106 (S.Coups Version)

382 41 13
                                        

Malam itu, Joshua sedang dalam perjalanan menuju rumah Incheon bersama Woozi dan Dino, sesuai dengan rencana yang telah disusun. Namun, dering ponselnya memecah keheningan di dalam mobil. Layar menampilkan nama ibunya. Dengan cepat, Joshua mengangkat panggilan tersebut, berusaha tenang ketika bersuara.


"Nde, Eomma?"


"Shua-ya..... Apa Jeje datang ke agensi ?"


Degup jantung Joshua mulai meningkat.


"Tidak..... Kami justru sedang di dalam perjalanan untuk bertemu dengan Jeje Noona.... Memangnya kenapa, Eomma ?"


"Jeje menghilang dari rumah," suara ibunya terdengar cemas. "Kami sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tidak menemukannya."


Joshua langsung menyalakan lampu sein, memilih untuk menepi demi keselamatan pengendara yang lain. Woozi dan Dino mendekatkan diri ke arah Joshua, penasaran dengan percakapan antara Joshua dan ibunya. Joshua memutuskan untuk mengalihkan percakapan ke dalam mode pengeras suara.


"Sejak kapan Jeje Noona pergi ?"


"Eomma tidak tahu.... Lima belas menit yang lalu Eomma masuk ke kamarnya dan dia sudah tidak ada.... Eomma sudah memberitahu Edward.... Dia juga sudah mengerahkan orang-orang untuk mencari Jeje....."


Joshua, Dino dan Woozi saling berpandangan. Gurat kekhawatiran tampak jelas di wajah ketiganya. Joshua menghela napas panjang untuk mengendalikan emosi sebelum kembali menyahuti sang ibu.


"Terima kasih sudah memberitahuku, Eomma.... Biar kami mencarinya..... Mungkin Jeje Noona mendatangi panti asuhan, anak-anak Dream atau pulang ke apartemen miliknya. Akan kukabari jika kami menemukannya....."



🍒🍒🍒



"Jeonghan-ah, Jeje Noona menghilang dari rumah. Ibuku baru saja memberitahuku. Tapi dia tidak bisa memberi estimasi sejak kapan Jeje Noona pergi.... Edward Wang saat ini juga sedang mencari Jeje Noona" kata Joshua tanpa basa-basi.


Jeonghan terdiam sejenak, mencerna informasi tersebut. Pikirannya berputar cepat, menghubungkan hilangnya S.Coups dan Jeje dalam waktu yang hampir bersamaan. Instingnya mengatakan bahwa ini bukan kebetulan.


"Shua-ya, aku akan membagikan lokasiku saat ini. Beritahu Edward Wang dan anggota Seventeen lainnya. Kita harus bergerak cepat."


"Baiklah Han...."



Jeonghan mengirimkan lokasi aktifnya kepada Joshua, lalu menoleh ke Hoshi yang duduk di sebelahnya. "Tekan pedal gas yang dalam, Hoshi-ya....  Sesuatu yang buruk mungkin telah terjadi."


Hoshi mengangguk, wajahnya serius. "Siap, Hyung !!! Horanghaeeeeee !!!!"


Mereka melaju dengan kecepatan tinggi, mengikuti sinyal terakhir dari ponsel S.Coups yang berhenti di depan sebuah gedung tua, sekitar satu jam perjalanan dari agensi. Ketegangan memenuhi udara di dalam mobil, masing-masing tenggelam dalam pikiran dan kekhawatiran mereka sendiri.


Sesampainya di lokasi, Jeonghan dan Hoshi menghentikan kendaraan di kejauhan, mengamati situasi sekitar. Gedung tua itu tampak sepi, namun aura ancaman terasa jelas. Tiba-tiba, suara letusan senjata memecah keheningan malam.


"Itu dari dalam!" Hoshi berseru, matanya melebar.


Tanpa ragu, mereka berdua berlari menuju gedung, adrenalin memacu langkah mereka. Pintu utama tidak terkunci, dan mereka menerobos masuk dengan hati-hati namun cepat. Di dalam, lorong-lorong gelap menyambut mereka, hanya diterangi oleh cahaya remang-remang dari lampu tua yang berkedip-kedip.


What Kind of FutureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang