105 (Wonwoo Version)

119 10 0
                                        

Bandara Incheon, sore itu, lebih padat dari biasanya. Lalu lalang manusia, koper berdesakan, suara pengumuman yang saling bertabrakan di udara—semuanya menciptakan kekacauan yang bisa dengan mudah membuat kepala siapa pun berdenyut.


Wonwoo berdiri di tengah keramaian itu, wajahnya setengah tersembunyi di balik masker hitam dan hoodie yang ditarik rendah. Ia tidak membawa banyak—hanya satu tas kecil di punggung, dompet, paspor, dan selembar tiket ke China di tangan. Tak ada manajer yang ikut.


Dia sendirian.


Ia tidak pernah menyukai kerumunan. Bagi Wonwoo, tempat-tempat seperti ini menyedot energinya. Ia lebih nyaman di ruang tenang, di sudut-sudut sunyi di mana pikirannya bisa bernapas. Namun hari ini, semua ketidaknyamanan itu ia hadapi—karena satu alasan:


Agar dia bisa bertemu dengan Jeje.


Ketika mendengar bahwa jenazah kakek Jeje langsung diterbangkan ke negara asalnya, ke sebuah kota kecil di China tempat keluarga Jeje berasal, Wonwoo tidak berpikir panjang. Ia tahu, Jeje akan ke sana juga. Dan ia tahu, di tempat asing yang sunyi itu, Jeje akan sangat membutuhkan seseorang.


Seseorang yang datang bukan karena diminta, tapi karena memang dia peduli.



Wonwoo terus menunduk, topi dan masker menutupi sebagian besar wajahnya, tetapi tidak mampu menyembunyikan sorot matanya yang sayu. Ia berjalan menembus antrian panjang, melewati pemeriksaan imigrasi dengan napas tertahan, berusaha sebisa mungkin tidak menarik perhatian.


Tapi bukan hal itu yang terasa sulit bagi Wonwoo sekarang. Yang sulit adalah—membendung gelombang perasaan yang berputar di dalam dadanya. Di dalam dadanya, rasa gugup dan berat bercampur menjadi satu, mengiringi setiap langkahnya melewati lorong-lorong keberangkatan internasional.


Penerbangan menuju China ditempuh dengan diam. Wonwoo duduk di kursinya sambil menatap keluar jendela, namun pikirannya jauh melayang—ke wajah Jeje yang terakhir ia lihat, yang begitu tenang namun terlihat rapuh.



Tidak ada yang pernah siap dengan yang namanya kehilangan.


Tidak ada yang menyukai perpisahan yang tiba-tiba.


Ia tahu betul akan hal itu.


Ia tahu bagaimana rasanya berdiri di depan peti mati seorang yang kau cintai, dengan jutaan kata yang tak pernah sempat terucap. Ia tahu bagaimana rasanya menatap tubuh kaku yang dulunya hangat, dan menyadari bahwa tidak ada pelukan, tidak ada sapaan, tidak ada tawa yang akan datang lagi dari mereka.


Dan karena ia tahu, itu sebabnya ia datang.


🍒🍒🍒


Begitu Wonwoo melangkah masuk ke halaman rumah mewah bergaya Tionghoa itu—dengan lampion putih menggantung di serambi dan dupa yang mengepul dari altar di sisi kiri—ia sudah mengenakan setelan hitam yang pas di tubuhnya, lengkap dengan kemeja berk...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




Begitu Wonwoo melangkah masuk ke halaman rumah mewah bergaya Tionghoa itu—dengan lampion putih menggantung di serambi dan dupa yang mengepul dari altar di sisi kiri—ia sudah mengenakan setelan hitam yang pas di tubuhnya, lengkap dengan kemeja berkerah dan dasi tipis berwarna gelap. Jas itu masih menyisakan aroma baru, hasil pembelian kilatnya di salah satu counter high brand di bandara tadi, ketika ia menyadari tak membawa pakaian yang layak untuk melayat.



What Kind of FutureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang