Jeonghan tidak langsung pulang ke apartemennya setelah meninggalkan studio Woozi. Alih-alih, ia mengambil mobilnya dan mengemudi tanpa tujuan, membiarkan pikirannya melayang bersama suara lembut lagu-lagu di radio. Namun, semakin jauh ia pergi, semakin ia merasa hampa.
Entah bagaimana, tanpa sadar, ia menemukan dirinya berada di depan rumah orang tuanya.
Ia tidak sering pulang ke rumah, bukan karena ia tidak merindukan mereka, tetapi karena kesibukan dan kehidupannya sebagai idol selalu menariknya kembali ke dunia yang serba cepat. Tapi malam ini... ia hanya ingin pulang.
Saat ia memasuki rumah, suasana yang hangat langsung menyambutnya. Aroma masakan ibunya masih tersisa di udara, dan suara tawa pelan terdengar dari ruang tengah, di mana ayah dan adiknya sedang menonton televisi. Namun, ketika mereka menyadari kehadirannya, tawa itu langsung menghilang.
"Jeonghan-ah?" Ibu menghampirinya lebih dulu, matanya berbinar karena rindu. "Kau pulang tanpa memberi tahu Eomma?"
Jeonghan hanya mengangguk kecil. "Maaf, aku... hanya ingin pulang."
Ayahnya menatapnya lama, sebelum akhirnya ikut berbicara. "Ada apa, Nak? Kau terlihat..."
"Lelah," potong adiknya,yang sejak tadi menatapnya dengan cemas. "Oppa, kau baik-baik saja?"
Jeonghan tersenyum kecil, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Aku baik-baik saja."
Namun, tidak ada yang benar-benar percaya.
Ibunya mendekati, tangannya terangkat untuk mengusap pipi Jeonghan seperti yang biasa ia lakukan sejak kecil, tetapi Jeonghan mundur selangkah.
"Aku ingin istirahat dulu," katanya pelan, lalu berbalik menuju kamarnya.
Begitu ia masuk ke dalam, ia mengunci pintunya dan bersandar di sana, menghela napas panjang. Kamar ini masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan—dinding dengan warna lembut, rak buku yang penuh dengan komik-komik lama, serta tempat tidur yang masih terasa seperti pelukan nyaman dari masa kecilnya. Tapi tidak ada yang bisa benar-benar membuat perasaannya lebih baik.
Ia melangkah ke ranjang, duduk di tepinya, menatap kosong ke arah lantai.
Lalu, tanpa peringatan, air mata mulai jatuh.
Jeonghan tidak menangis dengan suara keras. Tidak ada isakan, tidak ada suara yang lolos dari bibirnya. Ia hanya menunduk, membiarkan air matanya jatuh begitu saja.
Ia tidak tahu berapa lama ia bertahan seperti itu. Yang ia tahu, kepalanya mulai berdenyut, dadanya terasa semakin sesak, dan ada beban berat yang menekan hatinya.
Di luar, ia bisa mendengar suara langkah kaki mendekat.
"Jeonghan?" Itu suara ibunya, lembut dan penuh kekhawatiran. "Nak, apa kau baik-baik saja?"
Jeonghan tidak menjawab.
"Kau bisa bercerita pada Eomma kalau ada sesuatu yang mengganggumu."
Tetap tidak ada jawaban.
Dari balik pintu, ibunya menghela napas pelan. "Eomma tahu kau selalu mencoba kuat untuk orang lain. Tapi, Nak... kau juga berhak merasa sedih."
Kalimat itu seharusnya terasa menenangkan, tetapi justru semakin membuat dada Jeonghan sesak.
"Aku tidak ingin bicara sekarang, Eomma...." katanya akhirnya, suaranya serak.
KAMU SEDANG MEMBACA
What Kind of Future
FanfictionTiga tahun setelah proyek All Good selesai.... Apakah kisah S.Coups dan Jeje akan menemukan akhir bahagianya Atau justru mereka akan berpisah selamanya..... Inspired by : Woozi - What Kind Of Future Highest Rank : #1 in carat (13032024) #8 in yoon...
