"Gimana Kak, apa yang kakak rasakan sekarang?" Tanyaku selepas kepergian dokter dan juga Papa bersama Bang Arka.
Dengan terbata kakak menjawab, "kakak baik-baik aja sayang."
"Kakak mikir apa sih kok sampai tadi kayak gitu?" Aku terus mencercanya.
Kakak tersenyum menatapku. Pandangan teduhnya menenangkan aku.
"Kay, biar kakak istirahat dulu ya," Mama mengusap kepalaku, "Farel, tidurlah nak. Istirahat yang banyak biar cepet sembuh." Imbuh Mama sambil membenarkan letak selimut kakak.
"Farel ingin ngobrol sama Kay, Ma." Pinta Farel dengan terbata.
"Besok masih ada waktu nak." Rayu Mama.
"Apa benar masih ada waktu?" Ucap Farel dengan ragu. Mata kakak menerawang menatap langit-langit kamar.
"Tentu saja, aku izin tidak masuk kuliah seminggu ini Kak." Sahutku untuk meyakinkan kakak.
"Tapi kakak ingin ngobrol denganmu sayang, sekarang." Aku bergidik setiap kali kakak memanggilku sayang. Entah kenapa rasanya sedikit risih. Mungkin karena aku khawatir Bang Arka akan mendengarnya.
Terlepas dari itu semua, ingatanku mulai berselancar. Sejak kapan kakak memanggilku sayang? Biasanya hanya dengan si cengeng atau kalau ada sayangnya, pasti depannya ada namaku, 'Kay sayang' begitu yang sering ku dengar. Itupun jika dia sedang menjahili aku atau berniat menyuruhku mengambil sesuatu.
Entahlah, tak penting memikirkan itu saat ini.
"Kay tidur sini kak. Besok pagi kakak buka mata, Kay udah ada disini dan kita ngobrol seharian. Sekarang kakak istirahat ya, biar cepet sembuh dan cepet pulang ke rumah lagi." Aku mengusap lengan kakak untuk memberinya pengertian.
Kakakku ini sebenarnya sangat tegas dan cenderung keras, entah kenapa hari ini dia tampak beda. Mungkin kondisinya yang sedang sakit membuat dia sedikit manja dan melankolis.
"Kay, apa kamu bahagia?" Entah kenapa kakak menanyakan hal seperti ini.
Aku sangat paham kemana arah ucapannya. Bang Arka. Pasti karena kedatangan kami berdua tadi. Ini pertama kalinya kakak melihatku bersama Bang Arka. Aku belum sempat mengenalkan mereka dengan benar.
"Aku akan bahagia, jika kakak sembuh dan bersama-sama kita lagi." Jawabku.
"Apa dia memperlakukanmu dengan baik?" Kakak kembali bertanya.
Aku menatap mata Mama. Sama denganku, wajah Mama juga dipenuhi kebingungan.
"Farel, besok kamu boleh menanyai Kay apapun. Benar kan Kay?" Oh gosh, ucapan Mama menjadi penyelamatanku malam ini.
"Iya kak, besok lagi ya. Kay juga ngantuk sebenarnya. Mau istirahat."
"Kakak hanya ingin memastikan satu hal Kay, sebelum kakak beristirahat." Kak Farel tak mau mengalah.
"Jangan memaksa diri Farel. Kamu butuh istirahat agar segera pulih." Mama kembali meyakinkan.
"Sebentar lagi Farel sembuh Ma. Farel gak akan ngerasa sakit lagi. Tenang aja, Ma." Jawab kakak sambil tersenyum pada Mama.
Suara kakak yang terdengar tersendat-sendat, otomatis membuatku dan Mama selalu khawatir. Bagaimana pun kakak akan menjalani operasi besar. Butuh istirahat untuk memulihkan kondisinya.
"Kak, apa yang ingin kakak ketahui? Pasti ini tentang Bang Arka kan?" Aku mencoba memahami keinginan kakak.
Kakak mengangguk dengan lemah namun bibirnya tersenyum. Aku menatap Mama.
"Ma--" Ucapanku menggantung.
Sesungguhnya aku bingung apa yang ingin aku katakan.
"Ceritakan saja apapun yang ingin kakakmu ketahui sayang. Jika itu membuatnya tenang dan segera istirahat, lakukan saja Kay." Mama paham apa yang menjadi keresahanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
RomantikSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
