Aku sungguh tidak bisa menikmati acara ini. Aku ingin segera pulang atau pergi entah kemana untuk meredakan gejolak jiwaku. Aku benar-benar ingin menumpahkan semua air mataku yang sempat ku bendung saat berangkat tadi.
Ah leganya, akhirnya acara ini selesai juga. Acara yang dulu sangat ku nantikan kini menjadi acara yang paling menyebalkan. Jika bukan karena pembagian ijazah, aku pasti tidak kan datang kemari dan menatap wajah yang sudah beberapa hari ini ku hindari.
“Kay,” Danen memanggilku lirih, “selamat atas kelulusanmu.” Lelaki itu menyerahkan buket bunga daisy dipadu mawar merah padaku. Aku melirik bunga itu sekilas, sangat indah.
Hei!! Bodoh kamu Kay! Aku mengumpat pada diriku sendiri saat sadar hatiku berdegup kencang saat menerima bunga dari Danen. Oh ayolah, Kay! Ingatlah dia yang sudah mengkhianatimu. Dia yang sudah main dengan sahabatmu di depan matamu sendiri. Apa kau tidak sadar matamu telah ternoda adegan syur mereka? Apa kau masih mau menggunakan barang bekas? Aku terus merutuki diriku sendiri.
“Makasi. Selamat juga untuk kelulusanmu.” Aku berusaha memasang tampang datar dan paling dingin yang bisa ku buat.
“MIKHAYLA!!” Suara teriakan nyaring terdengar dari belakangku. Aku sudah menebak siapa pemiliknya.
“Sepertinya, lawan mainmu mencarimu tuh Danen.” Sarkasku lirih pada lelaki itu dengan senyum simpul yang ku buat.
Aku membalikkan badan dan menatap tubuh wanita yang pernah berada di bawah tubuh mantan pacarku itu dengan dingin.
“Kalian nih, mojok mulu. Ayo kita foto dulu, Kay, udah dandan cantik gini, sayang dong kalau gak diabadikan. Ayo Danen kamu ikut juga, lumayan kan kita dapet fotografer gratis, ya kan Kay?” Rengek Cindy tanpa jeda saat sudah berada di sampingku. Tangannya bergelayut manja di lenganku. Cih! Menjijikkan. Ini tangan yang sama yang kau gunakan untuk menggerayangi tubuh kekasihku.
Aku terlalu lelah menghadapi mereka berdua. Terlebih Cindy yang bertingkah seakan tidak pernah terjadi apapun. Tanpa penyesalan dan tanpa rasa malu muncul dihadapanku. Cih! Mungkin dikiranya aku tidak tahu apa-apa.
“Kalian berdua sajalah, aku ingin pulang. Ada sesuatu yang harus aku bereskan.” Bahasa tubuhku sudah terlihat tidak nyaman.
“Kau kenapa Kay? Ada masalah apa? Ah kamu mah sekarang gak cerita-cerita kalau ada apa-apa.” Cindy terus mencercaku sambil memelukku.
Aku menarik nafas panjang, berusaha menenangkan hatiku dan menahan gejolak amarahku.
“Aku benar-benar gak bisa.” Aku menjawab singkat.
“Kay.” Yes, untunglah suara meneduhkan itu menyelamatkan aku.
Dewi batinku sedang bersorak. Aku segera menoleh ke sumber suara dan dengan senyum aku menatap Mama dalam, seakan mataku berbicara, Ma tolong bawa aku menyingkir dari dua iblis ini.
“Yuk, kita pulang sayang.” Perlahan Mama menghampiriku dan merengkuh tubuhku. Bahuku dicengkeram kuat, seakan Mama tahu, jika tubuhku mulai melemah. Aku pun mengangguk.
Tiba-tiba aku merasa tubuhku juga dipeluk dari belakang. Ah Papa sudah datang ternyata.
“Ayo, kita rayakan kelulusanmu Kay.” Suara ceria Papa memberiku kekuatan. Ia mencium puncak kepalaku.
“Wah enak sekali. Om, Tante, pada mau kemana sih? Cindy boleh ikut gak?” Si tak tahu malu itu terus menggangguku, “gimana Danen? Kita ikut Kay yuk?” masih saja gadis itu mengoceh tanpa malu. Ups bukan gadis lagi!
Aku hendak mengucapkan penolakan saat suara Papa menyelaku.
“Maaf, tapi sepertinya Om gak bisa ngajak kalian. Kami hanya ingin menikmati waktu bersama keluarga inti saja.” Papa menegaskan setiap kalimatnya.
Tanpa menunggu sanggahan dari Cindy yang saat ini sedang terkejut dengan suara Papa yang terdengar dingin, kami segera melangkah menuju mobil. Namun baru beberapa langkah, Papa membalik badan dan menatap Danen. Jantungku berdetak seakan habis marathon saat ku lihat rahang Papa yang mengeras dan matanya yang nyalang menatap Danen.
“Danen, Om harap ini terakhir kalinya kamu berada dekat dengan Kay. Om tidak ingin melihatmu lagi berada di sekitar Kay. Om sangat kecewa padamu.”
Wajah Danen berubah pucat, seakan tidak ada setetes darah pun yang mengalir pada tubuhnya.
“Maafkan Danen Om, Tante.” Ujar lelaki itu lirih, saat kami mulai melangkah lagi.
Langkah kami kembali terhenti. Giliran Mama yang angkat bicara. Dalam hati aku bersyukur, bukan lagi Papa yang menyerang. Setidaknya kata-kata yang dilontarkan Mama, aku yakin akan lebih lembut.
“Kami sudah memaafkanmu Danen, begitu juga dengan Kay, benar kan Kay? Hanya saja, rasa kecewa kami terlalu besar untuk bisa segera melupakan masalah itu. Jadi lebih baik, kalian tempuh jalan sendiri-sendiri.” Mama tersenyum di akhir ucapannya.
Wajah Danen sudah tak dapat ku lukiskan lagi. Sedangkan si ular betina itu hanya melongo menatap Mama dan Papa. Hah, apa dia sungguh sebodoh itu sampai tidak sadar apa yang kami ucapkan? Atau dia kaget, jika ternyata kami telah mengetahuinya? Kami pun berbalik dan melanjutkan perjalanan kami.
Aku menghela nafas. Ada sesak yang ku rasakan. Inilah akhir hubungan kami. Benar-benar akhir. Namun hatiku terus merasa nyeri, ada kekuatan besar yang seakan meremas tubuhku. Nyeri lain yang berbeda. Aku berusaha menahan air mataku, aku tidak mau dilihat sebagai pecundang yang menangisi setumpuk sampah yang diberi nyawa!
“Menangislah jika itu bisa membuatmu tenang.” Mama membelai rambutku saat kami sudah ada di dalam mobil.
“Sakit, Ma. Sangat sakit. Tapi dia gak berhak dapat air mata Kay.” Aku berusaha mengeraskan hatiku. Sudah cukup aku menangisi sampah itu. Sekarang aku butuh penenangku!
“Kay—“ Papa menghentikan omongannya dan melirikku dari spion.
“Kay gak kenapa-napa, Pa. Tenang aja, Kay bisa lalui ini.” Aku menutup pembicaraan kami yang aku tahu semua omongan ini akan bermuara pada air mataku yang pasti akan tumpah.
Hening menyelimuti kabin dalam mobil. Kami terdiam neresapi pikiran masing-masing. Aku hanya berharap bisa bertemu dengan penenangku, yang sejak tadi sudah mengusik pikiranku. Apakah dia marah dan tersinggung dengan kalimatku? Ah aku ingin membuktikannya!
“Pa, bisakah aku keluar rumah setelah ini? Aku janji tidak akan macam-macam.” Pintaku lirih.
“Kamu mau kemana, Kay?” wajah bingung Mama menatapku.
“Aku hanya ingin menenangkan diri Ma, aku butuh udara segar untuk otakku.”
“Kamu mau ke mana? Biar Papa antar.”
“Aku benar-benar butuh waktu sendiri Pa, mungkin aku mau nonton bioskop.”
“Baiklah, Mama mengizinkan. Tapi berjanjilah, jaga diri dan sayangi diri sendiri.”
“Tapi, sayang—“ Papa menyela.
“Percayalah pada Kay, sayang. Dan dia memang butuh waktunya sendiri.” Bela Mama.
“Terserah kau saja.” Papa akhirnya mengalah.
“Jangan terlalu malam pulangnya Kay dan ingat selalu pesan Mama Papa. Jangan kecewakan kami.” Pesan Papa.
Aku mengangguk dan segera membuang pandanganku keluar jendela. Aku tak ingin Mama dan Papa membaca raut wajahku. Seperti kata Bang Arka, aku ini adalah buku yang terbuka. Karena itu aku yakin, di wajahku saat ini telah tercetak tulisan besar yang berbunyi, SEDANG BERBOHONG.
Mau dong like nya 😁
Bagi kritik dan sarannya juga yaa..
Happy Reading semua ❤💞❤💞
Tetap jaga kesehatan ya..
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
RomantizmSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
