Jarum pendek penunjuk waktu di dalam kamar yang ditempati oleh S.Coups sudah bergerak menuju ke angka empat tapi S.Coups tidak kunjung bisa memejamkan matanya. Padahal tiga jam lagi dia harus bangun dan memulai persiapan untuk jadwal syuting mereka selanjutnya.
Tapi,
terima kasih untuk ucapan sinis dan tajam Joshua,
pikiran S.Coups yang sebelumnya sudah kusut karena menyusun banyak skenario di dalam kepalanya tentang alasan kenapa Jia Li sampai tega menyakiti Jeje, tetapi belum ada satu pun yang mendekati kenyataan jadi bertambah kusut.
Belum lagi, S.Coups harus mencari cara supaya teman-teman satu grupnya dan terutama adalah Jeje, mau memaafkan dirinya. Memang, selain Joshua dan Wonwoo yang masih dingin terhadapnya, anggota grupnya yang lain bersikap biasa saja setiap kali mereka bertemu. Tapi S.Coups ingat, ada beberapa anggota yang terkena dampak dari sikap menyebalkannya beberapa waktu belakangan ini.
Woozi, Hoshi dan Dokyeom adalah contohnya.
S.Coups ingin meminta maaf dengan cara yang pantas kepada mereka.
Dan untuk Jeje.....
Setiap kali memikirkan perempuan itu, S.Coups merasa seperti sedang dihimpit oleh dua dinding dari sebelah kiri dan kanannya. Apalagi ketika dia melihat bagaimana Jeje terlihat menjalani hari-harinya seperti biasa. S.Coups tidak tahu darimana asal ketegaran dan kekuatan yang dimiliki oleh perempuan itu.
Tes......
Sebulir air mata lolos dari kelopak S.Coups, jatuh membasahi wajahnya yang lelah.
Dari satu, bertambah satu, dan akhirnya aliran air mata itu jadi semakin deras.
Untuk mencegah suara tangisnya terdengar sampai ke kamar yang lain, S.Coups meraih bantal kepala lalu menutupi wajahnya dengan menggunakan benda itu. Berkali-kali dia menggumamkan kata maaf, yang dia tahu tidak akan pernah sampai ke telinga Jeje.
Demi Tuhan,
S.Coups benar-benar merindukan perempuan itu.....
Pagi harinya, S.Coups keluar dari kamar setelah membasuh wajahnya dengan air dingin. Kedua bola matanya terlihat bengkak karena dia menangis,lagi. Jadi, S.Coups berinisiatif untuk mencari es batu yang mungkin saja disimpan di dalam lemari pendingin dengan maksud mengompres kedua kelopak matanya. Trik umum yang lazim digunakan untuk mengurangi bengkak di mata.
Sayangnya, S.Coups tidak menemukan adanya es batu di dalam lemari pendingin. Akhirnya, S.Coups kembali lagi ke dalam kamar, mengambil kacamata hitam lalu menggunakannya. Setelah itu dia mencari salah satu staf agensi untuk membantunya mencari es batu di sekitar penginapan. Sementara menunggu staf yang dia mintai bantuan itu datang, S.Coups menunggu di ruang makan.
Langkah-langkah kaki yang datang mendekat, membuat S.Coups yang memilih membaca artikel-artikel dari portal media online pun mengangkat wajahnya.
Dia kenal dengan langkah kaki ini.
Dan benar saja,
Jeje yang sudah rapi muncul tidak lama kemudian.
Jeje yang menyadari kehadiran S.Coups di ruang makan langsung menghentikan langkahnya. Dia menarik napas dalam-dalam, mengepalkan kedua tangannya lalu memaksakan sebuah senyum terulas di wajahnya.
"Selamat pagi, S.Coups-ssi....." Jeje menyapa S.Coups dengan formal.
Seperti deja-vu, Jeje yang menyapanya seperti ini membuat S.Coups teringat dengan bagaimana kakunya hubungan mereka berdua di awal-awal proyek All Good dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
What Kind of Future
FanfictionTiga tahun setelah proyek All Good selesai.... Apakah kisah S.Coups dan Jeje akan menemukan akhir bahagianya Atau justru mereka akan berpisah selamanya..... Inspired by : Woozi - What Kind Of Future Highest Rank : #1 in carat (13032024) #8 in yoon...
