Jeonghan menatap gedung apartemen tua di hadapannya. Cat temboknya kusam, penuh retakan halus yang menjalar seperti akar pohon. Beberapa jendela terbuka, tirai lusuh melambai pelan diterpa angin sore. Di lantai bawah, sebuah toko kelontong kecil berdiri dengan lampu neon yang berkedip lemah, seperti hampir menyerah pada usianya. Bau asap rokok bercampur dengan aroma makanan jalanan dari gang di sebelahnya, menyesaki udara.
Jeonghan meremas kertas di tangannya, matanya menelusuri alamat yang tertulis di sana. Matanya bergerak ke sekeliling, memperhatikan jalanan yang ramai dengan kendaraan yang bersahut-sahutan membunyikan klakson. Sesekali, seseorang berjalan melewatinya, beberapa melirik sekilas sebelum kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Namun, Jeonghan tidak tenang. Ia menoleh ke belakang, matanya tajam menelisik, memastikan sesuatu yang hanya dirinya saja yang tahu.
Sebelum sampai di sini, perjalanan panjang membawanya dari pusat Seoul menuju Ansan. Dua jam di dalam mobil, melintasi jalan raya yang penuh dengan cahaya lampu kota. Di dalam kendaraan, Jeonghan lebih banyak diam, hanya sesekali melirik ke jendela, memperhatikan bangunan-bangunan tinggi yang perlahan berganti dengan kawasan yang lebih sederhana. Ansan berbeda dengan hiruk-pikuk metropolis Seoul—lebih tenang, lebih gelap di beberapa sudutnya. Kota ini dihuni oleh banyak pekerja migran, menjadikannya penuh warna, tetapi juga terasa asing bagi orang luar.
Begitu tiba, Jeonghan keluar dari mobil, membetulkan penyamarannya. Jaket hitam dengan hoodie yang ia kenakan ditarik sedikit lebih rendah, menutupi sebagian wajahnya. Rambut yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan, seolah sengaja dibiarkan agar tidak menarik perhatian. Ia sudah terbiasa dengan perubahan penampilan seperti ini—salah satu cara bertahan di dunia yang ia jalani.
Menarik napas panjang, Jeonghan menguatkan hatinya. Ia tidak datang ke sini untuk sekadar melihat-lihat. Ada tujuan yang harus ia selesaikan, sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perjalanan singkat.
🍒🍒🍒
Saat melangkah masuk ke dalam gedung apartemen, Jeonghan merasakan hawa lembap yang berbeda dari udara di luar. Aroma kayu lapuk bercampur dengan bau masakan yang samar, entah dari mana asalnya. Cahaya lampu neon yang redup berkedip-kedip di sudut langit-langit, memberikan suasana yang semakin suram. Lorong di depannya sempit, dengan dinding yang mulai mengelupas, memperlihatkan lapisan cat lama yang tertimbun di bawahnya.
Suara langkah kakinya menggema di lantai ubin yang sudah menua. Ia melangkah pelan tetapi pasti, setiap gerakannya penuh kehati-hatian. Ia tidak ingin menarik perhatian siapa pun yang mungkin masih terjaga di dalam unit-unit di sepanjang lorong ini. Sesekali, suara televisi dari balik pintu terdengar, bercampur dengan obrolan samar dalam berbagai bahasa—menegaskan keberagaman penghuni apartemen tua ini.
Jeonghan berhenti sejenak di depan tangga yang mengarah ke lantai atas. Tangannya merapatkan jaket hitamnya, jari-jarinya menyentuh sesuatu di saku dalam—sebuah benda kecil yang selama ini ia bawa sebagai pengingat akan tujuan perjalanannya.
Lalu, ia mulai menaiki tangga.
Anak tangga pertama terasa berderit di bawah kakinya. Suara itu membuatnya menahan napas sejenak, menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang memperhatikannya. Hanya keheningan yang menyambutnya, lorong masih sunyi meskipun di luar sana dunia terus berputar.
Satu per satu, ia meniti anak tangga itu. Hatinya berdebar semakin kencang seiring langkahnya mendekati tujuan. Ia tahu siapa yang ada di balik pintu yang akan ia ketuk nanti. Ia tahu nama itu, wajah itu—seseorang yang sudah lama ia cari.
Sampai akhirnya, ia berdiri di depan sebuah pintu bernomor 3B. Cat di permukaannya sudah pudar, dengan gagang pintu yang terlihat sedikit berkarat. Jeonghan menatap pintu itu lama, membiarkan waktu sejenak melambat di sekelilingnya. Ada sesuatu yang berputar dalam pikirannya—rasa penasaran, kecemasan, mungkin juga sedikit rasa takut.
KAMU SEDANG MEMBACA
What Kind of Future
FanfictionTiga tahun setelah proyek All Good selesai.... Apakah kisah S.Coups dan Jeje akan menemukan akhir bahagianya Atau justru mereka akan berpisah selamanya..... Inspired by : Woozi - What Kind Of Future Highest Rank : #1 in carat (13032024) #8 in yoon...
