ARKA POV
Ponselku terus saja bergetar sejak aku mulai menjelaskan alasan pengunduran diriku setelah semester ini berakhir pada Pak Samiran, kepala jurusan di kampus tempatku mengajar. Aku terus mengabaikannya. Biarlah, paling juga Rendi. Kali ini aku harus benar-benar menikmati masa-masa akhir mengajarku sebelum aku meninggalkan kampus ini.
Ya, aku memutuskan untuk fokus mengelola perusahaan Ayah dan juga Papa yang rencananya akan di satukan. Ah entahlah, rencana yang mereka buat sungguh membuat kepalaku terasa mau pecah. Padahal dalam angganku aku masih berharap hanya mengelola perusahaan Ayah dan bisa terus mengajar, sebagai alibiku untuk mengawasi istriku.
Tentu saja dia harus ku awasi, memangnya siapa yang rela saat wanita terkasihnya diincar lelaki lain? Cih! Tak akan ku biarkan para lelaki itu mendekati istriku.
Tapi nyatanya, ada tanggung jawab lain yang mengiringi keinginanku memiliki Mikha. Tanggung jawab yang awalnya bukan bagianku tapi kini menjadi hal yang harus ku emban.
Bukan hal yang mudah memang, bahkan aku pun masih meragukan kemampuanku untuk menangani dua perusahaan yang tidaklah kecil. Tapi itu semua harga yang pantas ku bayar saat aku memutuskan mempersunting separuh nyawaku, Mikhayla-ku.
Ah aku jadi merindukan gadisku itu. Apa dia sudah masuk ke kelasnya ya? Tapi kuliahnya baru di mulai satu jam lagi. Kali ini ke mana dia akan menunggu kelasnya dimulai?
"Jika Pak Fabian sudah memutuskan seperti itu demi kebaikan bersama, saya hanya bisa menyetujui dan mendoakan yang terbaik untuk Pak Fabian. Semoga Pak Fabian sukses dalam meraih semua mimpinya. Saya tunggu undangan pesta pernikahannya Pak." Ujar Pak Samiran, yang akhirnya menyetujui pengunduran diriku.
"Terima kasih Pak. Saya segera mengurus semua surat-surat yang terkait. Saya harap jurusan juga semakin maju dan berkembang. Mohon maaf untuk segala kekurangan saya selama ini." Aku bangkit berdiri dan menyalaminya.
Kedua pasang orang tuaku juga turut berpamitan sambil sedikit berbasa-basi. Kami segera keluar dari ruangan Pak Samiran saat semua kata telah diucap.
"Pa, Arka meninjau perusahaan Papa besok saja ya. Arka masih mau mengajar satu kelas dulu." Ujarku sambil memandang mertuaku.
"Tak masalah. Lakukan yang lebih penting dulu. Atau nanti semua berkasnya akan Papa bawa pulang saja. Jadi kamu bisa mempelajari di rumah." Ucapan Papa membuatku sedikit melongo.
Wah, ide yang buruk!
"Pa, besok saja. Di rumah, Arka mau pendekatan dengan Mikha dulu. Kan Arka udah bilang, sampai selesai resepsi, Arka hanya seorang dosen." Aku mencoba mengingatkan perjanjian tak tertulis kami.
"Alasan! Bilang aja kamu mau ngawasin istrimu." Cibir Ayah yang langsung disambut tawa semua orang tuaku.
"Sudah-sudah. Biarkan dia menikmati masa-masa berdua dengan istrinya," Ibu menimpali, "jeng Mia, habis gini kita langsung meluncur aja yuk." Imbuh Ibu sambil menatap Mama Mia.
"Ah ide bagus Jeng Ratna. Saya juga sudah buat janji dengan butik langganan saya. Kita lihat rancangannya untuk baju kita. Baju Kay juga sudah dia buatkan." Ucap Mama yang tak kalah heboh.
Aku seketika mengingat permintaan Mikha tempo hari.
"Oiya Ma, Kay minta gaun yang dia pakai nanti adalah gaun yang sudah disiapkan Farel." Ujarku.
"Farel?" Pertanyaan itu keluar secara bersamaan dari keempat pasang mata di hadapanku.
"Ke ruangan Arka dulu aja semuanya. Gak enak cerita disini." Ujarku pada empat pasang mata yang menatapku penuh tanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
RomanceSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
