102 (Wonwoo Version)

207 16 0
                                        

Malam itu, setelah percakapan dengan Edward di taman belakang, Jeje tertidur dengan pikiran yang sedikit lebih tenang. Namun, ketenangan itu buyar saat fajar menyingsing. Telepon genggam milik Edward berdering keras, memecah keheningan rumah besar itu. Edward mengangkatnya, dan dalam sekejap, wajahnya menegang. Ia mendengarkan dengan penuh konsentrasi, lalu menutup telepon dengan ekspresi serius.


Tanpa menunggu lama, Edward bergegas mencari Jeje. Ia menemukannya di taman belakang, duduk dengan secangkir teh yang sudah dingin, menatap kosong ke arah bunga-bunga yang mulai layu. "Jennifer," panggil Edward dengan nada mendesak. "Ada kabar dari Swiss. Kakekmu... kondisinya terus turun dengan drastis. Dokter bilang kamu harus ke sana secepat mungkin."


Jeje menoleh perlahan, matanya membelalak. Cangkir di tangannya jatuh ke rumput, pecah berkeping-keping. "Apa... maksudmu?" suaranya gemetar, hampir tak terdengar.


"Tidak ada waktu untuk dijelaskan panjang," kata Edward sambil memegang bahu Jeje, mencoba menenangkannya. "Kita harus berangkat sekarang. Saya akan mengatur penerbanganmu dan Nyonya Hong sekarang juga"


Jeje mengangguk lemah, pikirannya kacau. Edward segera mengambil alih, menghubungi kontaknya untuk memesan tiket pesawat paling awal ke Swiss. Dalam situasi darurat ini, ia terpaksa melewatkan jadwal konsultasi Jeje dengan ahli kejiwaan yang selama ini menangani kondisi psikisnya pasca percobaan pelecehan yang ia alami. Konsultasi itu seharusnya menjadi bagian penting dari pemulihannya, tapi kini, keadaan kakeknya menjadi prioritas utama.


Dalam hitungan jam, Jeje, Edward dan Nyonya Hong sudah berada di bandara. Tidak banyak barang yang mereka bawa, hanya membawa tas kecil dan hati yang penuh kekacauan. Edward berdiri di sisinya, memastikan semua berjalan lancar.


"Jangan cemas, Jen..... Kamu pasti masih bisa bertemu dengan kakekmu....."


Jeje mengangguk, tapi ia tak bisa berkata apa-apa. Pikirannya terbelah antara kakeknya yang sedang kritis dan trauma yang kembali mengintai. Pesawat lepas landas, membawanya ke Swiss, meninggalkan Seoul—dan semua yang ia cintai—tanpa kesempatan untuk pamit pada siapa pun, termasuk anak-anak Dream dan Seventeen.


🍒🍒🍒

Kabar kepergian Jeje yang mendadak itu sampai ke telinga Seventeen melalui Joshua, yang mendapat telepon dari Nyonya Hong. Mereka sedang berada di ruang rapat agensi, membahas jadwal comeback album baru, saat Joshua masuk dengan wajah pucat.


"Aku baru dapat kabar," katanya pelan, suaranya bergetar. "Jeje Noona..... dia berangkat ke Swiss tadi pagi. Kakeknya kritis."


Ruangan langsung hening. Semua mata tertuju pada Joshua, mencoba mencerna kata-katanya. Dino yang biasanya ceria langsung berdiri dari kursinya, wajahnya memerah. "Apa? Pergi? Tanpa bilang apa-apa? Bukannya Jeje Noona berjanji akan menemui kita sebelum pergi! Dia saja sempat bertemu anggota Dream kemarin !!!" suaranya meninggi, penuh protes.


Seungkwan mengangguk setuju, tangannya mengepal di atas meja. "Iya..... Kenapa bisa dengan Dream, tapi tidak dengan kita ? "


Jun mengangkat tangan, mencoba menenangkan suasana. "Tunggu dulu. Tadi Shua Hyung bilang kalau kakek Jeje Noona kritis, jadi mungkin ini sangat mendadak. Itu sebabnya dia tidak sempat bilang apa-apa pada kita semua....."


"Tapi setidaknya dia bisa mengirimkan sebuah pesan singkat, Hyung!" sergah Seungkwan, suaranya penuh frustrasi. "Kita juga adalah keluarga Jeje Noona kan ? Kenapa dia harus pergi tanpa pamit ?!!!"


Joshua menghela napas, matanya penuh penyesalan. "Eomma bilang semuanya cepat sekali. Edward langsung membawa Jeje Noona dan Eomma ke bandara. Mungkin... mungkin dia tidak punya waktu."


What Kind of FutureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang