“Mama, tolongin Kay dong.” Aku terus berteriak saat mendapati Mama tidak segera datang ke kamarku.
Tubuhku terasa malas memakai kebaya ini, ish kebaya yang dipilihkan Mama sangat jauh dari seleraku. Terlalu.. mewah? Aku bergidik menatapnya. Entah apa yang dipikirkan Mama saat membelinya dulu.
Tetapi tiba-tiba aku jadi ingat, dulu saat membelinya aku dan Mama tertawa bersama saat membayangkan aku memakai ini di hadapan Danen dan orang tuanya saat acara perpisahan sekolah seperti hari ini. Dulu kami berharap dapat memikat hati mereka.
Namun hari ini, di acara yang sama dengan memakai baju yang sama, impianku berubah. Tak lagi ingin memberi kesan baik kepada keluarga Danen, tapi aku hanya ingin hari ini berlalu dengan cepat tanpa bertemu mereka, itu saja. Ah andai saja bisa.
“Duh perawannya Mama, gitu aja gak bisa. Gak bisa atau gak mau usaha sih benernya?” sindir Mama dengan gerakan jarinya yang lincah menutup kancing kebaya di punggungku. Mama sudah terlihat cantik dengan warna pakaian yang senada denganku.
“Cantik. Udah pantes jadi jadi istri orang. Eh tapi kuliah dulu yang bener, Mama masih belum puas ngasuh kamu.” Cerocos Mama, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Nah, mulai lagi deh dramanya. Kay cuma mau ke acara perpisahan sekolah, Ma, bukannya mau pergi nikah, atau perang.” Sindirku dengan nada manja yang ku buat-buat agar Mama tidak hanyut dengan pikirannya.
“Suatu hari nanti Mama harus siap melepasmu Kay. Lihatlah kamu, sudah dewasa dan cantik. Kelak jika ada lelaki baik, Mama harus melepasmu.” Mata Mama sudah berurai air mata. Bukahkan wanita hebat ini sangat mengagumkan?
Aku hanya mampu memeluknya, hatiku berdesir mendengar ucapan Mama yang semuanya adalah kebenaran. Ya suatu saat aku harus keluar dari rumah ini untuk menggapai mimpiku sendiri.
“Tenang aja Ma, masih lama juga kok. Ini aja sekarang masih mau perpisahan sama bagi ijazah. Ijab sah nya masih belum kelihatan batang hidungnya, Ma.” Aku terkekeh di telinga Mama mendengar ucapanku sendiri, berharap Mama segera keluar dari mode dramanya.
“Ini kenapa jadi nangis sambil pelukan gini sih? Nanti kita telat lho, dan lagi itu riasan bisa luntur.” Papa sudah berdiri di ambang pintu memperhatikan kami. Aku tersipu menatap Papa.
Papa melangkah pasti menghampiri kami, ku lihat ada kabut di matanya, entah karena alasan apa. Di rengkuhnya tubuh kami berdua.
“Para wanita kesayangan Papa..” Lirih Papa berucap.
Drrtt.. Drrtt..
Pelukan kami diinterupsi oleh nada dering ponselku yang berteriak lantang meminta perhatian. Segera ku ambil ponselku dan ku tatap layarnya. Senyumku segera terbit saat menatap nama yang tertera. TITISAN CENAYANG. Segera ku angkat panggilan itu.
“Mikha, maaf pagi ini Abang belum bisa datang ke sekolahmu. Abang ada rapat yang tidak bisa ditunda.” Aku mendesah, ada rasa kecewa menyapa saat suara di seberang sana memaparkan alasannya.
“Ya sudah sih Bang, mau gimana lagi, santai aja, gapapa kok.” Nada kecewa jelas terasa nyata di suaraku.
“Kalau rapat sudah selesai, Abang janji langsung ke sekolahmu. Kamu ingin kado apa Mikha?”
“Kay, gak mau apa-apa sih Bang. Udah Bang, gak usah janji gitu ah. Nanti kalau rapatnya molor malah Abang gak konsen lagi.”
“Ya udah pokoknya kamu tunggu Abang ya, Mikha. Ini sudah mau berangkat? Sama Mama Papa kan? Jangan berbicara dengan sampah itu.”
“Iya ini Kay udah mau berangkat. Ya udah Bang, Kay berangkat dulu ya.”
“Mikha, tolong kirim fotomu. Abang takut salah nyapa orang saat di sekolahmu nanti.” Suara di seberang sana terdengar tertawa. Dia jelas sedang menggodaku.
“Modus Bang! Udah ah, Kay mau berangkat dulu. Udah ya Bang.” Aku mematikan panggilan teleponku dengan senyum masih terukir di bibir.
Ku tatap ponselku, kata-kata Bang Arka hari ini kenapa terdengar sangat manis ya? Pikiranku mendadak melayang.
“Ekhmm..” suara dehaman yang disengaja, tertangkap jelas di telingaku. Aku mengangkat wajahku dan melihat tatapan Mama dan Papa seakan ingin mengulitiku. Glek.. ludahku terasa berat untuk ditelan. Ada apa ini?
“Siapa, Kay?” Mama bertanya dengan lembut.
“Hmm itu Bang Arka Ma.” Dengan sura bergetar aku menjawab. Duh itu muka Papa kenapa sih?
“Kamu masih berhubungan dengan dia Kay?” Papa bertanya dengan dingin.
“Beberapa kali Bang Arka ke sekolah Pa, dia yang belain Kay waktu Danen berusaha maksa Kay untuk ikut dengannya.”
“Apa yang dilakukan bocah keparat itu?” mendadak suhu kamarku menurun drastis saat Papa bersuara.
“Danen gak sempat melakukan apa-apa sih, Pa. Keburu dipergoki Bang Arka.”
“Papa bukannya tidak berterimakasih dengan lelaki itu Kay. Papa berutang budi malah. Tapi Papa gak suka kamu bergaul terlalu dekat dengannya. Kau pasti ingat apa statusnya kan? Atau perlu Papa ingatkan?” aku menggeleng.
“Dia suami orang Kay. Jika kau masuk terlalu dalam di hidupnya, maka hidupmu akan terseret juga. Papa gak mau mengorbankan masa depanmu. Jalanmu masih panjang, Kay. Apa kata orang saat mereka melihatmu bersama dengan suami orang? Mana istrinya sedang mengandung lagi. Kau harus tau itu Kay dan kau harus tau jika tidak baik bagi seorang lelaki meninggalkan rumah apalagi istrinya yang sedang hamil. Jadi, kau bisa menilai sendiri seperti apa lelaki yang meninggalkan rumah dan istrinya yang mengandung. Papa harap kamu lebih bijak Kay.” Papa menghujamku dengan kata-katanya. Sangat tepat sasaran dan sangat benar! Aku hanya bisa menunduk.
“Sudah, ayo berangkat saja. Kita sudah telat.” Mama mencairkan suasana tegang diantara aku dan Papa. Aku terlalu pengecut untuk menatap wajah Papa.
“Hubungi Arka, entah bagaimana alasanmu, bilang padanya untuk tidak datang ke sekolah.” Papa berkata tegas yang sama sekali tidak ingin ku bantah. Aku terlalu takut. Cinta pertamaku itu menatapku tajam. Aku malah terdiam.
"Ambil dan lakukan sekarang, Kay. Papa ingin mendengarnya." Suara Papa semakin mencekam hatiku.
Aku mengangguk dan mengambil ponselku. Ku tatap layar ponselku dengan bingung, entah kalimat apa yang akan aku tulis, aku sendiri bingung harus memulainya dari mana. Ku tahan nafas sebelum akhirnya mengetik kalimat singkat yang ku harap tidak akan melukai Bang Arka.
Bang, maafkan aku. Tapi tolong jangan ke sekolah ya hari ini. Ku mohon Bang.
Kirim. Selesai. Aku bernafas lagi.
“Ya sudah, ayo berangkat.” Papa menarik tubuh Mama dan berjalan keluar dari kamarku. Aku mengekorinya.
Aku terus menatap keluar jendela selama perjalanan. Keheningan menyapa perjalanan kami hingga sampai di sekolah.
Tiiing.. Notifikasi masuk di aplikasi pesanku. Aku segera membukanya.
Air mataku lolos begitu saja saat membaca pesan yang tertangkap mataku. Sontak hatiku menjerit. Rasa nyeri menjalar di sekujur tubuhku. Kakiku kaku untuk melangkah. Rasa sakit itu memenuhi setiap inchi rongga tubuhku. Ada apa denganku? Mengapa rasanya sangat sakit hanya dengan membaca pesan singkat dari orang asing? Orang asing yang bahkan baru ku kenal.
Ku baca berkali-kali, namun rasanya masih sama, menyakitkan. Ku tatap lagi layar ponselku. Kalimat itu melambai padaku.
Baiklah. Aku sepertinya mengerti, Mikha. Bagaimana mungkin seorang Ayah mengizinkan putri tercintanya di datangi dan dekat dengan seorang pria yang tidak jelas statusnya. Duda bukan, beristri tapi melarikan diri. Selamat atas kelulusanmu, Mikha. Abang bangga padamu. Jadilah anak baik.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
RomanceSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
