ARKA POV
Aku bergegas jalan menuju lift. Hari ini aku ingin sekali segera angkat kaki dari jurusan ini. Aku akan ke perusahaan saja untuk menenangkan diri, terlebih memang akan ada rapat dengan dewan direksi. Hah menjalani dua profesi sungguh sangat melelahkan, tapi aku menikmatinya, biasanya, tapi tidak hari ini.
Hari ini benar-benar menguras emosiku. Sejak aku menginjakkan kaki menjadi dosen di jurusan ini, baru beberapa saat ini emosiku selalu tersulut ketika berada di jurusan ini, terlebih sebulan ini. Mungkin ini efek perjanjian bodoh yang dengan bodohnya juga aku setujui. Demi gadisku, aku rela melakukan apapun agar dia bahagia dan bisa mengangkat kepalanya saat bersamaku.
"Siang Pak." Sapa seorang mahasiswa ku, Winda, dengan nada genit. Dia bukan gadis pertama yang menggodaku. Seniornya bahkan lebih berani jika menggodaku.
Sejak awal aku menyadari gadisku menjadi mahasiswa di sini, aku melihat Winda selalu bersamanya. Mungkin mereka bersahabat. Dan benar saja, gadisku ada disebelahnya, tangan mereka bergandengan erat dengan mata gadisku yang menatap Winda dengan nyalang. Ada apa dengan tatapannya itu? Lucu sekali kekasihku itu.
"Siang juga. Mau ke mana nih? Gandengannya rapet banget kayak mau nyebrang." Aku mencoba menggoda mereka. Tapi lebih karena aku penasaran dengan apapun yang sedang kekasihku lakukan.
Wah lihatlah senyum manis itu. Oh Mikha, aku sangat merindukanmu. Untungnya aku masih waras dan tidak hilang kendali jika tidak aku pastikan senyummu itu sudah ku telan dalam mulutku saat ini juga.
"Saya mau ngantar Kay Pak. Nunggu jemputan. Padahal kekasihnya mau nganterin eh malah ditolak sama si Kay ini. Kalau tau gini, kan mending kekasihnya Kay buat saya aja ya Pak." Suara Winda membuyarkan lamunan kotorku.
Eh apa? Dia bilang apa? Kekasih Mikha? Siapa? Aku kekasihnya! Aku ingin meneriakkan kalimat itu, tapi otakku masih berfungsi baik. Aku yakin yang di maksud bukan aku karena gadisku itu sedang salah tingkah. Sial! Pasti tentang pembicaraan itu lagi.
Pembicaraan sensitif untukku, yang membuat aku dipenuhi kemarahan. Entah sampai kapan aku bisa menahan semua anggapan salah dari orang-orang itu.
"Oh iya, siapa kekasih Kay? Aldrich ya?" Aku kesal jika harus berperan sebagai orang yang ikut masuk dalam sandiwara bodoh itu. Aku kekasihnya bukan Aldrich!
"Tepat sekali! Cinlok Pak, biasa ABG! Hasil dicaci maki sebulan, ternyata cuma akal-akalan, biar bisa jadi gebetan, kalau ospek udah kelar." Winda terkekeh saat mengucapkannya. Brengsek! Bahkan seluruh jurusan ini sudah mematenkan mereka sebagai pasangan.
"Gak kok Pak. Kami hanya berteman. Ya seperti yang Bapak tahu." Gadis baik, dia mencoba menenangkanku.
"Gimana ceritanya Pak Fabian kamu suruh tau urusanmu? Ngaco!" Sergah Winda.
"Aldrich dan aku kan ikut penelitian Pak Fabian, Win. Jelas aja Pak Fabian tau. Benar kan Pak?" Aku mengernyit mendengar nada ragu di suaranya. Kenapa kamu ragu sayang?
Aku membalik badan dan menatapnya, untuk melihat bagaimana ekspresi Mikha.
"Hmm...mana saya tau. Mungkin saja memang benar kan? Atau sepertinya memang ada yang coba ditutupi?" Aku mengajukan pertanyaan yang ku harap dia bisa memberiku jawaban yang menenangkan. Aku sungguh ingin kamu menjawabnya dengan lantang sayang, jangan ragu, aku milikmu dan kamu milikku. Hanya milikku.
"Nah Pak Fabian aja ragu. Udah deh Kay, jangan menyangkal lagi. Kamu ngaku aja kenapa sih?" Sepertinya Winda bisa diajak untuk berkoalisi dalam memanasi Mikha.
Seketika aku menemukan ide yang cemerlang. Baiklah, aku ingin mengujimu sayang. Tunjukkan padaku jika janjimu itu benar. Janjimu untuk menjaga hati. Hati milikku dan milikmu.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
RomanceSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
