104 (Wonwoo Version)

115 13 2
                                        

Di pagi yang dingin dan kelabu di Swiss, sinar matahari musim gugur yang lemah menyelinap melalui jendela kamar rawat intensif, menerangi wajah kakek Jeje yang pucat. Tiba-tiba, setelah hari-hari penuh kesunyian dan ketidakpastian, mata kakeknya terbuka perlahan. Kelopak matanya bergetar, seolah melawan beban waktu dan penyakit yang telah melemahkannya.


Jeje, yang sedang duduk di sisi ranjang dengan buku kecil di tangan, tersentak. Buku itu terjatuh ke lantai dengan suara pelan, tetapi ia tak mempedulikannya.


Edward, yang kebetulan ada di ruangan, segera bangkit dan bergegas keluar sambil berkata, "Saya akan memanggil dokter!" Langkahnya cepat menghilang di lorong rumah sakit.


Saat Jeje masih memproses apa yang terjadi, kakeknya mengangkat tangan dengan lemah dari kasur, melambai pelan seolah memanggilnya untuk mendekat. Gerakan itu rapuh, hampir tak terlihat, tetapi Jeje segera memahami isyarat itu.


la bergegas menarik kursi lebih dekat ke ranjang dan duduk di samping kakeknya. Tangan mereka bertaut erat, jari- jari Jeje yang hangat membungkus tangan kakeknya yang dingin dan keriput.


Kakek Jeje menatapnya dengan mata yang berkaca- kaca, penuh arti. Mulutnya bergerak pelan, mencoba membentuk kata-kata, tetapi hanya desis lemah yang keluar. Jeje bisa melihat perjuangan di wajahnya- keinginan kuat untuk berbicara, untuk menyampaikan sesuatu yang penting, namun tubuhnya tak lagi sanggup. Air mata mulai mengalir dari sudut mata kakeknya, meluncur perlahan menyusuri pipi yang penuh keriput. Jeje merasakan hatinya teriris, tetapi ia tetap tersenyum lembut, berusaha menenangkan kakeknya.


"Kek, aku di sini sekarang... Aku sudah pulang," bisik Jeje dengan suara penuh kasih, menahan tangis yang mengancam tumpah.


Kakeknya menggenggam tangannya lebih erat, seolah mencurahkan seluruh perasaannya melalui sentuhan itu. Matanya yang tua dan lelah tetap menatap Jeje, menyiratkan kelegaan dan cinta yang mendalam. Tak ada kata yang terucap, tetapi Jeje tahu apa yang ada di hati kakeknya-rasa syukur karena ia ada di sana, di sisinya, di saat-saat terakhir ini.


Tiba-tiba, genggaman tangan kakeknya melemah.


Matanya yang penuh arti perlahan tertutup, kelopaknya turun dengan tenang, seolah akhirnya menyerah pada kelelahan yang tak tertahankan. Suara bip monitor jantung yang tadinya teratur mulai melambat, lalu berhenti, digantikan oleh garis datar yang menusuk hening. Jeje terpaku, tangannya masih menggenggam tangan kakeknya yang kini tak lagi bergerak. Air matanya akhirnya jatuh, membasahi pipi dan ranjang, tetapi ia tak bersuara. Di dalam hatinya, ia tahu kakeknya telah pergi—menutup mata untuk selamanya, meninggalkannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab.


🍒🍒🍒


Pintu kamar terbuka dengan cepat, dan Edward masuk bersama seorang dokter paruh baya berseragam putih serta seorang perawat yang mendorong troli kecil berisi perlengkapan pemeriksaan darurat. Langkah mereka tergesa, dipenuhi urgensi dan harapan yang sempat menyala begitu Edward memberitahu bahwa pasien menunjukkan tanda-tanda kesadaran.


Namun, begitu dokter mendekat ke ranjang dan melihat monitor jantung yang kini hanya menampilkan garis lurus, ekspresi di wajahnya berubah. Ia mengangguk pelan pada perawat, yang langsung mematikan suara monitor dan mulai menyiapkan stetoskop serta alat pemeriksa lainnya.


Edward berdiri di dekat pintu, napasnya tertahan saat menyaksikan proses yang terasa terlalu cepat dan terlalu senyap.


Jeje masih duduk di tempatnya, tidak bergeming. Tangannya tetap menggenggam erat tangan kakeknya yang dingin. Air mata terus mengalir dari matanya, jatuh satu per satu tanpa suara. Tapi tak ada tangisan. Hanya keheningan yang terasa berat dan nyeri.


What Kind of FutureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang