Jalanan tampak sedikit padat siang ini dan mataku terus menatap hilir mudik kendaraan yang entah akan kemana. Otakku terus memutar cuplikan adegan di tempat parkir tadi.
Astaga! Aku masih tak bisa mempercayai semua ini. Bagaimana bisa aku menerjunkan diriku sendiri masuk dalam rumitnya kehidupan seorang Bang Arka. Seorang dengan kedudukan tinggi dan sudah beristri. Aku yakin, akulah pihak yang akan dirugikan. Selain akan mendapat gelar perusak rumah tangga, aku pasti akan dilabeli dengan wanita pecinta uang. Dan mungkin ada lagi cap buruk yang aku enggan memikirkannya.
"Pak Rendi, Abang beneran pimpinan di perusahaan tadi?" Aku masih berusaha menepis kenyataan.
"Benar Mikha. Bukan hanya pimpinan, tapi juga pemilik." Suara Rendi refleks membuat mataku membesar saat melihat wajahnya.
Pemilik? Oh gosh, lelucon apa lagi ini! Bahkan dengan predikat Bang Arka sebagai pimpinan saja sudah membuatku keder apalagi ditambah dengan pemilik.
Papa juga mempunyai perusahaan dan Papa pimpinan disana. Oleh karena itu aku sangat tahu bagaimana kehidupan para pimpinan ini. Berbagai sorotan akan muncul dari berbagai pihak, baik yang bersifat pro maupun kontra. Kehidupan pribadi juga akan dikuak jika tidak pintar menyimpan kehidupannya. Papa sangat menjaga kehidupan pribadi keluarganya, karena Papa tak ingin kami tersorot. Aku tahu itu, makanya Papa dan Mama sangat membatasi jam terbang kami di luar rumah.
"Oh." Hanya itu tanggapanku dan ku buang lagi mukaku menatap jalanan.
Tak selang berapa lama aku sudah tiba di depan jurusanku. Ku lirik jam tanganku, masih ada satu jam sebelum kelasku dimulai. Aku akan mencari Winda dulu. Dan mungkin Aldrich juga.
"Makasih ya Pak Rendi." Ujarku sambil membuka pintu."
"Tunggu Mikha, saya buka dulu pintunya."
"Tangan Kay sehat Pak. Kay bisa kalau cuma buka pintu gini doang." Aku menolak bantuannya dengan halus.
Yang benar saja, apa kata teman-temanku kalau melihat aku diperlakukan begitu.
"Makasih Pak." Sekali lagi aku berucap dan bergegas keluar mobil.
Aku tak sekalipun menatap mobil tadi, aku terus saja melangkah memasuki jurusanku. Saat melintasi ruang himpunan aku membelokkan langkahku. Baiklah, aku menemui Aldrich dulu saja. Biasanya dia suka mendekam disini.
Tok.. Tok.. Tok..
Aku mengetuk pintu himpunan dan melongok ke dalamnya. Seketika senyumku mengembang saat menemukan apa yang aku cari.
"Permisi Kakak senior tampan, bisa aku meminta waktumu?" Sapaku pada tubuh yang membelakangiku.
"Cieeee Kakak senior tampan?"
"Uwuuuu bangeeet siiihhh.."
"Astaga!! Hasil tangkapan ospek kali ini boleh juga ya Al!"
"Ihiiirr.."
Seketika ruang himpunan riuh oleh suara yang saling bersahutan. Aku membeku dengan mata membulat saat banyak tubuh tiba-tiba keluar dari sekat kecil yang menjadi pembatas ruang utama dan ruang penyimpanan.
Oh astaga, aku melupakan ruang penyimpanan kecil itu! Ruangan yang kata Aldrich digunakan untuk tidur atau sekedar menyegarkan otak dengan bermain games. Sial, aku melupakan kemungkinan banyaknya manusia yang sedang tidur siang disana!
Dan lihatlah yang menjadi topik utama itu? Dia justru tersenyum lebar mendengar suara-suara yang menyorakinya. Dengan tatapan lembutnya dia melihatku dengan berbinar. Andai di hatiku ada sedikit celah untukmu, aku pasti akan memupuk rasa itu Kak Al. Tapi, maafkan aku, hatiku telah sepenuhnya dikuasai dosenmu.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
Любовные романыSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
