98 (Revisi)

647 79 10
                                        

Ruangan itu masih terasa hampa meski sudah berjam-jam berlalu sejak pesan Jeje masuk ke ponsel mereka. Kepergian Wonwoo dari ruangan seperti membawa serta seluruh panas dan kemarahan yang tadi memenuhi udara. Wonwoo tidak kembali ke ruang tunggu setelah Hoshi menariknya keluar. Beberapa dari mereka tahu pasti bahwa Wonwoo masih diliputi amarah dan kesedihan, dan tidak ada yang berani mengganggunya. Tapi bukannya mereda, ruangan itu kini terasa jauh lebih sunyi dan dingin.


Beberapa anggota masih duduk diam di tempatnya, seolah tubuh mereka terlalu berat untuk bergerak. Ada yang menatap ponsel dengan kosong, berharap pesan lain akan masuk dan mengatakan bahwa semua ini hanyalah lelucon. Ada yang bersandar dengan mata terpejam, mencoba menenangkan diri. Tapi tak ada satu pun yang berbicara.


Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang bergerak.


Beberapa dari mereka masih menatap kosong ke arah meja, tempat ponsel Wonwoo sebelumnya menghantam dengan keras. Sebagian lagi menghindari kontak mata satu sama lain, takut melihat refleksi ketakutan dan kesedihan mereka sendiri di wajah-wajah rekannya.


Suasana itu sangat tidak biasa. Seventeen bukan grup yang terbiasa dalam keheningan seperti ini. Biasanya, akan ada candaan ringan, tawa, atau setidaknya suara ribut dari beberapa anggota yang suka bermain-main. Tapi kali ini, semuanya terasa berbeda.


Terasa... sepi.


S.Coups duduk di sudut ruangan, wajahnya tersembunyi di antara kedua telapak tangannya. Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menyalahkannya, tapi di saat yang sama, mereka juga tidak bisa mengabaikan rasa kecewa yang kini menggantung di udara. Masing-masing anggota tenggelam dalam pikirannya sendiri, berusaha mencerna kenyataan bahwa Jeje benar-benar akan pergi. Mereka semua membaca ulang pesan itu, seolah berharap ada kata-kata yang tersembunyi di antara baris-barisnya, sesuatu yang bisa memberi mereka harapan bahwa keputusan ini tidak final.


Tapi tidak ada.


Keputusan Jeje sudah bulat.


🍒🍒🍒

Perasaan sedih yang menggelayuti para anggota Seventeen terus berlangsung sampai syuting mereka selesai hari itu. Woozi salah satunya. Dia memilih untuk tidak langsung kembali ke apartemen seperti anggota yang lain, namun justru mengunci diri di dalam studio musik miliknya itu.


Jeonghan memandangi Woozi yang masih mematung di depan keyboard. Cahaya lampu ruangan latihan yang hangat menyinari wajahnya, tetapi ada bayangan gelap di matanya yang tidak bisa disembunyikan. Woozi jarang menunjukkan emosinya, tetapi saat ini, semuanya begitu jelas: kebingungan, frustrasi, dan rasa kehilangan yang mulai menggerogoti dirinya.


Jeonghan menghela napas panjang. Ia tidak terbiasa melihat Woozi seperti ini—hampa, seperti kehilangan arah. "Woozi-ya," panggilnya lembut, suaranya hampir berbisik, takut mengganggu pikiran yang mungkin sedang berlarian di kepala Woozi.


Woozi tetap diam, pandangannya tidak beranjak dari keyboard di depannya. Jemarinya yang biasanya lincah kini hanya mengetuk-ngetuk pelan tuts tanpa menghasilkan suara apa pun. Setelah beberapa detik, ia akhirnya berbicara, suaranya lirih, hampir tidak terdengar.


"Aku sedang mencoba menulis sesuatu untuknya," gumamnya. "Tapi... tidak ada nada yang terasa benar."


Jeonghan mengangguk, meskipun Woozi tidak melihatnya. Ia tahu betapa pentingnya musik bagi Woozi, bagaimana Woozi sering menggunakan lagu untuk mengekspresikan perasaannya ketika kata-kata tidak cukup. Namun kali ini, bahkan musik pun tampaknya tidak bisa membantunya.


What Kind of FutureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang