Jeje duduk di atas ranjang tempat tidurnya, memeluk lututnya sendiri sambil menatap kosong ke arah jendela. Di luar, dunia tampak seperti biasanya: matahari bersinar terang, tapi di dalam hatinya, segalanya terasa kacau, seperti badai yang baru saja berlalu namun meninggalkan kehancuran yang luar biasa.
Pikirannya kembali pada kejadian semalam. Setiap kata, setiap ekspresi, setiap air mata dari S.Coups terus terulang seperti adegan yang tidak bisa dihentikan. "Aku benar-benar menyesal," suaranya masih terdengar jelas di kepala Jeje, tetapi permintaan maaf itu terasa seperti butiran pasir yang jatuh di tengah api besar. Jeje tidak pernah meragukan bahwa penyesalan itu tulus. Ia melihatnya di mata S.Coups, merasakannya dalam getaran suara pria itu. Tapi meskipun penyesalan itu nyata, luka yang telah dibuatnya terlalu dalam untuk disembuhkan dengan kata-kata.
Jeje menggigit bibirnya, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya. Tapi kali ini ia tidak bisa. Air matanya mengalir begitu saja, seperti bendungan yang akhirnya jebol setelah bertahan terlalu lama. Tangisnya pecah, memenuhi kamarnya yang kosong dengan suara yang penuh kesakitan.
"Kenapa harus begini?" bisiknya lirih di antara isak tangisnya. Ia merasa marah, kecewa, terluka, tapi juga... rindu. Ia membenci dirinya sendiri karena masih merindukan S.Coups di tengah semua rasa sakit ini.
Meskipun aku tidak ingin melihatmu, aku merindukanmu. Meskipun aku membencimu, aku merindukanmu.
Kalimat itu berulang-ulang di dalam kepalanya, seperti lagu yang tidak bisa ia hentikan. Jeje tahu bahwa ia harus melepaskan, tetapi bagaimana caranya? Bagaimana ia bisa melepaskan seseorang yang pernah menjadi seluruh dunianya?
Jika aku bisa kembali ke masa lalu, dengan hangat daripada terburu-buru, apakah aku bisa melepaskanmu?
Kata-kata itu terasa begitu dekat. Jeje berpikir, andai saja mereka berdua tidak terburu-buru, andai saja mereka saling memahami lebih baik, mungkin semuanya akan berbeda. Tapi, seperti masa lalu yang tidak bisa diubah, kata-kata "andai saja" itu hanya menambah luka baru.
Ia memejamkan mata, membiarkan air matanya terus mengalir. Ingatan tentang masa-masa indah bersama S.Coups perlahan muncul di benaknya. S.Coups dulu adalah tempat ternyamannya. Saat dunia terasa terlalu berat untuk dihadapi, pria itu selalu ada, dengan tawa kecilnya yang menenangkan, dengan tangan hangatnya yang selalu menggenggam erat. Atau pelukan hangatnya di malam-malam dingin saat beban terasa begitu menghimpit.
Setiap detik bersama S.Coups dulu terasa seperti rumah. Bahkan saat ini, di tengah amarah dan kekecewaannya, ada bagian kecil dalam hatinya yang masih merindukan sentuhan lembut pria itu, suara rendahnya yang biasa menenangkan badai di dalam dirinya. Kenangan itu terasa seperti hadiah yang kini berubah menjadi duri tajam, menusuk hatinya setiap kali ia mencoba mengingatnya.
"Apa aku salah karena mencintaimu terlalu dalam?" tanya Jeje pada dirinya sendiri. Ia tahu bahwa cinta selalu datang dengan risiko, tetapi ia tidak pernah menyangka bahwa risiko itu akan menghancurkannya seperti ini.
Ia menatap ponselnya yang tergeletak di meja. Jari-jarinya tergerak untuk membuka layar, mencari nama S.Coups di daftar kontaknya.
Tidak ada lagi yang tersisa dari kita
kalimat itu berputar kembali di pikirannya, seperti gema yang tidak mau hilang. Ia menatap langit-langit kamar, mencoba memahami apakah ia benar-benar mengucapkannya, atau itu hanya bagian dari mimpi buruk yang terus menghantuinya. Tapi saat tubuhnya mulai bergerak, merasakan lelah yang menyelimuti setiap sendi, ia tahu itu nyata. Semalam, ia telah memutuskan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan harus dilakukan: melepaskan S.Coups.
KAMU SEDANG MEMBACA
What Kind of Future
Fiksi PenggemarTiga tahun setelah proyek All Good selesai.... Apakah kisah S.Coups dan Jeje akan menemukan akhir bahagianya Atau justru mereka akan berpisah selamanya..... Inspired by : Woozi - What Kind Of Future Highest Rank : #1 in carat (13032024) #8 in yoon...
