109 (Joshua Version)

227 16 3
                                        




"Dan jika Noona merasa tidak bisa melangkah, aku akan membawamu pergi. Aku Janji."



Kata-kata yang diucapkan oleh Joshua ketika Jeje dirawat di rumah sakit bukan sekedar janji manis untuk menenangkan perempuan itu saja. Joshua benar-benar membuktikan ucapannya. Dia benar-benar membawa Jeje pergi ketika perempuan itu memintanya.


Dan disinilah mereka berdua. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui jendela kereta yang melaju pelan, menerangi wajah Jeje yang bersandar pada bingkai jendela. Pemandangan perbukitan hijau Tuscany berlalu di luar, hamparan kebun anggur dan rumah-rumah batu kuno menciptakan ilusi bahwa waktu berjalan lebih lambat di sini. Jeje menarik napas dalam, udara segar Eropa yang bercampur aroma kayu dari gerbong kereta mengisi paru-parunya, mengusir sisa-sisa kepenatan yang masih melekat dari sidang-sidang pengadilan yang dia lewati di negara asal ibunya.


Di seberangnya, Joshua duduk dengan santai, kemeja lengan panjangnya digulung hingga siku, dan sepasang earphone tergantung longgar di lehernya. Ia sedang membaca buku panduan wisata, alisnya sedikit berkerut saat mencoba memahami peta jalur kereta menuju Florence. Sesekali, ia melirik Jeje, memastikan ekspresi wajahnya tidak lagi dipenuhi awan kelabu seperti saat mereka meninggalkan rumah sakit dua minggu lalu.


"Kau suka pemandangannya, Noona?" tanya Joshua, suaranya lembut, hampir tenggelam dalam deru pelan mesin kereta.


Jeje tersenyum tipis, matanya masih terpaku pada hamparan hijau di luar.


"Ini... seperti mimpi. Aku tidak pernah membayangkan bisa berada di tempat seperti ini." Ia menoleh, menatap Joshua dengan pandangan penuh rasa syukur.


"Terima kasih, Shua-ya. Kau benar-benar menepati janjimu."


Joshua terkekeh pelan, meletakkan buku panduannya di meja kecil di antara mereka.


"Aku bilang, kan? Kalau Noona merasa tidak bisa melangkah, aku akan membawamu pergi. Dan sekarang, kita di sini." Ia mencondongkan tubuh ke depan, siku bertumpu pada meja, matanya berkilau penuh semangat.


"Tuscany, Paris, Amsterdam... dan masih ada banyak lagi yang akan kita jelajahi. Kau pilih tujuan berikutnya, Noona. Aku ikut."


Jeje tertawa kecil, suara yang sudah lama tidak ia dengar dari dirinya sendiri.


"Kau terlalu memanjakanku. Apa kata Jeonghan fan yang lain waktu mereka tahu kau menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk menemaniku jalan-jalan?"


Joshua mengangkat bahu, senyum nakalnya muncul.


"Jeonghan dan Woozi bilang mereka akan menggantikan bagianku di panggung, asal aku menjaga Noona dengan baik. Dan kau tahu Jeonghan dan Woozi—mereka tidak pernah main-main soal janji." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih serius, "Tapi aku serius, Noona. Aku ingin kau bahagia. Setelah semua yang kau lalui... kau pantas untuk merasakan kebebasan ini."



Kata-kata itu menghangatkan hati Jeje, namun juga membawa kembali bayang-bayang masa lalu yang masih mengintai di sudut pikirannya. Sidang pengadilan, tuduhan Jack Tang, dan rencana jahat Jia Li terasa seperti luka yang belum sepenuhnya sembuh. Tapi di sini, di tengah perjalanan tanpa tujuan yang jelas ini, bersama Joshua yang selalu tahu cara membuatnya tersenyum, luka itu terasa sedikit lebih ringan.


"Aku tidak tahu apa yang kucari ketika meminta untuk pergi," aku Jeje pelan, jari-jarinya mengelus permukaan meja kayu di depannya. "Aku hanya... ingin mengenal keluargaku. Aku pikir itu akan membawaku lebih dekat pada mereka, pada mendiang ibuku. Tapi ternyata, itu hanya membuatku semakin tersesat."


What Kind of FutureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang