Jeje duduk di samping ranjang sang kakek, jemarinya yang kecil menggenggam erat tangan keriput pria tua itu. Saat pertama kali melihat sang kakek terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan selang oksigen terpasang di hidungnya serta berbagai macam alat medis lainnya, Jeje merasakan dadanya seakan diremas. Pria tua itu tampak begitu ringkih, jauh dari bayangan sosok yang pernah diceritakan oleh Edward Wang kepadanya.
Udara di luar begitu dingin, embusan angin dari pegunungan Swiss sesekali menggoyangkan tirai putih di kamar sederhana namun hangat ini. Namun, tak ada yang lebih dingin dari perasaan yang menggelayuti hati Jeje—rasa kehilangan yang semakin nyata di setiap detik yang berlalu.
"Kakek... aku sudah di sini sekarang," bisik Jeje, suaranya nyaris bergetar. "Aku sudah menunggu begitu lama untuk bertemu dengan Kakek."
Pria tua itu tidak menjawab, hanya menatapnya dengan mata yang penuh kasih sayang dan penyesalan. Jeje tahu, andai sang kakek memiliki tenaga untuk berbicara, mungkin ia akan meminta maaf berulang kali. Mungkin ia ingin menjelaskan mengapa butuh waktu selama ini bagi mereka untuk akhirnya bertemu. Namun, tak satu pun kata keluar dari bibirnya. Yang tersisa hanyalah tatapan yang begitu dalam, seolah ingin menyampaikan semua perasaan yang tak sanggup diungkapkan.
Jeje menggigit bibirnya, menahan tangis yang ingin pecah. "Tapi sekarang aku di sini. Aku di samping Kakek. Dan meskipun hanya sebentar, aku ingin Kakek tahu... aku tidak menyimpan dendam. Aku tidak marah karena Kakek baru mencariku sekarang. Aku hanya..." suaranya tercekat. "Aku hanya ingin lebih banyak waktu."
Air mata akhirnya jatuh di pipinya. Tangan kakeknya yang lemah bergerak pelan, seolah berusaha menghapus air mata itu, meski kekuatannya nyaris tak ada. Jeje meraih tangan itu, mendekatkannya ke pipinya, membiarkan dirinya merasakan hangat yang masih tersisa.
Hari-hari berikutnya berjalan dalam keheningan yang menyakitkan, namun juga penuh makna. Dibandingkan tinggal di resort mewah yang adalah milik dari Tang Corp, Jeje memilih untuk menemani sang kakek di rumah sakit.
Setiap hari, Jeje duduk di sampingnya, membacakan tumpukan surat kabar serta buku-buku lama yang entah sejak kapan berada di ruang rawat sang kakek, berharap suara lembutnya bisa membawa ketenangan bagi pria tua itu. Terkadang, ia bercerita tentang kehidupannya di Seoul—tentang bagaimana ia tumbuh tanpa sosok orang tua, tentang dirinya yang selalu merindukan memiliki keluarganya sendiri. Ia juga bercerita tentang kehidupannya akhir-akhir ini, tentang luka dan kehilangan yang masih segar di hatinya.
"Aku kehilangan seseorang, Kek..." suaranya bergetar saat ia mengatakannya. Ia tahu kakeknya mendengarkan, meskipun pria itu hanya bisa menatapnya dengan mata yang berbicara lebih banyak daripada kata-kata yang tak lagi bisa ia ucapkan. "Aku tidak tahu bagaimana kabarnya..... Hatiku hancur, Kek"
Jeje mengusap air mata yang meluncur jatuh tanpa permisi setiap kali dia mengingat Seungcheol. Belum ada kabar terbaru yang dia terima dari anggota Seventeen. Karena kejadian di Seoul, Edward kembali mengamankan ponsel milik Jeje sebagai tindakan antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Hanya ada sebuah artikel yang dirilis sehari setelah Jeje meninggalkan Seoul yang ditunjukkan oleh Nyonya Hong, dimana di dalam artikel tersebut menginformasikan hiatusnya S.Coups dari comeback Seventeen kali ini karena alasan kesehatan dan aktivitas grup hanya akan dilakukan oleh dua belas anggota.
Di siang hari, Nyonya Hong akan menyuruh Jeje untuk sesekali keluar dan berjalan-jalan di sekitar rumah sakit, menghirup udara dingin Swiss yang bersih, melihat salju yang perlahan mulai mencair. Namun, ia selalu kembali dalam waktu singkat. Ia tak ingin melewatkan terlalu banyak waktu jauh dari kakeknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
What Kind of Future
FanfictionTiga tahun setelah proyek All Good selesai.... Apakah kisah S.Coups dan Jeje akan menemukan akhir bahagianya Atau justru mereka akan berpisah selamanya..... Inspired by : Woozi - What Kind Of Future Highest Rank : #1 in carat (13032024) #8 in yoon...
