Chapter 136 (Nyaris)

766 49 13
                                        

‼️Masih belum mengandung AU dan gambar ya...

*****

Farez memasuki kamar dengan menenteng laptop miliknya, beberapa hari ini ia terpaksa mengerjakan seluruh pekerjaannya dari rumah. Ia masih belum bisa meninggalkan Barra terlalu lama, karena suaminya itu akan mencarinya dan bisa menjadi histeris karena itu.

Farez semakin yakin untuk membawa suaminya itu untuk menemui Dokter Psikolog yang sempat ia temui. Ia tidak mau menundanya lagi.

Langkahnya terhenti saat melihat Barra yang terdiam sambil menatap ponsel, Farez mendelik karena menyadari jika itu ponsel miliknya.

"Sayang!!"

Barra mendongak dan menatapnya sendu, "Apa ini Rez..." Ucapnya sambil tersenyum miris.

"Barra... Ini nggak kayak—"

"Kamu kira aku ini gila Rez?" Tanya Barra lirih. Ia bangkit dan menunjukkan layar ponselnya pada Farez.

Itu adalah pesan booking yang ia kirim pada Asisten Dokter Psikolog yang sempat ia datangi sebelumnya. Mengapa ia lupa tidak membawa ponselnya, sekarang ia harus menjelaskan apa.

"JAWAB AKU REZ!!!" Sentak Barra sambil melemparkan ponsel Farez hingga pecah saat menyentuh lantai. Sontak Farez tercekat, bahkan langkahnya mundur ke belakang.

Tidak lagi.

Ia meletakkan laptopnya di atas nakas, lalu berjalan maju dan berusaha meraih tubuh suaminya itu. Tidak mempedulikan ponsel miliknya yang mungkin rusak, yang ada di pikirannya hanyalah Barra.

"Sayang, dengerin aku dulu..."

Namun Barra bergerak mundur, ia menghindari sentuhan Farez.

"Hiks, apa nggak cukup, Rez! Kamu udah nuduh aku selingkuh, kamu nggak percaya sama aku, kamu ninggalin aku sendirian!! Bahkan kamu tega mau gugat cerai aku, sekarang kamu mikir aku gila!!??" Tanya Barra histeris.

Farez menggeleng cepat, "Nggak gitu sayang, nggak gitu! Aku nggak pernah anggep kamu gila, aku cuma mau ngajak kamu ke sana, biar kamu bisa luapin apa yang kamu rasain. Itu aja...."

"Aaarrghhhhhh!!" Teriak Barra lalu membuang seluruh barang-barang mereka yang berada di atas nakas sebelah ranjang.

Farez ikut memekik terkejut, dadanya ikut bergemuruh karena melihat Barra yang seperti tidak terkendali, "Barra!!" Sentaknya. Mati-matian ia menahan emosi, karena ia tidak ingin menyakiti laki-laki yang ia sayangi itu.

"Gue nggak butuh mereka!! Persetan sama psikiater atau apapun itu!! Hiks, emangnya lu aja nggak cukup buat nemenin gue, hah!! Lu capek nemenin gue?! Lu nemenin gue cuma karena gue sakit aja, Rez?? Lu bakal tetep ceraiin gue setelah ini kan!!" Teriak Barra makin histeris, ia berulang kali menunjuk ke arah Farez. Matanya memburam karena air mata. Tubuhnya meluruh ke lantai, membuat Farez panik dan melompat ke arah suaminya itu.

Farez memeluk dan menggoyangkan tubuh Barra pelan, "Sadar, Barra... Kontrol diri kamu, apapun yang ada di pikiran kamu itu nggak bener!!"

Barra seperti tidak ingin mendengar apapun, ia menutupi telinganya sendiri. Ia masih terisak dan semakin menyembunyikan tubuhnya, tidak ingin menatap Farez.

"Aku cinta sama kamu, aku nggak mungkin ninggalin kamu. Aku cuma nggak mau kamu kayak gini terus, Sayang..." Ucap Farez berusaha memberi pengertian, air matanya ikut menggenang.

Barra menggeleng, tidak ingin mendengar apapun. Entah mengapa hatinya terasa sangat sakit, ia semakin menutupi telinganya erat. Sebelum akhirnya berusaha mendorong tubuh Farez, "Pergi!!"

OH! MY SEDUCTIVE NERD! (FORCEBOOK Lokal Ver.)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang