"Bang, kamu belum makan kan? Aku bikinkan sarapan dulu ya?" Aku hendak beranjak dari kasur saat tangan Bang Arka mencegahku.
"Aku tidak bercanda Mikha. Tolong kamu benar-benar mendengarkan ucapanku. Jaga sikapmu dengan Al ataupun lelaki manapun. Tolong jangan pancing aku! Aku berusaha untuk menurutimu, untuk tidak membuka hubungan kita. Namun, jika kamu terus berusaha melepaskan diri dariku, aku tak segan dan tak akan malu untuk mengakui hubungan kita di hadapan semua orang. Jadi, jangan memancingku, sayang." Jantungku bergemuruh mendengar ucapannya. Bang Arka sangat ahli membalut ancamannya hingga terdengar sangat romantis di telingaku.
Aku bangkit tanpa menjawab ucapan Bang Arka. Niatku ingin membuatkan sarapan untuk kekasihku. Ah rasanya jantungku berdetak hebat saat menyebutnya kekasihku.
Seketika tubuhku limbung, terjatuh kembali di kasur. Dan entah bagaimana ceritanya, tubuhku sudah berada di bawah tubuh Bang Arka. Aku terkurung dalam kungkungan lengannya.
"Bang--" Kata-kata ku terhenti, otakku membeku, entah apa yang akan aku katakan, sungguh aku tak punya ide.
"Jangan mengujiku sayang. Jawab aku jika aku bertanya. Beri aku tanggapan dan jangan pernah mendiamkan aku. Tatap mataku jika kita sedang berbicara. Apa kamu mengerti, sayang?" Bang Arka terus membuatku membeku.
Panggilannya terhadapku telah berubah, dan entah sejak kapan. Seingatku, apa baru hari ini ya? Seketika aku meremang, ada apa sebenarnya?
"Dan aku masih sangat marah padamu, sayang. Jadi, jaga sikapmu." Bang Arka meneruskan kata-kata yang langsung membuatku menyimpulkan satu hal, dia memanggilku sayang untuk meredakan amarahnya. Oh, bulu kudukku benar-benar berdiri.
"Iya." Jawabku singkat, karena hanya kata itu yang ku ingat.
"Iya apa?" Nah, sudah ku duga dia tak akan puas.
"Iya untuk semuanya, sayang." Oh shit! Aku keceplosan. Refleks mataku melotot saking kagetnya namun entah kenapa Bang Arka justru terlihat senang, sepertinya sih.
Bang Arka langsung tersenyum miring. Wajahnya semakin dekat dengan wajahku, sangat tampan! Oh kenapa otakku langsung berpikir kemana-mana? Aku terus merutuki jalan pikiranku yang ku rasa mulai melantur.
"Apa kamu sedang menggodaku, gadis kecil?" Ku tatap mata Bang Arka yang menyipit penuh maksud. Wah, dia mencoba memancingku ternyata.
Baiklah, kamu jangan sampai terpancing Kay. Segera bangkit dan keluar dari kamar ini. Aku bertekad dalam hati. Lalu ku dorong tubuh Bang Arka, ku kerahkan seluruh tenagaku. Hah, dia tak bergeser sedikitpun. Sia-sia usahaku.
"Aku mau keluar Bang!" Bentakku dengan debaran jantung yang tak lagi santai.
"Jangan harap kamu bisa keluar dari kamar ini sebelum menjelaskan semua yang terjadi kemarin. Apa kamu lupa kesalahanmu? Jelaskan padaku sekarang, Mikha. Semuanya!" Suara tajam itu, tatapan nyalang itu, kini seakan mengulitiku. Astaga, perih dan menakutkan.
Aku menelan kasar ludahku. Entah harus mulai dari mana ku ceritakan kejadian kemarin.
"Aku sudah bilang padamu kan, sore aku akan menghubungi dan menemuimu. Tapi nyatanya? Apa alasan yang akan kamu kemukakan untuk meredakan amarahku ini, sayang? Asal kamu tahu, semalam aku tidak tidur, gara-gara bayangan bocah sialan yang keluar dari rumahmu malam itu terus menghantuiku. Mengusik ketenanganku! Apa yang kalian lakukan? Hah? Dia bisa seenaknya keluar masuk rumah kekasihku! Apa kamu lupa, kamu milikku! Hanya milikku!" Suara Bang Arka naik beberapa oktaf. Lagi-lagi aku dibuatnya bungkam.
Inilah sisi lain dari Bang Arka. Aku belum mengenalnya lama, tapi entah kenapa aku sudah jatuh sejatuh-jatuhnya pada pesonanya. Mungkin karena saat itu aku membutuhkan sandaran, dan disuguhkan kenyamanan yang ditawarkan Bang Arka. Jadi aku mulai terbiasa dan perlahan mulai terikat. Dan mungkin itu pula alasan Bang Arka padaku. Kami adalah dua orang yang mempunyai masa lalu yang hampir sama, yaitu orang yang tersakiti. Karena itulah, mungkin kami jadi saling membutuhkan.
Selama aku mengenalnya, dia cukup misterius. Latar belakang dan kehidupannya sampai saat ini masih misteri untukku. Tapi satu hal yang aku tahu pasti, hatinya terluka cukup dalam, meski aku tak tahu karena apa. Yang jelas ini ada hubungannya dengan kaburnya dia dari rumah. Pasti karena masalah dengan Adinda, istrinya. Entah masalah apa.
Bang Arka itu laksana bunglon. Kadang tertawa, kadang melamun dan tak jarang aku melihatnya menyembunyikan kesakitannya. Air matanya serasa tabu untuk dilihatkan padaku, meski aku pernah melihatnya beberapa kali. Aku yakin dia sedang berusaha terlihat tegar ditengah badai yang menghantamnya.
Dan sekarang, aku melihat sisi lain darinya. Hah, ini yang sedikit membuatmu terkejut. Mungkin ini efek yang terjadi karena masalah pada pernikahannya. Bang Arka saat ini terlihat sangat posesif padaku. Oh cukuplah aku dulu merasa Danen sangat berlebihan sikapnya. Tapi ternyata sikap posesif Danen tidak sebanding dengan yang ku rasakan sekarang terhadap Bang Arka. Bisa ku bilang, Bang Arka raja dari rajanya posesif. Astaga..
"Bang.." Hah, beranikan dirimu Kay! Kuatkan hatiku. Buka mulutmu. Dan jujur saja Kay, katakan kebenarannya. Dewi batinku membisikkan sugesti yang diharapkan bisa menenangkan aku.
Bang Arka hanya menaikkan alisnya mengunggu kata-kataku selanjutnya.
"Bisa kita ngobrol sambil duduk tenang Bang," Apa maksudnya duduk tenang Kay? "Hmm maksudku duduk normal Bang." Ku ralat omonganku dengan gugup.
"Ada apa denganmu dan kehidupan normal sayang? Kamu benar-benar mengucapkannya terlalu banyak! Normal.. Normal.. Normal. Ah, masa bodoh dengan normal sayang. Hubungan kita saja tidak normal!" Sergah Bang Arka yang langsung menghantam ulu hatiku.
Deg.
Deg.
Deg.
Dia...sadar. Bang Arka sadar dengan anomali yang sedang terjadi diantara kami.
"Kamu menyadarinya kan Bang? Ketidaknormalan hubungan kita?" Aku mencicit. Seketika pertanyaan inti menggelitik jiwaku. Apa sesungguhnya Bang Arka juga merasakan hal yang sama padaku? Atau aku hanya terlalu mudah dirayu? Mungkinkan hatinya bisa langsung berpaling padaku secepat itu?
Bang Arka menatapku sendu.
"Maaf telah menarikmu masuk ke dalam hidupku yang tidak normal dan penuh liku." Mata teduh Bang Arka menatapku. Kristal bening itu mulai tercipta di sana.
Dengan segera ku rengkuh tubuhnya, memeluk tubuh kekar itu. Berharap bisa menyalurkan ketenangan untuknya meski hatiku pun tak akan bisa tenang. Oh aku sungguh tak tega melihat seperti ini.
Entah alasan apa yang membuatnya seperti ini, aku pun ingin mengetahui. Kami saling berpeluk diatas ranjang itu dan bergeming merasakan degup jantung kami yang saling berpacu.
"Bang, kamu tau ini tidak normal. Hubungan kita tidak normal. Tapi, apakah boleh aku tau, jika hatimu benar-benar untukku?" Seketika aku merasa kembali pesimis. Apa secepat itu dia berpaling? Mendadak aku ragu.
"Pernikahanku, seharusnya tidak pernah terjadi, Mikha. Dari awal pernikahan ini salah. Dari awal seharusnya ini tidak terjadi." Lirih Bang Arka menjelaskan.
"Dan apakah aku pelampiasanmu saja?" Mulutku langsung menembak tepat sasaran, tubuh Bang Arka mematung. Aku sungguh ingin tahu alasannya.
"Apa kamu lupa jika aku ini lelaki sejati?" Bang Arka menarik nafasnya dalam, "jika kamu hanya pelampiasanku, maka malam itu ku pastikan kamu tidak akan menyandang status perawan hingga detik ini, Mikha!" Matanya melotot. Menatapku nyalang. Emosinya sudah mulai datang, tangannya ku rasakan mengepal di balik punggungku. Ah dia menakutkan jika seperti ini.
Mulutku kelu, tak tahu harus mengucap apa.
"Asal kamu tahu sayang, sangat tidak mudah bagiku untuk berdekatan denganmu. Aku menahan seluruh gejolak yang ku rasakan padamu. Bahkan saat ini, aku sedang membangun benteng yang kuat agar aku tidak lepas kendali."
"Kamu tahu sayang, aku sangat kagum padamu sejak malam itu. Dari kekaguman itu tumbuh benih cinta yang aku juga tidak tahu kapan tepatnya itu bersemi. Aku hanya selalu ingin menjaga dirimu dan diriku sendiri, karena aku mencintaimu, Mikhayla Putri Sanjaya."
Bang Arka tersenyum manis menatapku. Tatapan dalam yang sarat akan makna.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
RomansaSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
