110 (Wonwoo Version)

233 13 6
                                        

Langit Seoul pada akhir musim semi menyapa dengan lembut, sinar matahari yang hangat menyelinap di antara gedung-gedung tinggi, menciptakan bayangan lembut di trotoar yang ramai. Jeje, setelah satu tahun penuh perjuangan di Glasgow, akhirnya kembali ke kota yang ia anggap rumah. Namun, kepulangannya kali ini diselimuti rahasia. Ia ingin memberikan kejutan, bukan hanya untuk teman-temannya di Seventeen, tetapi juga untuk seseorang yang selalu menunggunya,


Sayangnya, kepulangan Jeje tidak berjalan mulus. Nyonya Hong, tanpa sengaja membocorkan rencana itu kepada Joshua, yang dengan antusiasme yang sulit ditahan, menyebarkan kabar itu dalam grup obrolan Seventeen. Kabar itu menyebar seperti angin, dari Vernon yang langsung mengirim pesan ke Dino, hingga Mingyu yang dengan semangat merencanakan pesta kecil untuk menyambut Jeje.


Akan tetapi, ketika kabar itu sampai ke Wonwoo, reaksinya berbeda. Ia merasa dunia sejenak terhenti. Jeje kembali, tetapi mengapa ia tidak mengatakan apa pun kepadanya? Rasa kecewa bercampur dengan kerinduan yang selama ini ia pendam membuat langkahnya terasa berat saat ia pulang ke apartemennya usai melaksanakan jadwal grup.



Apartemen Wonwoo dan Mingyu, dengan dinding berwarna abu-abu lembut dan furnitur minimalis, terasa hening. Hanya suara kunci yang berderit saat ia membuka pintu mengisi keheningan. Ia melepaskan jaketnya dengan lesu, pikirannya dipenuhi pertanyaan.


Namun, saat pintu terbuka lebar, aroma harum masakan Korea menyapa indera penciumannya. Bau bulgogi yang manis dan sedikit pedas, bercampur dengan aroma nasi hangat, membuatnya terpaku. Cahaya hangat dari dapur menyelinap ke ruang tamu, dan di sana, di balik meja dapur, berdiri Jeje. Ia mengenakan celemek putih sederhana, rambutnya diikat tinggi, dan tangannya sibuk mengaduk sesuatu di wajan.


"Noona?" Wonwoo terpaku di ambang pintu, suaranya nyaris bergetar, seperti tak percaya pada apa yang dilihatnya.


Jeje menoleh, senyum lebar menghiasi wajahnya yang sedikit memerah karena panas dapur.


"Hai.... Selamat datang...." katanya dengan nada ringan, seolah kehadirannya di sana adalah hal paling wajar di dunia.



Wonwoo melangkah mendekat, masih mencoba mencerna pemandangan di depannya. Jeje ada di sini, di dapurnya, setelah setahun penuh perjuangan dan jarak yang memisahkan mereka.


"Kenapa Noona ada di sini? Kenapa tidak mengabari aku kalau Noona pulang ke Seoul?" tanyanya, nada suaranya bercampur antara kaget, kecewa, dan kerinduan yang tak terucapkan.


Jeje mematikan kompor dengan gerakan tenang, lalu melepas celemeknya dan menggantungkannya di dinding. Ia berbalik, menatap Wonwoo dengan senyum lembut yang selalu berhasil meluluhkan hati pria itu.


"Noona kan sudah bilang. Ada seseorang yang menungguku di Korea," katanya, mengulang kata-kata yang pernah ia ucapkan di jembatan Glasgow.


Kata-kata itu seperti pisau bermata dua bagi Wonwoo. Dadanya berdegup kencang, dan pikiran buruk langsung menerpa.


"Orang itu....Coups Hyung kan?" tanyanya pelan, suaranya dipenuhi keraguan, seolah takut mendengar jawaban yang akan menghancurkan harapannya.


Jeje menggelengkan kepala, lalu melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka hanya beberapa langkah. Matanya menatap lurus ke dalam mata Wonwoo, penuh kejujuran dan kehangatan.


"Hubungan Noona dengan Seungcheol sudah selesai. Orang yang Noona maksud itu kamu, Wonwoo-ya...."


Waktu seolah berhenti. Wonwoo merasa napasnya tersendat, dunia di sekitarnya memudar, hanya menyisakan Jeje dan kata-kata yang baru saja ia ucapkan.


What Kind of FutureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang