SERATUS EMPAT PULUH SATU

46 5 0
                                        

"Selamat pagi Mama, selamat pagi Papa."

Aku mengernyit mendengar sapaan Bang Arka pagi ini. Setelah menyelesaikan ritual baru pagi ini, kami bergegas turun dan bergabung untuk sarapan bersama Mama dan Papa.

"Pagi juga. Cerah banget pagi ini, Ka. Pasti habis bikinin Papa sama Mama cucu nih."

Uhuuukk..

Aku tersedak ludahku sendiri saat mendengar ucapan Papa. Tadinya aku sudah mau duduk di kursi makanku, namun ku urungkan dan berputar untuk mengambil air minum.

Bang Arka terkekeh menanggapi ucapan Papa.

"Kenapa sih Kay? Gak usah sok salah tingkah gitu deh. Mama Papa tahu banget kalau masalah begituan." Lagi-lagi ucapan Papa membuatku tersedak.

"Lagian, kelihatan banget kali Kay. Tuh make up tebel banget di bagian leher, apa lagi alasannya kalau bukan nutupin sengatan serangga tadi malam." Astaga, Mama malah ikut memojokkan aku.

Reflek ku sentuh leherku. Apa terlalu tebal hingga Mama menyadarinya?

"Ketebelan ya Ma? Abang tuh gak kira-kira bikin tatonya." Tanyaku dengan menatap Mama.

Aku menekuk wajahku merutuki kegemaran baru Bang Arka, membuat tato leher!

Sontak ucapanku langsung disambut dengan gelegar tawa dari ketiga orang di depanku.

"Astaga Kay, masih aja gampang dipancing. Mama cuma bilang sengatan serangga lho, kok kamu langsung bilang Abang sih tersangkanya." Mama membawaku ke dalam pelukannya sambil menepuk pelan punggungku.

Oh shit! Kenapa aku sebodoh ini sih, hingga mudah sekali masuk dalam jebakan mereka?

"Jangan malu, Mama dan Papa hanya becanda. Kalian udah suami istri dan itu hal yang wajar. Dan tentu saja Mama dan Papa berharap itu akan membuahkan hasil." Bisik Mama di telingaku.

Aku membenamkan wajahku semakin dalam di dada Mama. Wajahku rasanya panas. Malu sekali rasanya.

"Udah pelukannya. Sana Kay, peluk suamimu. Itu istri Papa, bagian Papa yang meluk-meluk Mama." Suara Papa mengurai pelukanku bersama Mama.

"Ganggu aja sih Papa nih." Aku memberengut sambil berjalan mendekat ke arah meja makan.

"Kay." Mama menarik lenganku saat aku hendak duduk di samping Bang Arka.

Aku membatalkan dudukku dan segera menatap Mama. Wajah Mama yang tadinya ceria kini mendadak sendu.

"Kenapa Ma?" Tanyaku dengan gugup, "Mama sakit? Apa make up Kay kelihatan aneh? Abang nih yang suruh pakai foundation agak tebel biar ketutupan." Imbuhku yang langsung ku sesali.

Astaga, kenapa mulutku semakin bocor saja sih? Bagaimana bisa hal seperti ini ku katakan dengan gamblang? Aku terus merutuki kebodohanku sendiri.

Mama tersenyum menatapku dan membelai kepalaku.

"Kamu cantik, seperti biasanya Kay," Mama menangkup wajahku, "apa Mama sudah pernah bilang jika Mama mencintaimu sepenuh hati? Apa Mama sudah pernah bilang, jika kamu permata hati Mama? Apa Mama pernah bilang jika kamu separuh nyawa Mama? Apa Mama sudah--"

"Sudah semuanya Ma. Mama sudah bilang itu ratusan kali bahkan sejak kita baru bertemu." Aku memotong ucapan Mama saat aku menyadari kemana arah pembicaraan ini akan bermuara.

Ku peluk tubuh wanita hebat di hadapanku. Tangis kami saling bersahutan. Kami berpelukan dengan erat sambil mengalirkan kehangatan yang menyelimuti hati kami masing-masing.

"Terima kasih Ma, udah hadir dalam hidup Kay. Tanpa Mama hidup Kay pasti hampa. Tanpa Mama, entah apa yang akan terjadi pada Kay. Mama memberi cinta yang luar biasa untuk Kay meski tak ada darah yang sama di tubuh kita. Apa Mama juga tahu, bahwa Kay sayang Mama? Dulu, sekarang dan selamanya. Bagi Kay, Mama itu malaikat. Mama segalanya untuk Kay." Sambil terisak aku terus berucap.

BERITAHU MEREKA!!! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang