102 (Joshua Version)

143 13 3
                                        

Langit Incheon malam itu diselimuti awan tipis, dengan angin laut yang membawa aroma garam dan kesunyian. Joshua duduk di dalam mobil miliknya dengan ditemani oleh manajer, menatap keluar jendela saat lampu-lampu kota berlalu dalam kilasan samar. Perjalanan dari Seoul ke Incheon terasa lebih panjang dari biasanya, bukan karena jarak, melainkan karena beban di hatinya.


Percakapan dengan Seungkwan pada malam sebelumnya tidak berhenti menghantui Joshua. Membuat dia tidak fokus melaksanakan pekerjaannya sepanjang hari. Tidak hanya dia, sebagian besar anggota Seventeen juga sebenarnya tampak tidak sefokus biasanya. Mereka banyak diam, hal yang jarang ditemukan apabila mereka berkumpul bersama. Tingkah mereka itu sampai membuat para staf kelimpungan, mengira ada kesalahan yang tidak sengaja mereka lakukan.


Kini, ia sedang dalam perjalanan menuju rumah Jeje di Incheon. Setelah mendengar dari ibunya tentang pertemuan emosional Jeje dengan anak-anak Dream sore tadi, Joshua merasa dorongan kuat untuk menemuinya. Ia ingin memastikan Jeje baik-baik saja, tetapi lebih dari itu, ia ingin memahami apa yang benar-benar dirasakan oleh wanita yang pernah begitu dekat dengan hatinya.

Kedatangan Joshua di rumah Incheon disambut langsung oleh sang ibu.


"Ingin langsung bicara dengan kakakmu ?" tanya Nyonya Hong setelah Joshua mencium pipi pucat ibunya itu.


Joshua hanya menjawab dengan mengulas senyum tipis di wajahnya.


Kakak......


Iya.....


Status Jeje masih kakaknya sebelum proses pembatalan adopsi itu selesai.


"Mau langsung ke kamarnya atau menunggu di ruang baca ?" tawar Nyonya Hong dengan mudahnya. Tawaran itu membuat Joshua semakin membenci dirinya sendiri.


"Biar aku tunggu di ruang baca saja, Eomma....."


Nyonya Hong mengangguk. "Baiklah...... Eomma panggilkan kakakmu dulu......" lanjut Nyonya Hong. Dia mengelus lengan Joshua sebelum berbalik pergi.


Ruang baca di rumah Jeje hampir dua kali lebih besar dengan ruang latihan mereka di agensi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.





Ruang baca di rumah Jeje hampir dua kali lebih besar dengan ruang latihan mereka di agensi. Rak-rak buku dari kayu mahoni menjulang tinggi menutupi dua sisi dinding. Berbagai macam buku mengisi tiap-tiap sudut rak. Satu set sofa besar warna cokelat serta karpet lembut menutupi lantai ruangan ini. Perapian serta jendela besar yang langsung menghadap ke arah halaman luas di belakang menambah kenyamanan ruang baca ini. Ruangan yang menurut Joshua sangat cocok dengan kepribadian Jeje.


Tidak berhenti Joshua merasa takjub dengan betapa cepatnya kehidupan Jeje berubah. Tiga tahun yang lalu, mendapatkan satu unit apartemen dari sang ibu saja sebagai hadiah bergabungnya Jeje ke dalam keluarga mereka membuat Jeje sedikit merasa tidak layak menerima itu semua. Joshua jadi bertanya-tanya, bagaimana perasaan perempuan itu ketika dia menginjakkan kaki ke rumah sebesar ini ? Apakah dia merasa nyaman ? Atau justru dia merasa kalau ini bukan dirinya sama sekali......


What Kind of FutureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang