasi."


Jeonghan terkekeh pelan. "Itu memang khas mereka."


Edward meletakkan cangkirnya dengan hati-hati. "Mereka memaksa datang ke rumah saya, ingin bertemu dengan Jennifer secara langsung. Lucunya, mereka bertanya di hadapan saya apakah Jennifer merasa dirinya dalam bahaya."


Jeonghan tidak bisa menahan senyum samar. "Itu juga khas mereka. Mereka selalu blak-blakan. Apalagi jika itu ada hubungannya dengan noona kesayangan mereka"


Edward mengangguk kecil. "Mereka sangat peduli pada Jennifer. Saya bisa melihat itu dengan jelas." Ia menatap Jeonghan sejenak sebelum melanjutkan. "Namun, saya rasa Anda sudah tahu itu jauh sebelum saya menyadarinya."


Jeonghan tidak segera menjawab. Ia hanya mengangkat cangkirnya, menyesap teh hangatnya sebelum akhirnya berkata, "Saya kira, Anda tidak datang kemari hanya untuk membicarakan Dream."


Edward tersenyum tipis. "Anda benar." Ia menarik napas pelan, menatap Jeonghan dengan lebih serius. "Saya datang untuk menyampaikan ucapan terima kasih."


Jeonghan menatapnya dengan kening berkerut. "Terima kasih?"


Edward mengangguk. "Saya sudah mendapatkan semua laporannya. Saya tahu apa yang telah Anda lakukan untuk Jennifer selama tiga tahun terakhir."


Jeonghan tetap diam, menunggu Edward melanjutkan.


"Saya tahu bahwa Anda adalah orang yang berdiri di barisan depan ketika Jennifer dikeluarkan dari perusahaan lamanya karena skandal yang tidak sepenuhnya salahnya. Saya tahu bahwa ketika Jia Li muncul dan mencoba menghancurkan reputasi Jennifer, Anda juga yang memastikan bahwa kebenaran tidak tenggelam begitu saja."


Ekspresi Jeonghan tidak berubah, tetapi tangannya mengepal di atas pahanya.


Edward melanjutkan dengan nada yang tetap tenang namun penuh penekanan. "Saya juga tahu bahwa Anda menyewa detektif swasta, mengancam perusahaan besar, dan bahkan melabrak sahabat Anda sendiri demi membela Jennifer. Terakhir kali saya dengar, Anda sampai menggunakan alat penyadap untuk mendapatkan isi ponsel Jia Li, bukan?"


Jeonghan menatap Edward tanpa ekspresi. "Anda benar-benar sudah mencari tahu segalanya."


Edward tersenyum tipis. "Saya hanya memastikan bahwa saya memahami siapa saja orang-orang yang berada di sisi Jennifer."


Jeonghan menghela napas pendek. "Saya hanya melakukan apa yang saya anggap benar."


Edward menatapnya dengan tajam. "Benarkah?"


What Kind of FutureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang