Hari-hari berlalu bagai kabut tebal yang menyelimuti Jeje, membuatnya sulit bernapas. Gugatan Jack Tang terhadap keabsahan hak warisnya atas warisan mendiang Joseph Tang telah mengguncang fondasi rapuh yang baru saja ia bangun. Jack Tang, dengan keyakinan penuh dendam, mengklaim bahwa sebagai adik kandung almarhum, dialah yang berhak atas seluruh kekayaan keluarga—bukan Jeje, yang ia sebut sebagai "orang luar" yang tak punya darah Tang murni. Bagian yang diterimanya, menurutnya, adalah penghinaan terhadap pengabdiannya selama puluhan tahun kepada keluarga. Dokumen-dokumen hukum bertumpuk, surat panggilan pengadilan datang silih berganti, dan setiap langkah Jack terasa seperti pukulan yang dirancang untuk menghancurkan semangat Jeje.
Namun, di sisi lain, Edward pun tidak tinggal diam. Sebagai kuasa hukum Jeje, ia dengan cermat menyusun strategi untuk melawan. Lebih dari itu, Edward mengambil langkah berani: menyeret Jia Li, cucu Jack Tang, ke meja hijau atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Jeje.
Bukti-bukti yang dikumpulkan Edward—rekam medis rumah sakit, rekaman cctv dan kesaksian staf agensi yang disuap oleh Jia Li—menunjukkan bahwa Jia Li telah merencanakan serangkaian insiden berbahaya untuk menyingkirkan Jeje dari perebutan warisan. Langkah ini membuat Jack semakin murka, namun juga memicu keretakan dalam keluarga Tang, dengan beberapa anggota mulai mempertanyakan kesucian Jia Li yang selama ini diagungkan.
Bagi Jeje, dunia terasa semakin menyempit. Sidang demi sidang menguras tenaganya, setiap tuduhan dan sorotan mata di ruang pengadilan seperti menikam hatinya. Ia merasa seperti burung yang dipaksa terbang dalam badai tanpa akhir.
Di malam-malam sepi, ia sering terbangun, menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran yang kacau.
"Mungkin mereka benar," bisiknya pada diri sendiri.
"Mungkin aku memang tidak pantas berada di sini."
Keraguan itu tumbuh seperti racun, meracuni setiap harapan kecil yang coba ia pegang.
Ruang pengadilan terasa seperti medan perang yang sunyi, di mana setiap kata adalah senjata dan setiap tatapan adalah ancaman. Cahaya lampu neon di langit-langit memantul di dinding kayu yang kokoh, menciptakan suasana steril yang kontras dengan gejolak emosi yang membara di dalam.
Jeje duduk di sisi ruangan, tangannya mencengkeram ujung kursi kayu dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya pucat, keringat tipis membasahi dahinya meski udara di ruangan terasa dingin dari pendingin ruangan yang terus berdengung pelan. Di depannya, Edward sedang berbicara dengan penuh keyakinan, suaranya tegas namun terukur, memaparkan bukti-bukti yang menguatkan hak waris Jeje dan mengungkap tindakan kriminal Jia Li.
Namun, di sisi lain, pengacara Jack Tang—seorang pria bertubuh ramping dengan kacamata berbingkai lemas—membalas dengan nada penuh ejekan, mempertanyakan keabsahan dokumen warisan dan menyerang karakter Jeje dengan tuduhan-tuduhan yang menusuk.
Jack Tang sendiri duduk dengan sikap angkuh, lengan disilangkan di dada, matanya menatap Jeje dengan kebencian yang nyaris terlihat. Di sampingnya, Jia Li, dengan wajah penuh riasan yang tak bisa menyembunyikan ketegangannya, sesekali melirik kakeknya, seolah mencari perlindungan dari badai yang ia ciptakan sendiri. Para hadirin di bangku penonton—beberapa anggota keluarga Tang, staf hukum, dan wartawan yang mencium aroma skandal—mengamati dengan napas tertahan, mencatat setiap detail dalam diam.
Di tengah argumen yang semakin memanas, suara pengacara Jack tiba-tiba meninggi, menuding Jeje sebagai "penutup aib keluarga" yang tidak berhak atas warisan mendiang Joseph Tang. Kata-kata itu bagaikan pisau yang menikam hati Jeje, menggali luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
What Kind of Future
FanfictionTiga tahun setelah proyek All Good selesai.... Apakah kisah S.Coups dan Jeje akan menemukan akhir bahagianya Atau justru mereka akan berpisah selamanya..... Inspired by : Woozi - What Kind Of Future Highest Rank : #1 in carat (13032024) #8 in yoon...
