Chapter 152 (Berdamai)

453 25 6
                                        

*****

"Kami dateng, Ra..."

Suara lirih Barra mendayu, ia dan Farez lalu duduk berjongkok di sebuah pusara, lengkap dengan Bian yang berada di gendongan Barra. Bayi itu menatap wajah Barra dalam diam.

Barra yang menyadari itu pun tersenyum ke arah Bian, ia sedikit membersihkan tanah di sebelah pusara itu pelan, lalu menurunkan Bian di sana.

Bian ikut menatap pusara di depannya dalam senyap, bayi itu masih belum mengerti.

"Bian..."

Merasa namanya dipanggil, Bian menoleh ke arah Barra.

"Ini rumahnya Mama..." Lirih Barra.

Bian masih menatap Barra, seakan mengerti jika sedang diajak bicara. Sedangkan Farez ikut terdiam di sebelah Barra, ia menatap pusara milik Nara dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan.

Barra menunjuk dirinya sendiri, "Ini Papa..." Lalu menunjuk Farez, "Ini Daddy..." Tangannya lalu menyentuh pusara di depannya, "Ini Mama, Mama udah bobo tenang di sini. Mamanya Bian..."

Bian masih menatap Barra, sebelum akhirnya menoleh ke arah pusara milik Nara. Bayi itu mulai merangkak dan menepuk-nepuk kecil gundukan tanah itu, membuat Barra tersenyum kecil, ia menyentuh nisan di depannya pelan.

"Ra, ini Bian..."

Barra masih setia mengelus nisan itu pelan.

"Sorry, gue baru bisa ke sini sekarang, gue cuma pengen nunjukin ke lu kalau Bian udah aman sama gue, di saat Bian udah bener-bener resmi jadi anak gue Ra. Lu bisa tenang sekarang...."

Pandangan Barra teralih pada Bian yang masih setia bermain di sebelah pusara, tangannya lalu mengelus rambut bayi kecil itu pelan, "Oh iya, lu udah tau nama lengkapnya Bian belum? Namanya Biannarez Jiraver, Bian Nara dan Farez. Nggak papa kan Ra?"

"Gue masukin nama lu di sana, bersanding sama nama Farez. Nggak papa kan? Mau gimanapun, lu tetap seorang Ibu buat Bian, gue nggak akan bikin Bian lupa sama lu. Gue janji, Ra..." Lirih Barra lagi.

Barra lalu menoleh ke arah Farez yang terdiam di sebelahnya, "Rez...." Lirihnya sambil menggenggam tangan suaminya itu erat.

Farez masih terdiam sejenak, sebelum akhirnya melepas kacamata hitamnya dan mengusap matanya pelan.

Ia kembali menatap pusara itu dalam diam selama beberapa saat.

"Ra..."

Barra hanya akan menunggu, sepertinya ada banyak hal yang ingin suaminya itu katakan. Ia lebih memilih memandangi ke arah Bian yang seperti tengah bermain di tempat Ibunya.

"Gue yakin lu juga tau, gimana rasa benci di hati gue bener-bener susah buat dihapus. Apa yang udah lu lakuin ke gue, suami gue, keluarga gue, itu benar-benar nyisain luka yang nggak bisa sembuh," lirihnya.

Barra menunduk dalam, entah mengapa hatinya berdebar.

"Awalnya gue juga benci sama anak ini, setiap gue lihat wajah dia, gue selalu inget kejahatan lu di masa lalu..."

Barra mengangkat dan memangku tubuh Bian, ia hanya takut Bian tidak nyaman mendengar ucapan Daddy-nya.

Farez menghela nafas pelan, ia lalu menatap Bian yang terdiam di pangkuan Barra, tangannya terangkat dan mengelus rambut lebat putranya itu.

"Tapi gue salah, Ra... Gue salah..."

Barra tertegun, menoleh ke arah suaminya yang terlihat menahan air mata.

"Gue memang benci sama lu, luka itu susah buat disembuhin, tapi itu semua nggak pantes gue berikan juga ke Bian... Anak ini anugerah," lirih Farez. "Kehadiran dia, yang akhirnya mengubah segalanya, bahkan juga membuat lu pengen jadi orang yang lebih baik, meskipun semuanya terlambat, tapi gue sekarang menyadari gimana niat lu buat nebus semuanya Ra..."

OH! MY SEDUCTIVE NERD! (FORCEBOOK Lokal Ver.)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang