88 (Revisi)

664 87 28
                                        


Jeje membuka kedua matanya perlahan. Cahaya putih yang menyilaukan membuatnya meringis. Ingatan terakhirnya adalah tentang kilatan cahaya terang, suara benda berat yang jatuh, bunyi kaca yang pecah berkeping-keping serta tubuhnya yang tiba-tiba melayang menjauhi pusat gravitasi.


Ada dimana dia sekarang ?


Dengan perlahan, Jeje mencoba membuka mata lebih lebar. Dinding putih polos mengelilinginya dan bau obat-obatan yang khas perlahan memenuhi indera penciumannya.


"Noona..... gwaenchana ?" suara lembut Wonwoo memecah keheningan. Jeje menoleh dan melihat pria Jeon itu duduk di samping tempat tidurnya.


"Dimana ini ?" tanya Jeje pada Wonwoo dengan suara lemah.


"Noona ada di rumah sakit. Noona pingsan karena tertimpa lampu yang jatuh dari langit-langit. Kepala Noona terluka, tapi tidak parah. Hanya butuh beberapa jahitan" Wonwoo menjelaskan dengan perlahan. Dia juga menunjuk ke arah kepala Jeje yang terbalut dengan perban.


"Selain itu, Noona baik-baik saja....."


Jeje tersenyum samar. Dia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali.


"Yang lain bagaimana ? Apa ada yang terluka selain Noona ?"


Wonwoo menggelengkan kepalanya.


Jeje menghembuskan napas lega.


Tidak apa-apa jika dia yang terluka, asal jangan orang-orang terdekatnya.


Entah kenapa, dia memiliki kebiasaan ini di dalam dirinya. Mungkin saja kebiasaan ini muncul dan tumbuh subur karena lingkungan tempat dia hidup. Sebagai yang tertua di antara anak-anak panti asuhan, Jeje terbiasa untuk menempatkan kebahagiaannya, keinginannya pada posisi terakhir. Dia jadi terbiasa mengabaikan dirinya sendiri demi orang lain.


Kebiasaan ini terus terbawa sampai dia berada di dunia sekolah. Kebiasaan yang kemudian sering disalah-pahami oleh orang lain sebagai kelemahan Jeje. Membuat dia sering ditindas dan dimanfaatkan, apalagi jika sudah membahas tentang statusnya sebagai seorang anak yatim piatu. Kebiasaan yang membuat Jeje secara tidak sadar membentuk sebuah sistem pertahanan untuk dirinya sendiri.


Mengalah, sabar dan tidak terlalu memikirkan dirinya sendiri sejatinya adalah coping mechanism yang dia lakukan untuk melindungi dirinya dari rasa sakit yang berkepanjangan.


Pintu ruang rawat Jeje dibuka dari luar. Satu orang dokter dan satu orang perawat masuk untuk memeriksa kondisi Jeje setelah perempuan itu siuman. Wonwoo yang memanggil mereka lewat tombol khusus di dekat ranjang saat dia berbicara dengan Jeje.


Untuk memberikan ruang bagi dokter dan perawat yang akan memeriksa Jeje, Wonwoo menyingkir sejenak ke belakang, hampir bersandar ke dinding kamar. Sambil menunggu, Wonwoo mengeluarkan ponselnya dan bermaksud untuk mengabari perkembangan terkini dari kondisi Jeje kepada anggota grupnya yang lain.


Setelah Wonwoo mengabari anggota grup bahwasanya Jeje sudah siuman, Wonwoo beralih menghubungi Joshua. Pria Hong itu sudah terlalu lama meninggalkan mereka. Tapi, beberapa kali pun Wonwoo mencoba, panggilan teleponnya berakhir pada kotak suara.


Namun, sebelum Wonwoo mengetikkan pesan di grup obrolan mereka, sebuah pesan pribadi dari Mingyu berada pada bar notifikasi paling atas.


Kim Mingyu
Hyung
Kau masih di rumah sakit ?
Aku dan Coups Hyung sudah selesai di kantor polisi
Kami akan segera ke sama
Joshua Hyung juga masih di sana kan ?
Dia tidak mengangkat teleponku sama sekali


What Kind of FutureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang