Setelah kedatangan Jeonghan dengan buku berisi sticky notes, kehidupan Jeje mulai menemukan pola baru. Meskipun tanggung jawab sebagai pewaris Tang Corp tetap membebani, kehadiran Jeonghan menjadi penyegar yang tak pernah ia sangka akan begitu berarti.
Jeonghan, meski memiliki jadwal padat sebagai seorang idola, selalu menyempatkan diri untuk datang—kadang-kadang seorang diri, kadang-kadang bersama Joshua yang membawa cerita hangat tentang kehidupan di Seoul, atau bersama Dino dan Woozi yang datang dengan candaan ringan dan semangat khas mereka.
Percakapan mereka sering kali berkisar pada anggota Seventeen lainnya. Mingyu, Dokyeom, Seungkwan, dan Vernon, yang sedang menjalani wajib militer, menjadi topik yang kerap muncul.
"Mingyu pasti sedang memamerkan ototnya di barak," ujar Jeonghan suatu hari dengan nada bercanda, membuat Jeje tersenyum tipis.
"Dokyeom mungkin bernyanyi di tengah latihan, membuat komandannya kebingungan," tambah Dino, sementara Woozi hanya menggelengkan kepala sambil berkomentar,
"Seungkwan pasti menjadi penyemangat di sana, tetapi Vernon... entah mengapa aku yakin dia hanya akan tidur sepanjang hari."
Tak jarang mereka juga menggoda Dino, anggota terakhir yang akan menjalani tugas negara.
"Apa kau siap menjadi maknae di barak, Chan?" tanya Joshua dengan senyum licik, membuat Dino memutar mata sambil menjawab,
"Hyung, aku akan menjadi yang paling disiplin, lihat saja nanti!" Jeje selalu tertawa kecil mendengarnya, dan tawa itu—meski sederhana—mampu mengusir kejenuhan yang sering menyelimuti hari-harinya.
Kedatangan Jeonghan menjadi kebiasaan yang tak terucapkan. Setiap kali Jeje merasa tertekan oleh rapat-rapat panjang atau tumpukan dokumen Tang Corp, Jeonghan muncul—entah sambil membawa mainan-mainan konyol atau sekadar duduk di sisinya sambil bermain ponsel, mengisi keheningan dengan kehadirannya yang tenang.
Kadang-kadang ia datang dengan cerita lucu tentang Hoshi yang mencoba koreografi baru, atau Jun yang sibuk dengan proyek aktingnya di Tiongkok, atau Minghao yang mengirim foto lukisan terbarunya. Jeonghan selalu ada, bagaikan mercusuar di tengah kabut tebal kehidupan Jeje.
Satu tahun berlalu dengan cepat. Kini dia menetap di Shanghai, bukan lagi di Zurich. Jeje mulai terbiasa dengan perannya, meskipun terkadang ia masih merasa asing dengan dunia bisnis yang dingin itu. Edward dan Nyonya Hong melihat perubahan kecil dalam dirinya—matanya tak lagi kosong, ada sedikit cahaya yang kembali, dan mereka tahu itu berkat Jeonghan. Namun, Jeje tak pernah mengakuinya, bahkan kepada dirinya sendiri.
Hingga tiba hari ulang tahunnya. Jeje menunggu, seperti biasa, dengan harapan kecil yang tak ia akui. Namun, hari itu berlalu tanpa kehadiran Jeonghan. Tidak ada pesan, tidak ada telepon, tidak ada suara khas yang biasa menggodanya.
Ia merasa hampa, seolah ada bagian dari dirinya yang hilang. Sepanjang hari, ia gelisah—membentak asisten tanpa alasan jelas, menutup buku laporan dengan keras, dan bahkan menolak kue kecil yang dibawa Nyonya Hong.
"Jeje-ya..... ada apa denganmu hari ini?" tanya Nyonya Hong dengan nada lembut, meskipun ada senyum kecil di wajahnya yang seolah mengetahui sesuatu.
"Jeonghan lupa ulang tahunmu, ya?" goda Edward dari sudut ruangan, matanya berbinar nakal sambil memainkan pena di tangannya.
Jeje hanya mendengus, "Aku baik-baik saja. Dia sibuk, aku mengerti," jawabnya datar, tetapi nada suaranya tak dapat menyembunyikan kekecewaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
What Kind of Future
FanfictionTiga tahun setelah proyek All Good selesai.... Apakah kisah S.Coups dan Jeje akan menemukan akhir bahagianya Atau justru mereka akan berpisah selamanya..... Inspired by : Woozi - What Kind Of Future Highest Rank : #1 in carat (13032024) #8 in yoon...
