ARKA POV
"Lain kali jika dia melihatnya bersama lelaki itu, suruh dia langsung mendatanginya dan mengusir lelaki itu. Jangan biarkan hal ini terulang lagi Ren!" Aku masih geram saat mengingat laporan yang ku dapat dari Rendi.
Beberapa saat yang lalu, ketika aku baru saja keluar dari kantor Kendrick, Rendi mengabarkan bahwa Mikha sedang bersama mantannya. Lebih tepatnya Mikha menemani mantannya makan.
Hah, menemani? Sialan! Memangnya mereka tidak bisa memberikan laporan yang lebih halus bahasanya? Rasanya jantungku langsung dicengkeram erat. Sesak sekali.
Jika tidak ingat jadwal rapat pagiku, aku pastikan akan segera kembali ke kampus dan menjemput istriku itu. Lebih baik Mikha bersamaku saja di perusahaan seharian. Itu lebih menyehatkan untuk jiwa ragaku!
"Baik Pak. Saya akan menyampaikan pada mereka." Rendi menjawab pintaku.
"Jangan sampai terulang Ren! Aku sangat tidak suka hal seperti ini terulang lagi. Awas saja jika ini terulang." Rasa kesal yang membuncah di dadaku, membuatku ingin terus meluapkan kemarahan ini pada asistenku itu.
Sebenarnya, bukan salah Rendi, hanya saja, ah entahlah, aku mungkin hanya sedang mencari sasaran kemarahanku saja.
"Baik Pak."
Kami berjalan menuju ruang kerjaku. Meski hasil rapat kali ini memuaskan, kinerja karyawan dan keuntungan perusahaan yang terus meningkat tapi itu tidak bisa membuat hatiku tenang. Sungguh, kelakuan Mikha benar-benar membuat moodku berantakan.
"Brengsek!" Tanpa bisa ku bendung lagi, umpatanku meluncur dengan lancar saat aku membuka ruang kerjaku.
Ku buka jas kerjaku dan ku lempar sembarangan ke arah sofa.
"Anak gak ada sopan santunnya. Kamu ngumpat pada Ayah? Sini kamu!"
Langkahku terhenti saat mendapati jasku tersampir dengan rapi pada tubuh Ayah.
Oh shit! Bencana!
Segera ku langkahkan kakiku untuk mengambil jasku dengan segera. Ku peluk tubuh yang tak lagi muda itu untuk sekedar menurunkan amarahnya yang mulai terpancing.
"Maafkan Arka, Yah. Maaf! Arka gak sengaja." Aku terus memeluk tubuh Ayah.
"Cih!" Ayah mencibirku, "apa lagi sekarang?" Tanya Ayah kemudian.
"Menantu Ayah makan bersama mantannya dan juga adik Kendrick." Aku mengurai pelukanku dan berniat untuk mengadu.
Entahlah, aku merasa akhir-akhir ini suka sekali mengadu. Rasanya menyenangkan ada seseorang yang mendengarkan keluh kesahku. Bahkan hanya sekedar bertanya 'ada apa?' itu saja sudah membuat hatiku berbunga.
"Astaga! Dulu jaman bayi kamu dikasih makan apa sih sama ibu? Gini banget jadi laki! Jangan berlebihan Arka!"
"Yah, Arka gak berlebihan. Adiknya Kendrick--"
"Sebut namanya langsung, Ka, Aldrich. Bisa kan? Ribet banget jadi orang."
Aku menggerutu saat mulut Ayah dengan lincahnya menyebut nama sainganku itu. Eh tapi itu dulu, sekarang dia bukan lagi sainganku. Cih!
"Iya, iya." Lebih baik aku mengalah, "Ayah gak tau aja, Aldrich pernah terang-terangan bilang sama Arka, dia masih mencintai Mikha meski dia udah jadi istri Arka. Gimana Arka gak waswas?"
Ayah mendesah sambil menepuk bahuku.
"Pepet terus kalau gitu. Jangan kasih kendor. Isi terus tiap malam." Ayah bangkit dari sofa dan segera menuju meja kerjaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
RomanceSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
