Jeonghan duduk diam di dalam mobil, matanya menatap keluar jendela saat mereka memasuki Itaewon. Lampu-lampu neon dari bar, restoran, dan klub malam berkelap-kelip di sepanjang jalan, menciptakan kontras mencolok dengan kegelapan malam. Orang-orang berjalan di trotoar, beberapa tertawa dengan suara keras, yang lain tampak tenggelam dalam percakapan yang lebih serius.
Di kursi kemudi, Justin tetap diam. Ia tidak banyak bicara sejak mereka meninggalkan apartemennya di Ansan.
"Aku tidak menyangka dia akan bersembunyi di tempat seperti ini," gumam Jeonghan akhirnya, mencoba mencairkan keheningan.
Justin hanya meliriknya sekilas melalui kaca spion. "Kakek Jia Li menarik semua fasilitas untuknya di sini. Dia harus membuktikan kalau dia bisa menyingkirkan Jennifer apabila dia ingin mendapatkan semua fasilitas itu kembali...."
Jeonghan tersenyum tipis. "Seperti tikus yang bersembunyi di antara bayang-bayang."
Justin tidak merespons. Ia hanya memarkir mobil di sebuah lahan sempit di antara dua kendaraan lain. Di depan mereka, sebuah motel berdiri dengan papan nama yang sudah kusam. Cahaya merah redup dari lampu neon bertuliskan "Moonlight Inn" berkedip-kedip, seakan kelelahan.
Tanpa banyak bicara, Justin keluar dari mobil. Jeonghan mengikutinya, menyesuaikan langkah saat mereka memasuki lobi motel yang sepi. Resepsionis, seorang pria paruh baya dengan kemeja kusut, bahkan tidak repot-repot menatap mereka saat Justin menyerahkan selembar uang dan mengambil kunci kamar.
Mereka berjalan melewati lorong sempit dengan karpet yang mulai lusuh. Aroma pengharum ruangan yang terlalu menyengat bercampur dengan bau rokok yang masih tersisa di udara. Jeonghan melirik nomor kamar di sepanjang lorong, sampai Justin berhenti di depan pintu bernomor 207.
Justin mengetuk dua kali, berhenti, lalu mengetuk sekali lagi—pola tertentu yang tampaknya sudah disepakati sebelumnya.
Beberapa detik kemudian, dia memasukkan kunci dan membukanya.
Suara pintu yang terbuka membuat Jia Li menoleh dengan cepat. Mata tajamnya langsung tertuju pada Justin yang melangkah masuk ke dalam kamar motel. Namun, saat melihat sosok lain yang mengikuti di belakangnya, ekspresinya berubah drastis.
Jia Li membeku sejenak, seolah tidak mempercayai apa yang dilihatnya.
"...Jeonghan?"
Nadanya bukan sekadar terkejut—melainkan penuh keterkejutan yang bercampur dengan kecurigaan. Napasnya sedikit tertahan, dan tangannya yang semula santai di sisi tubuhnya kini mengepal.
Jeonghan tidak berkata apa-apa. Ia hanya menutup pintu di belakangnya dengan tenang, sebelum melangkah masuk lebih jauh ke dalam kamar. Sementara itu, Justin menatap Jia Li, membaca perubahan ekspresinya dengan penuh kewaspadaan.
Jia Li kembali menatap Justin, kali ini sorot matanya penuh tuduhan. "Kau membawanya ke sini?"
Justin menghela napas, sudah menduga reaksi ini. "Dengar dulu, Jia Li—"
"Dengar?" Jia Li menyela dengan suara tajam, lalu melangkah maju mendekati Justin. "Apa kau sudah gila? Apa kau lupa siapa dia?!" Ia melayangkan tangannya ke arah Jeonghan dengan gerakan cepat. "Dia adalah orang yang paling melindungi Jeje! Dan sekarang dia ada di sini? Denganmu?"
Tatapannya menajam. "Apa kau menjebakku?"
Jeonghan yang sejak tadi diam hanya menyeringai kecil. Ia bersandar di dinding, menyilangkan tangan di dada seolah menikmati pertunjukan di depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
What Kind of Future
FanfictionTiga tahun setelah proyek All Good selesai.... Apakah kisah S.Coups dan Jeje akan menemukan akhir bahagianya Atau justru mereka akan berpisah selamanya..... Inspired by : Woozi - What Kind Of Future Highest Rank : #1 in carat (13032024) #8 in yoon...
