Keesokan harinya, langit Seoul diselimuti awan kelabu yang tebal, seolah mencerminkan beban di hati Jeje. Pagi itu, ia, Edward, dan Nyonya Hong meninggalkan rumah megah di Incheon menuju Pengadilan Keluarga Seoul.
Perjalanan dilakukan dalam keheningan yang nyaris mencekik, hanya dipecah oleh suara mesin mobil dan sesekali desah napas Jeje yang tak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Di kursi belakang, Jeje menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi Seoul berlalu dalam kilasan buram, pikirannya terjebak antara masa lalu dan masa depan yang tak pasti.
Edward, yang duduk di samping sopir, sesekali menoleh ke arah Jeje, matanya penuh perhatian namun hati-hati, seolah tak ingin mengganggu ruang pribadi yang Jeje ciptakan dengan diamnya.
Nyonya Hong, di sisi Jeje, memegang tangan putri angkatnya dengan lembut, jari-jarinya yang hangat berusaha menyalurkan kekuatan. Namun, bahkan Nyonya Hong, dengan segala ketenangannya, tak bisa sepenuhnya menyembunyikan kesedihan di matanya. Hari ini bukan sekadar formalitas hukum; ini adalah akhir dari satu babak dalam kehidupan mereka sebagai keluarga.
Sesampainya di Pengadilan Keluarga Seoul, suasana gedung itu terasa dingin dan steril, kontras dengan emosi yang bergolak di hati Jeje. Lorong-lorong panjang berlapis marmer menggema dengan suara langkah sepatu, dan udara dipenuhi aroma kertas tua serta tinta printer.
Jeje, mengenakan blazer hitam sederhana dan rok panjang berwarna abu-abu, berjalan di antara Edward dan Nyonya Hong, tangannya mencengkeram tas kecil yang ia bawa seolah itu adalah jangkarnya. Setiap langkah terasa berat, seperti membawa beban seluruh kenangan yang ia miliki bersama keluarga Hong.
Di ruang sidang kecil yang telah disiapkan, hakim, seorang wanita paruh baya dengan kacamata tebal, duduk di meja tinggi dengan ekspresi netral. Di hadapannya, tumpukan dokumen telah disusun rapi, siap untuk memproses pembatalan adopsi Jeje. Pengacara keluarga Hong, Pak Kim, berdiri di sisi meja, menjelaskan prosedur dengan suara yang tenang namun tegas. Jeje duduk di kursi kayu yang keras, matanya terpaku pada meja di depannya, berusaha menghindari tatapan siapa pun. Di sisinya, Nyonya Hong duduk dengan postur tegak, tangannya masih menggenggam tangan Jeje, sementara Edward berada di kursi di belakang mereka, memberikan ruang namun tetap hadir sebagai pendukung.
Hakim memulai sidang dengan nada yang formal, membacakan dokumen adopsi yang telah berlaku selama bertahun-tahun. Setiap kata yang diucapkan terasa seperti pisau yang perlahan mengiris hati Jeje.
"Berdasarkan permohonan yang diajukan oleh Nyonya Hong Joanna atas nama Hong Jennifer, permohonan pembatalan adopsi telah memenuhi syarat hukum yang berlaku. Apakah ada keberatan dari pihak terkait mengenai pembatalan ini?"
Jeje merasakan tenggorokannya mengeras. Ia ingin mengatakan sesuatu, ingin menolak, ingin berteriak bahwa ia tidak siap melepaskan identitasnya sebagai Hong Jennifer. Namun, ia tahu ini adalah keputusan yang telah ia ambil, didorong oleh keinginan untuk kembali ke keluarga aslinya dan bertemu kakeknya yang sedang sakit.
Ia mengangguk pelan, suaranya nyaris tak terdengar saat ia berkata, "Tidak ada keberatan, Yang Mulia."
Proses sidang berjalan cepat, hampir terlalu cepat untuk Jeje yang merasa waktu bergerak seperti kabut. Pak Kim menyerahkan dokumen tambahan, hakim menelitinya dengan cermat, dan dalam waktu kurang dari satu jam, keputusan diumumkan.
"Dengan ini, adopsi atas nama Hong Jennifer dinyatakan batal. Mulai hari ini, status hukumnya kembali ke identitas asal sebelum adopsi."
Kata-kata itu menggema di telinga Jeje, setiap suku kata terasa seperti pukulan. Ia bukan lagi Hong Jennifer. Marga yang telah menjadi bagian dari identitasnya selama beberapa tahun ini, yang membawanya ke dalam keluarga penuh kasih sayang, kini lenyap.
KAMU SEDANG MEMBACA
What Kind of Future
FanfictionTiga tahun setelah proyek All Good selesai.... Apakah kisah S.Coups dan Jeje akan menemukan akhir bahagianya Atau justru mereka akan berpisah selamanya..... Inspired by : Woozi - What Kind Of Future Highest Rank : #1 in carat (13032024) #8 in yoon...
