SERATUS SEMBILAN

31 5 0
                                        

Ting...

Pintu lift terbuka di lantai 8, lantai di mana unit apartemen Bang Arka berada. Ya, aku berada disini saat ini. Aku sedang ingin memberi kepastian untuk diriku sendiri, bisakah aku tetap bertahan dengan semua yang ada?

Jika aku bertahan, maka aku harus menerima segala hal yang menyangkut masa lalunya.

Tapi jika menyerah, maka aku harus berhadapan dengan hatiku sendiri. Ku pastikan dengan yakin, kali ini jika hubungan ini berakhir, maka hatiku akan terkoyak dengan parah.

"Abang bilang kodenya ulang tahunku, benarkah?" Aku menempelkan kartu dan menekan tanggal lahirku.

Wow, benar-benar sesuai dengan ucapannya!

Aku masuk dalam unit apartemen itu dan mengamati sekitar. Terasa sangat tenang. Aku melangkah menuju dapur untuk mengambil minuman dan mataku membelalak mendapati pemandangan yang luar biasa.

Apa Bang Arka tinggal disini beberapa waktu ini? Kenapa isi kulkasnya sangat lengkap?

Seketika jiwa kewanitaanku merasa tertantang. Aku ingin membuat makanan untuk Bang Arka sebelum nanti aku mengirim pesan padanya. Aku sudah berpikir akan memberinya kejutan.

Baiklah, ayo lakukan Kay. Buat kejutan dulu agar hatinya bahagia, kemudian baru selesaikan masalah kalian. Bukankah aku juga menginginkan penjelasan darinya?

Segera ku taruh tas dan mencuci tanganku. Aku ingin membuat masakan yang sederhana saja. Aku juga bukan gadis yang pandai memasak, hanya saja hampir tiap hari aku membantu Mama memasak, setidaknya aku bisa membedakan mana gula atau garam, mana bawang merah dan putih. Ya, sesederhana itu kemampuan masakku.

Dengan sigap ku siapkan segala bahan makanan yang akan ku olah. Semoga saja rasanya masih bisa diterima lidah. Niatku ingin membuat capcay dan ayam goreng saja, yang mudah dan cepat memasaknya.

Beberapa menit aku berkutat di depan kompor dan tak lama kemudian selesailah masakan yang ku buat. Segera ku tata di piring dan ku tutupi.

Aku meraih tasku dan melangkah masuk ke dalam kamar yang dulu pernah ku datangi bersama Bang Arka untuk membersihkan diri. Kamar yang sama, tak ada yang berubah. Aku masuk ke dalam ruangan yang berisi pakaian Bang Arka. Ku buka lemari itu dan menyentuh dengan perlahan deretan baju yang tersampir di dalamnya. Dengan mata terpejam aku membayangkan kehangatan tubuh Bang Arka yang ku harap bisa ku rasakan saat ini.

Tanpa sadar aku telah terduduk di sisi bagian bawah lemari itu. Lemari yang luas, bahkan jika main petak umpet di sini sepertinya akan sulit dicari. Tanganku terus membelai baju Bang Arka yang sekarang berada di atas kepalaku.

Entah karena lelah memasak atau mungkin lelah menangis sejak tadi, tiba-tiba saja tubuhku terasa sangat lelah.

"Mikha."

"Mikha, di mana kamu?"

"Sayang. Mikha."

"Kamu di mana sayang."

"Mikha."

Sayup-sayup aku mendengar namaku di panggil. Mataku mengerjap mengamati sekeliling. Otakku berputar untuk mengingat kembali kejadian yang baru saja terjadi.

Ah astaga, aku ketiduran. Ku lirik jam tanganku. Wah sudah setengah jam aku tidur dalam posisi meringkuk. Pantas saja badanku terasa semakin lelah.

"Mikha."

Itu benar Bang Arka. Aku tidak mimpi. Tadinya ku pikir aku mendengar suaraku dipanggil dalam mimpiku.

Aku segera bangkit berdiri namun yang ku dapat malah aku langsung terjatuh. Oh gosh, kakiku kram!

BERITAHU MEREKA!!! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang