106 (Jeonghan Version)

208 20 1
                                        

Pagi itu, di rumah Incheon, aroma teh melati bercampur dengan wangi roti panggang memenuhi ruang makan yang elegan namun hangat. Sinar matahari masuk melalui jendela besar, menerangi meja makan tempat tiga orang duduk dalam keheningan yang nyaman.


Jeje menyesap tehnya pelan, lalu meletakkan cangkir porselen itu kembali ke atas meja. Matanya melirik ke arah Edward, yang duduk di seberangnya dengan ekspresi tenang seperti biasa. Sementara itu, di ujung meja, Nyonya Hong, ibu angkatnya, tengah memotong buah dengan gerakan anggun.


Setelah menarik napas dalam, Jeje akhirnya berbicara. "Aku ingin kembali ke apartemenku sebentar hari ini."


Suasana yang tadinya hangat mulai terasa sedikit lebih tegang setelah Jeje mengutarakan keinginannya untuk kembali ke apartemennya. Sendok perak milik Edward berhenti di udara sebelum akhirnya diletakkan kembali ke piring dengan gerakan yang terlalu terkontrol.


"Buat apa kembali ke sana?" tanyanya tanpa basa-basi.


Jeje sudah menduga reaksi ini. Edward selalu ingin memastikan segalanya berada dalam kendalinya—dan kali ini, dia bisa merasakan bahwa kepergiannya ke apartemen adalah sesuatu yang tidak diinginkan pria itu.


"Aku mau mengambil beberapa barangku," jawabnya tenang.


Edward menatapnya tajam, seolah ingin mengukur apakah permintaan itu bisa dinegosiasikan. "Kamu tidak perlu repot-repot, Jen. Saya bisa menyiapkan semua yang kamu butuhkan di Swiss. Baju, perhiasan, bahkan barang-barang yang lebih bagus dari yang kau miliki di apartemen itu. Kau hanya tinggal memilih."


Jeje menghela napas, menatap pria itu dengan sorot mata yang tak berubah. "Bukan soal barang-barang itu, Edward."


Ketegangan tipis menggantung di udara. Dari sudut meja, Nyonya Hong yang sejak tadi diam akhirnya menurunkan sendoknya dengan anggun dan menatap dua orang yang ada di hadapannya.


"Tuan Wang," suaranya lembut, tapi ada ketegasan yang tidak bisa dibantah. "Biarkan Jeje pergi."


Edward mengalihkan pandangannya ke ibu angkat Jennifer.


"Jeje adalah orang yang menghargai pemberian orang lain," lanjutnya, sorot matanya mengarah pada Jennifer dengan penuh pemahaman seorang ibu. "Di apartemennya, ada banyak barang dari orang-orang terdekatnya. Dia mungkin tidak akan membawa semuanya, tapi dia pasti ingin membawa sesuatu yang bisa mengobati kerinduannya nanti."


Jennifer menunduk sedikit, merasakan kehangatan dari kata-kata Nyonya Hong. Wanita itu memang selalu tahu bagaimana memahami perasaannya, bahkan sebelum ia sendiri bisa mengatakannya dengan jelas.


Edward tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Jennifer lama seolah mencoba mencari alasan lain untuk membantah. Tapi pada akhirnya, ia menghela napas.


"Baiklah," katanya, meskipun jelas sekali bahwa ia tidak sepenuhnya setuju. "Tapi jangan terlalu lama."


Jennifer mengangguk kecil. "Aku tahu."


🍒🍒🍒


Mobil berhenti di depan gedung apartemen. Jeje menatapnya dari balik jendela, mendadak merasa enggan untuk turun. Bangunan itu tidak berubah, tapi rasanya seperti ada jarak yang terbentuk sejak terakhir kali ia berada di sini.


Ketika akhirnya melangkah masuk ke dalam lobi, keheningan menyambutnya. Tidak ada suara langkah kaki lain, tidak ada suara gaduh yang biasa terdengar dari tetangga sebelah. Hanya suara lembut sepatu haknya yang beradu dengan lantai marmer.


What Kind of FutureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang