Hujan masih mengguyur di luar, suaranya seperti desis yang tak henti, menyelinap melalui celah-celah kayu gudang tua yang reyot. Jeje tersadar perlahan, kesadarannya kembali seperti air yang merembes ke tanah kering—lambat, terputus-putus, dan membingungkan. Matanya terbuka, tapi dunia di sekitarnya tetap gelap, hanya diterangi seberkas cahaya redup yang menyelinap dari celah atap yang bocor. Tetesan air hujan jatuh tepat di depan wajahnya, menciptakan genangan kecil di lantai tanah yang bau apek.
Jeje berkedip beberapa kali, mencoba menajamkan pandangannya. Gudang itu buram di matanya yang masih lelah. Dinding kayu yang lapuk dipenuhi noda kehitaman, mungkin jamur atau lumut yang tumbuh karena kelembapan. Ada tumpukan karung goni di sudut, beberapa sobek, menumpahkan apa yang tampak seperti biji-bijian atau tepung yang sudah membusuk.
Di sisi lain, sebuah jendela kecil yang kotor tertutup papan, menyisakan garis cahaya tipis yang memotong kegelapan. Benda-benda di sekitarnya—sebuah bangku patah, tali-tali kusut yang tergantung di dinding—terlihat seperti bayangan yang menari di bawah cahaya yang minim.
Suara hujan mendominasi, tapi ada juga derit pelan dari kayu yang bergoyang ditiup angin. Sesekali, ia mendengar suara tikus yang berlari di suatu tempat di kegelapan, cakar-cakar kecil mereka menggaruk lantai. Jauh di kejauhan, mungkin dari luar gudang, ada suara gemuruh samar—mungkin petir, mungkin truk yang lewat di jalan yang jauh. Tapi yang paling mengganggu adalah keheningan di antara suara-suara itu, keheningan yang terasa seperti sedang menunggu sesuatu yang buruk terjadi.
Udara di gudang terasa berat, penuh dengan bau tanah basah yang bercampur dengan aroma kayu lapuk dan sesuatu yang manis-menjijikkan, seperti buah yang dibiarkan membusuk terlalu lama. Ada juga sedikit bau logam, mungkin dari karat pada paku-paku yang menempel di dinding atau pintu gudang yang terkunci. Setiap kali Jeje menarik napas, hidungnya terasa gatal, seperti ada debu halus yang beterbangan di udara.
Jeje menyadari tangannya terikat di belakang punggung, tali kasar yang mengikat pergelangan tangannya menggigit kulitnya setiap kali ia bergerak. Ia sedang duduk di lantai tanah yang dingin dan sedikit lengket, mungkin karena genangan air hujan yang merembes dari atap.
Pakaiannya—gaun hitam sederhana yang ia kenakan untuk pemakaman kakeknya—terasa lembap, menempel di kulitnya seperti lapisan kedua yang tidak nyaman. Rambutnya yang basah menempel di leher dan pipinya, menambah sensasi dingin yang merayap ke tulang-tulangnya.
Mulutnya terasa kering, ada rasa pahit samar di lidahnya, seperti sisa-sisa teh yang ia minum pagi tadi. Tenggorokannya terasa serak, mungkin karena terlalu lama tidak bicara, atau mungkin karena ia menangis terlalu banyak dalam diam. Ada juga sensasi mual yang menggelayut di perutnya, campuran antara rasa lapar, kelelahan, dan ketakutan yang mulai merangkak naik.
Jeje mencoba mengingat. Ingatan terakhirnya begitu jelas namun terasa jauh: ia duduk di bangku panjang di depan makam kakeknya, menatap nisan yang masih baru, tangannya mencengkeram ujung gaunnya untuk menahan getar. Wonwoo ada di sampingnya, diam, tapi kehadirannya terasa seperti selimut yang melindungi. Dia hanya berpamitan sebentar untuk mengantarkan ibu angkatnya dan Edward beristirahat di mobil.
Lalu... apa?
Semua menjadi gelap. Seperti seseorang mematikan lampu di kepalanya. Tidak ada suara, tidak ada perjuangan, hanya kehampaan yang menelannya utuh.
Sekarang, sepenuhnya sadar, Jeje merasakan detak jantungnya yang mulai cepat. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, tapi pikirannya malah meluncur ke tempat yang lebih gelap.
Kenapa lagi? bisik suara di kepalanya, suara yang penuh kelelahan dan keputusasaan.
Kenapa aku lagi?
KAMU SEDANG MEMBACA
What Kind of Future
FanfictionTiga tahun setelah proyek All Good selesai.... Apakah kisah S.Coups dan Jeje akan menemukan akhir bahagianya Atau justru mereka akan berpisah selamanya..... Inspired by : Woozi - What Kind Of Future Highest Rank : #1 in carat (13032024) #8 in yoon...
